Pahlawan super di sekitar kita

remaja-remaja Indonesia melawan perundungan di sekolah

Andrew Brown, UNICEF Indonesia
Devi, 15, memeragakan lambang kampanye ‘end violence’ di depan gedung SMP Negeri 3
UNICEF Indonesia/2019/Andrew Brown

22 Juli 2019

KLATEN, Indonesia – Pagi yang cerah mewarnai hari terakhir bersekolah sebelum libur semester dimulai. Lapangan SMPN 3 Klaten ramai dengan murid-murid berseragam yang tengah mengobrol dan bermain. Klaten adalah salah satu kota termiskin di Pulau Jawa, terimpit antara kota Solo dan Yogyakarta yang lebih makmur. Sebagian besar penduduknya adalah petani dan rentan mengalami kemiskinan akibat gagal panen.

Di SMPN 3, sebagian besar murid sibuk merapikan tas, bersiap pulang untuk menyambut liburan. Namun, ada sekelompok murid terdiri dari 16 anak yang masih berada di sebuah ruang kelas. Mereka sedang bersiap mempresentasikan hasil-hasil kerja kampanye anti-perundungan yang mereka lakukan di sekolah. Di dinding, sudah terpasang bagan buatan tangan yang menunjukkan hasil survei perundungan di sekolah, yang diselenggarakan oleh anak-anak ini. Ada pula bagan yang memperlihatkan perasaan anak-anak dan visualisasi ide mereka mengenai cara-cara mencegah perundungan.

Devi Tulak Astuti, murid berusia 15 tahun yang penuh percaya diri, membacakan puisi yang mereka tulis bersama, berjudul ‘Belati Harapan’. “Saat mimpiku terancam, kurasakan semua orang diam. Bahkan langit menatapku muram,” ia berkata. “Tetapi aku akan terus berjalan, belati harapan di tangan. Kuyakin mimpiku bisa diwujudkan.”

Dahulu, Devi adalah sosok yang berbeda. Saat berusia 14 tahun, ia mulai diganggu oleh beberapa anak lelaki di kelasnya. “Mereka mengejek saya karena kulit saya gelap, saya dijuluki ‘serundeng’,” ujar Devi. “Perasaan saya terluka. Saya sakit hati sekali. Saya tidak cerita pada siapapun. Saya merasa ini tidak wajar, bahwa ini salah.”

Bingung bagaimana harus bersikap, Devi mencoba mengejek balik anak-anak itu. “Saya balas mengejek mereka dengan nama-nama perempuan dari video-video di Tik Tok. Yang ada, mereka semakin marah, saya semakin dikata-katai, sehingga keadaan justru semakin buruk.”

Saat program anti-perundungan bernama ‘Roots’ masuk ke sekolahnya, Devi pun sadar mungkin ada cara yang lebih baik untuk mengatasi situasi yang ia alami. Ia segera mengajukan diri untuk ikut serta. “Saya ikut karena saya sendiri mengalami di-bully,” katanya. “Saya ingin membantu mengubah sekolah agar tidak ada murid lain yang mengalaminya.”

Anak-anak dan fasilitator mereka membawakan yel di awal kelas anti--perundungan
UNICEF Indonesia/2019/Andrew Brown
Anak-anak dan fasilitator mereka membawakan yel di awal kelas anti--perundungan

Mencari akar masalah

Program anti-perundungan ‘Roots’, yang didukung oleh UNICEF dan pemerintah kabupaten Klaten, membantu anak-anak seperti Devi menemukan cara yang lebih positif untuk mengatasi perundungan. Program ini diujicobakan di empat sekolah dan kini sudah diperluas ke dua sekolah lain. Anak seperti Devi dipilih oleh teman-temannya menjadi agen perubahan. Bersama guru dan fasilitator dari Lembaga Perlindungan Anak, mereka mencoba mengubah budaya di sekolah.

UNICEF Child Protection Officer Naning Julianingsih menjelaskan bahwa, “Masalah mendasar di sini adalah masyarakat Indonesia tidak menganggap perundungan sebagai masalah serius. Mereka melihatnya sebagai bagian wajar dalam kehidupan anak-anak dan kehidupan bersekolah. Secara sosial, perundungan diterima. Ada juga guru yang menghukum pelaku, tetapi alasan perbuatan itu sendiri tidak diatasi. Program Roots berupaya mengubah itu.”

Fasilitator Roots mengikuti pelatihan yang materinya dirancang pemerintah dengan dukungan UNICEF. Pertama, anak-anak diminta menilai situasi di sekolah mereka menggunakan U-Report, platform dunia maya berbasis media sosial untuk mengadakan jajak pendapat secara anonim. Menggunakan cara ini, di SMPN 3 Klaten ditemukan bahwa 74% murid pernah mengalami perundungan, rata-rata 4 hingga 5 kali sepekan. Jenis-jenis perundungan pun beragam, mulai dari anak dipukul, dicubit, diejek, digosipkan, dan dirundung di dunia maya.

Setelah mengetahui situasi yang ada, fasilitator belajar bekerja bersama anak dan remaja untuk mengubah perilaku negatif menjadi positif. Mereka membantu para murid membuat kampanye sendiri berdasarkan permasalahan yang ada di sekolah mereka. Membuat poster, menyusun rencana kerja untuk melawan perundungan di sekolah, dan mencontohkah perilaku positif adalah contoh bentuk-bentuk kampanye yang bisa dilakukan.

“Kami mendorong para fasilitator untuk mendengarkan anak-anak, mengetahui alasan perundungan, dan mendiskusikan cara-cara mengatasinya,” jelas Naning. “Biasanya, pelaku perundungan mengalami masalah di rumahnya. Mereka meniru perilaku yang mereka lihat dari orangtua atau lingkungan sekitarnya. Jadi, kita perlu tahu dulu sebab sebenarnya di balik perundungan dan mencoba mengatasinya.”

Wancik Ridwan Barari, 23, adalah salah satu fasilitator di sekolah Devi. Wancik sudah lama ingin bekerja dengan anak-anak. “Saya sudah menjadi aktivis anak sejak usia 14 tahun,” katanya. “Di sekolah, saya memimpin Forum Anak-Anak. Saat kuliah, saya mengambil jurusan psikologi. Saya ingin terus terlibat dengan anak-anak, tetapi dengan cara berbeda.”

Pada tahun 2018, Wancik mengikuti pelatihan UNICEF. “Saya belajar keterampilan baru,” katanya. “Saya belajar cara berinteraksi dengan remaja. Caranya berbeda dibandingkan berinteraksi dengan anak yang lebih muda. Saya jadi tahu cara mengatur suasana, menenangkan kelas, menyimak pendapat murid, dan menemukan cerita-cerita perundungan.”

Cuplikan komik karya Rizka yang dibuat berdasarkan pengalaman sang ilustrator dengan perundungan dan program Roots
UNICEF/2019
Cuplikan komik karya Rizka yang dibuat berdasarkan pengalaman sang ilustrator dengan perundungan dan program Roots

Cipta Create!

Ada lagi seorang murid perempuan Indonesia yang melawan perundungan dan menyampaikan pesannya kepada khalayak global. Namanya Rizka Raisa Fatimah Ramli, 18,  asal Makassar, yang tahun lalu memenangi Konteks Komik Pahlawah Super Sekolah yang diselenggarakan UNICEF dan Comics Uniting Nation. Bekerja sama dengan tim ilustrator, ia membuat buku komik untuk membantu anak-anak mengatasi kekerasan dan perundungan di lingkungan sekolah.

Tokoh dalam komik, yang diluncurkan di markas UNICEF di New York, adalah Cipta yang punya kemampuan menghidupkan karakter-karakter yang ia gambar untuk mengalahkan kekuatan tak terlihat dan mengembalikan kedamaian di sekolah. Saat ini, komik tengah diperbanyak dan didistribusikan ke beragam sekolah di seluruh dunia—termasuk Indonesia.

“Dengan menggambar, saya merasa karakter saya hidup dan kuat melawan pelaku perundungan,” kata Rizka. “Saya berharap Cipta bisa membuat anak lain menjadi berani dan mau mengambil sikap. Mudah-mudahan, saya bisa menginspirasi anak lain untuk angkat suara. Dan jika mereka tidak bisa bercerita secara langsung, mereka tetap bisa berkisah melalui gambar.”

Di sekolah Devi, program Roots sudah mulai membuahkan hasil, yaitu menciptakan lingkungan yang lebih positif sebagai tempat belajar. Kepala Sekolah SMPN 3, Purwanta, baru menjabat selama enam bulan. Ia melihat perbandingan positif antara SMPN 3 dengan sekolah lain di Klaten, tempatnya dahulu bekerja.

“Karakter siswa di sini, baik di dalam dan di luar sekolah, berbeda,” terang Purwanta. “Di desa, setiap hari saya memergoki siwa berkelahi. Di sini berbeda sekali. Selama enam bulan di sini, saya belum pernah melihat ada satu pun perkelahian. Sikap siswa kepada sesama siswa dan kepada guru juga sangat berbeda. Mereka saling menghormati dan senang berteman.”

Menurut Purwanta, perbedaan ini tercipta berkat program Roots, yang menurutnya juga berhasil meningkatkan nilai belajar. “Sekolah ini tadinya menduduki peringkat 18 dari 65 sekolah di Klaten. Sejak ada program, kami naik ke peringkat 1,” tambahnya. “Jika anak bahagia di sekolah, mereka juga belajar dengan lebih baik.”

Devi, 15, menunjuk ‘dinding emosi’ yang menunjukkan emosi murid di awal setiap sesi
UNICEF Indonesia/2019/Andrew Brown
Devi, 15, menunjuk ‘dinding emosi’ yang menunjukkan emosi murid di awal setiap sesi program

Bagi Devi, program Roots juga mengajarkannya hal-hal praktis yang bisa langsung ia terapkan. “Saya belajar juga mengurangi keinginan mem-bully atau merespon bullying,” katanya. “Saya belajar satu trik. Saya tutup mata dan bilang: ‘tidak boleh bully, tidak boleh bully.’ Jika saya melihat ada murid yang mem-bully anak lain, saya ingatkan mereka. Setelah tiga kali memberikan peringatan, baru saya laporkan kepada guru.”

Devi sepakat dengan kepala sekolahnya bahwa budaya di sekolah sudah berubah. “Saya tidak melihat perkelahian lagi di sekolah,” katanya .”Murid laki-laki juga berhenti mengata-ngatai saya. Dulu, suasana di sekolah tidak menyenangkan. Sekarang, saya bersemangat pergi sekolah. Saya lebih percaya diri dan nyaman dengan diri saya.”