Refleksi dari KHA Pasal 37

Tiap anak yang melanggar hukum, atau dituduh melanggar hukum, tidak boleh diperlakukan dengan kejam atau dengan tindakan yang dapat melukai.

Laksmi Pamuntjak
boy and prison bars
UNICEF/UNI117377/Estey

14 November 2019

Keadilan acap dikaitkan dengan rasa keadilan, dan meski kedua prinsip ini kerap melandasi apa yang kita pahami sebagai ‘rasa kewajaran,’ pada prakteknya mereka mempunyai arti yang berbeda-beda dalam setiap masyarakat. Dan konsensus dalam perkara ini paling sulit dicapai ketika menyangkut anak-anak. Menurut hukum Indonesia, anak di bawah duabelas tahun tak boleh dipenjara. Undang-undang tentang Sistem Peradilan Pidana Anak juga mengedepankan praktek-praktek keadilan restoratif, yang tujuannya adalah merehabilitasi anak dan remaja yang bersalah melalui perbaikan hubungan dengan para korban dan dengan komunitas secara umum.

Namun tak ada satupun tindak kriminal anak di bawah umur yang sama—setiap kasus mengusik atau menyerang rasa keadilan kita dengan cara yang berbeda-beda. Kita merasa tersinggung mendengar kasus-kasus anak atau remaja yang ditangkap, diadili dan dijebloskan ke dalam bui untuk sebuah kasus kejahatan yang tak serius, sebagaimana kita juga tersinggung mendengar kasus-kasus di mana seorang anak atau remaja telah terbukti melakukan kejahatan tingkat berat. Dalam kasus yang terakhir, bagaimana kita bisa membuktikan bahwa sistem dan hukuman pengadilan dewasa tidak layak diterapkan bagi sang pelaku kejahatan? Bahkan ketika pemaafan merupakan sesuatu yang tak mustahil, bagaimana rasa keadilan kita dipenuhi apabila filosofi ‘hidup untuk hidup’ tak bisa diterapkan secara ketat kepada semua pelaku kejahatan berat?

Tentu, tak ada jawaban yang mudah. Namun, apabila kita menerima bahwa remaja dan orang dewasa pada hakikatnya berbeda, itu adalah awal yang baik. Otak remaja belum berkembang secara penuh, begitu kata sains, maka anak pada dasarnya kurang bersalah ketimbang orang dewasa dan punya kapasitas lebih besar untuk memperbaiki diri. Apabila kita menerima pemikiran ini, kita menerima bahwa anak harus dihukum dengan cara yang berbeda dari orang tua, dan diberikan lebih banyak kesempatan untuk mendemonstrasikan bahwa mereka telah insaf atau berubah. Maka dibutuhkanlah kedua sistem—pengadilan dewasa dan sistem keadilan bagi anak muda.

Kedua, kita butuh mengakui efek destruktif penjara orang dewasa pada narapidana muda. Justru karena identitas mereka belum sepenuhnya terbentuk, kriminal muda lebih rentan terhadap perilaku negatif yang merupakan norma dalam lingkungan penjara yang penuh permusuhan dan perseteruan. Kewalahan oleh rasa takut dan rasa putus asa, mereka biasanya memfokuskan diri untuk bertahan hidup di penjara. Sebab itulah harus ada sebuah tempat khusus bagi mereka—sebuah lingkungan di mana mereka bisa mendapatkan masukan mendalam tentang apa yang membuat mereka berpikir dan bertindak begini begitu, dan apa yang harus mereka lakukan apabila mereka ingin mengubah pikiran dan perilaku mereka.

Ketiga, janganlah terlalu cepat menolak kekuatan yang datang dari penebusan dan pemaafan. Banyak orang beranggapan bahwa keadilan restoratif tak ubahnya sekadar sentilan yang tak mengubah apa-apa. Para pelaku kejahatan akan bebas dari segala konsekuensi kejahatan mereka sementara para korban dirisak untuk menerima permintaan maaf yang acap tak memadai dan tak tulus. Namun penebusan dan pemaafan bisa membantu memberi pemulihan dan rasa damai bagi kedua pihak—sesuatu yang belum tentu bisa dicapai sistem peradilan umum. Bagaimanapun juga, nilai tertinggi pemaafan adalah untuk memberdayakan diri, bukan memberdayakan masa lalu.


Meskipun refleksi-refleksi ini terinspirasi dari foto-foto yang menyertai, semua teks itu tidak menggambarkan kehidupan atau kisah siapa pun yang tergambar di dalamnya.


 

Convention on the rights of the child
UNICEFIndonesia/2018/ShehzadNoorani

Pada tahun 1989, pemerintah di seluruh dunia menjanjikan hak yang sama untuk semua anak dengan mengadopsi Konvensi PBB tentang Hak Anak (CRC).

Konvensi menjamin apa yang harus dilakukan oleh negara-negara agar semua anak tumbuh sesehat mungkin, bisa belajar di sekolah, dilindungi, didengarkan pandangannya, dan diperlakukan secara adil.

Untuk Indonesia, sebagai bagian dari memperingati 30 tahun CRC yang jatuh pada bulan November 2019, UNICEF meminta penulis Indonesia Laksmi Pamuntjak untuk membantu kami mewujudkan beberapa artikel CRC ini.

Dengan inspirasi yang didapat dari foto dan gambar yang tersedia di database kami, serta kolaborasi dengan para spesialis program kami, Laksmi menulis 15 teks fiksi pada beberapa artikel yang paling relevan untuk konteks Indonesia.

Meskipun refleksi-refleksi ini terinspirasi dari foto-foto yang menyertai, semua teks itu tidak menggambarkan kehidupan atau kisah siapa pun yang tergambar di dalamnya.