Pentingnya isu menstruasi di situasi darurat

UNICEF bekerja sama erat dengan mitra PKBI dan pemerintah pusat dan daerah utuk memperluas intervensi Air, Sanitasi, dan Kebersihan secara efektif pascagempa.

Lely Djuhari
Teacher in SMPN 1 Tanjung Lombok
Wilander/UNICEF/2018
03 Juni 2019

Kadek Aristi Widhiari sedang menceritakan saat pertama ia mulai mengalami menstruasi. Berusia 14 tahun, Kadek baru saja melalui masa terberat dalam kehidupannya ketika gempa berkekuatan 7,4 magnitudo menghantam kota tempat tinggalnya, Tanjung, di Lombok, dan memaksa ia dan keluarganya hidup di tenda pengungsian. Yang ia ingat dari menstruasi pertamanya bukan hanya rasa nyeri, tetapi juga frustrasi dan rasa tidak berdaya.

 

“Saya tidak bisa membeli pembalut seperti biasa. Tidak ada toko yang buka setelah gempa,” kata Kadek pada kesempatan diskusi kelompok terpumpun yang diadakan di SMPN 1 Tanjung, tempatnya bersekolah.

 

Tak habis akal, ia merobek popok adik perempuannya dan menggunakannya sebagai pembalut. Dalam diskusi, Kadek juga mendengar pengalaman remaja lain yang meminta bantuan ibu mereka untuk memakai pembalut kain—jenis pembalut yang sudah bertahun-tahun tidak ada di Lombok. Seorang remaja lain bercerita mengenai dilema yang ia alami saat ingin mencuci bersih pembalut bekas tetapi harus menggunakan air minum yang berharga, karena air keran ketika itu tak lagi mengalir. Di Indonesia, mencuci pembalut bekas sebelum membungkus dan membuangnya sudah menjadi kebiasaan.

 

Stefani Rahardini, fasilitator yang didukung oleh UNICEF, dengan lembut mendorong para remaja putri bercerita dalam sesi diskusi yang berlangsung 1 jam. Menurutnya, remaja-remaja ini punya pengetahuan cukup baik mengenai menstruasi. Hanya saja, kebiasaan mereka yang dulu tidak menimbulkan masalah—seperti mencuci bersih pembalut bekas, mengikuti larangan tradisi untuk tidak memakan timun atau minum air dingin saat menstruasi—kini menghalangi mereka bersekolah.

 

“Kembali ke sekolah yang kondisi ruang kelasnya masih rusak sudah cukup sulit, dan orangtua pun masih was-was membiarkan anak bersekolah karena ada gempa susulan,” kata Stefani. “Menstruasi, siklus alami yang terjadi tiap bulan, tidak seharusnya menambah alasan mereka tidak bersekolah.”

 

Stefani juga mengadakan diskusi lain dengan sekelompok guru perempuan untuk mempelajari pengetahuan mereka tentang menstruasi dan seberapa sering mereka berbincang dengan para murid perempuan untuk mengatasi kekhawatiran mengenai menstruasi.

 

Hanya segelintir sekolah di Indonesia yang mendiskusikan menstruasi dengan para murid. Beberapa menjual pembalut di sekolah, tetapi tidak banyak yang punya tempat sampah bertutup sebagai wadah pembuangan. UNICEF hadir mendukung upaya tanggap bencana di Lombok dengan menyediakan fasilitas sanitasi dan sarana belajar untuk semua  sekolah terdampak gempa, serta mendorong masyarakat agar mendukung anak-anak perempuan kembali ke sekolah dan merasa nyaman terhadap tubuh dan diri mereka.

“Kembali ke sekolah yang kondisi ruang kelasnya masih rusak sudah cukup sulit, dan orangtua pun masih was-was membiarkan anak bersekolah karena ada gempa susulan,” kata Stefani. “Menstruasi, siklus alami yang terjadi tiap bulan, tidak seharusnya menambah alasan mereka tidak bersekolah.”

Girls in SMP Negeri 1 Tanjung Lombok
©Wilander/UNICEF/2018
Girls during Menstrual Hygiene activity in SMP Negeri 1 Tanjung Lombok supported by UNICEF Indonesia

UNICEF bekerja sama erat dengan mitra PKBI dan pemerintah pusat dan daerah utuk memperluas intervensi Air, Sanitasi, dan Kebersihan secara efektif pascagempa. Secara konkret, langkah ini meliputi penyediaan toilet sementara, air bersih, dan pembuangan limbah padat serta koordinasi dan pengelolaan informasi mengenai peran setiap pihak terlibat termasuk waktu dan lokasi tempat mereka harus bertindak.

 

Yang tidak kalah penting adalah pengembangan kapasitas promosi kebersihan melalui dinas kesehatan, puskesmas, sekolah, dan kader kesehatan—termasuk dalam hal Manajemen Kebersihan Menstruasi.

 

Menurut Stefani, meningkatkan kesadaran masyarakat adalah langkah awal.

 

“Guru-guru perempuan sendiri tidak menyadari kesulitan yang dihadapi murid perempuan. Murid sendiri biasanya tidak nyaman bercerita soal menstruasi kepada guru perempuan, terlebih guru lelaki,” terang Stefani.

Bersama para mitranya, UNICEF juga akan bekerja sama membagikan perlengkapan kebersihan diri untuk keluarga terdampak bencana, meliputi sabun, toilet, handuk, ember, dan pakaian dalam. Selain itu, tengah berjalan proses evaluasi untuk menilai apakah bantuan tunai bencana bisa dijalankan di Pulau Lombok. Rencananya, uang saku dalam jumlah terbatas akan diberikan pada kelompok rentan agar keluarga bisa membeli keperluannya sendiri, termasuk remaja perempuan yang ingin memilih ukuran dan jenis pakaian dalam dan pembalut.

 

“Saya senang sekarang bisa membeli pembalut di koperasi sekolah,” kata Kadek. Namun, menurutnya, ia masih mencemaskan teman-teman lelaki. Terkadang, mereka merogoh tas sekolah Kadek; apabila menemukan pembalut, pembalut itu akan dipertontonkan ke seisi kelas dan Kadek pun diejek

 

“Kami sudah terkena banyak masalah akibat gempa dan semua dampaknya. Saya mungkin seperti anak kecil, tapi saya akan cari murid perempuan lain yang bisa bantu saya menghadapi anak-anak lelaki itu. Kami pasti bisa,” tutup Kadek penuh tekad.