Menyusui pada masa wabah virus corona (COVID-19)

Wawancara dengan ahli gizi UNICEF

UNICEF
Breastfeeding mom
UNICEF/2019/Ijazah
04 Mei 2020

Pembatasan sosial selama pandemi virus corona (COVID-19) menimbulkan kekhawatiran dan stres bagi banyak orang. Namun, orang tua dengan bayi dan anak memiliki kekhawatiran lain terkait perlindungan yang memadai untuk anak mereka.

 

Apa kira-kira permasalahan paling mendesak terkait bayi dan kondisi gizi mereka?

Saat ini Pemerintah telah mengambil berbagai tindakan untuk menghentikan penyebaran virus corona dengan menghimbau masyarakat untuk menjaga jarak fisik minimal satu meter dari orang lain. Yang kami khawatirkan, pesan ini membuat para ibu menjadi takut untuk menyusui bayi mereka.

Semua bukti menunjukkan bahwa menyusui sangat aman. Faktanya, virus ini belum pernah ditemukan di dalam ASI. Jadi, kami ingin mendorong para ibu untuk melanjutkan pemberian ASI kepada bayi dan anak hingga usia tahun. ASI adalah sumber perlindungan dan gizi terbaik bagi anak karena mengandung antibodi penting dan zat gizi lain yang bisa membantu sistem daya tahan tubuh bayi melawan infeksi.

 

Bagaimana jika ibu menyusui sedang sakit dan memiliki gejala virus corona?

Meskipun memiliki gejala virus corona, seperti demam atau batuk, ibu dapat tetap menyusui. Manfaat pemberian ASI jauh melebihi risiko penularannya. Akan tetapi, tentu Ibu harus mengikuti seluruh praktik yang direkomendasikan untuk mencegah penularan dari ibu ke bayi, ataupun orang lain di rumah. Praktik ini termasuk mencuci tangan dengan sabun selama minimal dua puluh detik, mengenakan masker, dan membersihkan permukaan yang disentuh orang yang sakit.

 

Lalu, bagaimana jika ibu terlalu sakit untuk menyusui?

Secara umum, risiko mengalami sakit parah di kalangan para ibu dan bayi cukup rendah karena usia mereka. Akan tetapi, kita tahu bahwa virus bisa membuat tubuh terasa sangat tidak nyaman, dan beberapa orang dapat menderita sakit yang parah.

Jika seorang ibu merasa terlalu sakit dan lemah sehingga tidak dapat menyusui langsung, maka sebisa mungkin ia dapat memerah ASI-nya. ASI diberikan kepada bayi, baik oleh si ibu sendiri atau dengan bantuan orang lain menggunakan cangkir dan sendok bersih. Apabila hal ini masih tidak memungkinkan, dan jika bisa diterima secara budaya, bayi dapat menerima donasi ASI. Kalaupun semua pilihan ini tidak ada, maka langkah terbaik adalah meminta nasihat dan dukungan dari tenaga kesehatan.

Penting untuk diketahui bahwa susu sapi, susu formula atau susu pertumbuhan  bukanlah pilihan yang tepat untuk sebagian besar bayi dan balita. Susu segar tidak cocok untuk bayi berusia di bawah 12 bulan karena kandungan gizinya yang tidak sesuai dengan kebutuhan bayi. Sementara itu, susu formula berisiko karena mahal harganya serta butuh penyiapan khusus agar aman diminum. Ada kalanya keluarga membuat susu lebih encer agar lebih awet, yang tentunya mengurangi kandungan gizi yang seharusnya dikonsumsi oleh bayi. Selain itu, banyak keluarga tidak memiliki air bersih untuk menyiapkan susu formula atau susu pertumbuhan. Hal ini dapat meningkatkan risiko bayi mengalami diare atau gizi buruk. Selain itu, saat ibu mengurangi atau berhenti memberikan ASI, produksi ASI-nya pun akan turun drastis sehingga lebih sulit bagi ibu bila ingin meneruskan menyusui. Dengan demikian, susu formula adalah opsi terakhir saat Ibu dalam masa pemulihan dari COVID-19, sebelum ibu dapat menyusui kembali hingga bayi berusia enam bulan (ASI eksklusif).

 

Bagaimana keluarga miskin dan kurang beruntung dapat mendukung ibu menyusui?

Ibu menyusui sangat perlu untuk terus mendapat dukungan. Pada situasi normal saja, melahirkan dan merawat bayi bisa menyebabkan stres. Saat ini kecemasan orang tua bertambah dengan masalah pendapatan, makanan, dan masa depan mereka.

Keberhasilan menyusui akan meningkat jika ibu mendapatkan dukungan dari keluarga, misalnya dorongan semangat dan bantuan dalam mengerjakan tugas rumah tangga. Selain itu, jangan lupa untuk menjaga asupan gizi—tanpa adanya pandemi ini pun, ibu menyusui perlu gizi yang baik. Pada masa ini, tidak sedikit keluarga yang harus berjuang untuk bertahan hidup. Dalam masa pandemi ini, membeli pangan sehat untuk ibu lebih baik dibandingkan mengeluarkan uang untuk membeli susu bayi. Pemberian ASI merupakan opsi terbaik untuk bayi dan anak. Hampir semua ibu, termasuk ibu yang kurang gizi, masih bisa menyusui bayinya. Jadi, para Ibu harus tahu bahwa mereka mampu memproduksi ASI dengan kualitas baik untuk bayinya.

 

Bagaimana dengan balita dan anak yang membutuhkan makanan jenis lain?

ASI eksklusif merupakan sumber makanan terbaik untuk bayi selama enam bulan pertama kehidupannya. Namun, setelah mencapai enam bulan, bayi dan anak membutuhkan sumber gizi yang lebih beragam di samping ASI agar bisa tumbuh sehat dan kuat. Telur, daging, ikan, dan ayam adalah sumber-sumber gizi yang baik untuk anak. Namun demikian, di beberapa daerah, bahan-bahan tersebut mahal harganya.

Saat ini merupakan masa sulit bagi banyak keluarga. Tidak hanya dari segi keuangan, tetapi juga dalam hal akses pangan. Bagi keluarga yang masih bisa mendapatkan bahan segar dan punya banyak pilihan, semua bahan makanan yang disebutkan adalah sumber-sumber gizi terbaik bagi anak.

Di sisi lain, kita banyak melihat menurunnya konsumsi pangan segar dan banyak keluarga lebih memilih untuk mengkonsumsi makanan kemasan. Sebagai informasi sebagian makanan kemasan memiliki kandungan gizi yang rendah, baik untuk keluarga secara maupun untuk anak-anak. Makanan seperti biskuit, keripik, mie instan, dan makanan kemasan lain biasanya tinggi garam, gula, dan lemak, tetapi rendah vitamin dan mineral. Begitu pula dengan minuman berpemanis seperti jus, susu berperisa, dan soda. Sebisa mungkin, jaga agar anak terhindar dari makanan-makanan itu.

 

Apa yang harus dilakukan jika bayi atau anak yang masih kecil tertular virus corona?

Semua orang tua tahu bahwa anak sering menderita sakit pada tahun-tahun pertama mereka. Setiap kali mereka sakit, orang tua pasti khawatir. Kabar baiknya, gejala virus corona pada anak-anak yang tertular sepertinya lebih ringan.

Namun, anak yang sakit berisiko kehilangan berat badan dan menjadi lemah. Untuk pulih, anak membutuhkan makanan bergizi, baik saat terjangkit virus corona atau penyakit lain. Bayi bisa pulih lebih cepat jika mendapatkan ASI. Kedekatan antara ibu dan bayi saat proses menyusui biasanya akan menenangkan bayi yang sedang sakit. Pada anak usia enam bulan ke atas yang sakit, mereka membutuhkan makanan tambahan yang bergizi.

Ada kemungkinan anak tidak mau makan saat tubuhnya tidak terasa nyaman. Dalam hal ini, bisa ditawarkan makanan yang menggugah selera makan anak. Pada masa pemulihan, anak perlu mendapatkan asupan makan bergizi lebih banyak untuk menggantikan berat badan yang mungkin hilang.

 

Adakah makanan yang dapat melindungi kita agar tidak tertular penyakit?

Kami melihat ada banyak informasi keliru mengenai makanan atau suplemen tertentu yang disebut-sebut dapat mencegah seseorang dari tertular COVID-19. Klaim-klaim itu tidak benar. Tidak ada makanan atau suplemen yang bisa membuat kita kebal dari COVID-19. Jangan sampai keluarga, terutama yang berpendapatan rendah, menghabiskan uang untuk berbelanja produk-produk tersebut.

Perlindungan paling efektif adalah teratur mencuci tangan, menjaga jarak fisik dari orang lain minimal satu meter jika memungkinkan, dan mengenakan masker, terutama bagi yang sakit. Inilah langkah-langkah terpenting untuk mencegah penyebaran.

Akan tetapi, gizi yang baik juga penting bagi daya tahan tubuh. Terapkanlah pola makan sehat dan terus konsumsi makanan bergizi yang bervariasi untuk memperkuat imunitas tubuh untuk melawan penyakit.

 

Bisakah virus ditularkan melalui pengolahan makanan? Apakah orang tua atau pengasuh lain yang tertular virus corona tetap bisa menyiapkan makanan untuk anak?

Kebersihan adalah faktor yang paling penting. Ingat saja aturan sederhana berikut.

Mulailah dengan mencuci tangan dengan sabun dan air selama 20 detik, lalu bersihkan seluruh permukaan yang akan digunakan untuk menyiapkan makanan. Sebelum memberikan makan, cuci kembali tangan dan tangan anak. Jika bisa, anak menggunakan peralatan makannya sendiri agar tidak tercampur dengan milik orang lain.

Jika ibu atau orang dewasa lain di rumah menunjukkan gejala sakit, mereka wajib mengenakan masker saat memberikan makan atau mengasuh anak, dan segera menghubungi layanan kesehatan.