Refleksi dari KHA Pasal 12

Semua anak mempunyai hak untuk menyuarakan pendapatnya dan mempunyai hak agar pendapatnya didengarkan dan dipertimbangkan dalam keputusan-keputusan yang menyangkut dirinya, atau anak-anak lain.

Laksmi Pamuntjak
Your Voice Matters
UNICEFIndonesia/2016/Rodrigo Ordonez

13 November 2019

Diam mempunyai makna yang berbeda-beda bagi setiap orang. Ada yang mendambakan kebisingan sebab hidup mereka terlalu hening. Ada yang mendambakan keheningan sebab hidup mereka terlalu bising. Ada juga yang mendengar suara dalam hening terdalam sekalipun, sebab ada kepedihan tertentu yang bergaung dan berpendar justru karena diam yang terlalu lama ditanggung.

Namun, sama membahayakannya dengan diam yang dipaksakan adalah diam yang telah terinternalisasi, sebagaimana ketika anak-anak tak berani bersuara karena takut dimarahi, atau ketika mereka tak berani bersuara karena tak ada yang menanyakan pendapat mereka. Mereka tak ditanya, misalnya, apakah mereka bersedia dinikahkan pada usia 12 tahun, atau 14 tahun, dengan lelaki yang mereka tak kenal, dengan segala konsekuensinya. Mereka tak ditanya apa saja yang ingin mereka ketahui: tentang tubuh, seksualitas dan pilihan-pilihan hidup yang mereka miliki. Mereka tak ditanya apakah mereka ingin tetap melanjutkan sekolah, yang notabene adalah hak mereka. Mereka tak ditanya apakah mereka senang dan merasa aman di sekolah, atau apakah ada orang yang merisak atau menyakiti mereka. Mereka tak ditanya tentang perasaan mereka, atau bagaimana mereka berpikir tentang keputusan-keputusan yang dibuat atas nama mereka, sebab selalu ada saja yang lebih penting: adat, takhayul, gengsi dan pencitraan, kehormatan keluarga.

“Andai kita saling menyambung,” begitu kutipan dari novel E.M. Forster yang terkenal. Namun tak ada yang lebih sulit ketimbang menaruh sekelompok remaja dan orang dewasa di satu ruangan dan menyuruh mereka ‘saling menyambung.’ Partisipasi dalam arti sesungguhnya harus dapat membuat remaja mengatakan apa yang ingin mereka katakan, dengan cara mereka sendiri. Namun seringkali mereka tak tahu bagaimana berpikir dan berkelakuan seperti orang dewasa. Begitu juga dengan orang dewasa—mereka tak tahu apa yang harus mereka tanyakan, dan bagamana menanyakannya.

Ini bukan berarti tak ada cara. Dewasa ini, ada banyak program yang didesain untuk dimotori oleh remaja, di mana mereka bisa berbicara tentang hal-hal yang mempengaruhi hidup mereka. Sejumlah pendekatan—dari ‘model ekologis’ sampai  

‘batu loncatan,’ dari ‘tukar-statistik’ sampai patung gender’—telah cukup berhasil dalam menjembatani apa yang sebelumnya nyaris tak terjembatani antara remaja dan orang dewasa.

Namun kita tahu bahwa membangun kepercayaan tak bisa sekadar bersandar pada program-program jitu. Yang juga dibutuhkan adalah waktu dan ruang yang cukup untuk merasa nyaman dan membuka diri, serta kebebasan untuk berbicara apa adanya. Sama pentingnya adalah kepercayaan terhadap proses yang berlangsung, dari kedua belah pihak. Bagaimanapun juga, kepercayaan adalah jalan dua arah: untuk menerima kita harus memberi.


Meskipun refleksi-refleksi ini terinspirasi dari foto-foto yang menyertai, semua teks itu tidak menggambarkan kehidupan atau kisah siapa pun yang tergambar di dalamnya.


 

Convention on the rights of the child
UNICEFIndonesia/2018/ShehzadNoorani

Pada tahun 1989, pemerintah di seluruh dunia menjanjikan hak yang sama untuk semua anak dengan mengadopsi Konvensi PBB tentang Hak Anak (CRC).

Konvensi menjamin apa yang harus dilakukan oleh negara-negara agar semua anak tumbuh sesehat mungkin, bisa belajar di sekolah, dilindungi, didengarkan pandangannya, dan diperlakukan secara adil.

Untuk Indonesia, sebagai bagian dari memperingati 30 tahun CRC yang jatuh pada bulan November 2019, UNICEF meminta penulis Indonesia Laksmi Pamuntjak untuk membantu kami mewujudkan beberapa artikel CRC ini.

Dengan inspirasi yang didapat dari foto dan gambar yang tersedia di database kami, serta kolaborasi dengan para spesialis program kami, Laksmi menulis 15 teks fiksi pada beberapa artikel yang paling relevan untuk konteks Indonesia.

Meskipun refleksi-refleksi ini terinspirasi dari foto-foto yang menyertai, semua teks itu tidak menggambarkan kehidupan atau kisah siapa pun yang tergambar di dalamnya.