Menuju dunia pasca COVID-19 yang berkelanjutan serta inklusif dan ramah bagi penyandang disabilitas

Aksi tanggap COVID-19 harus inklusif agar anak dengan disabilitas tidak tertinggal pembelajaran.

UNICEF
Syaiful, 12, a child with a physical impairment, is pushed in a wheelchair by his best friend Kevin Saputra, 9, a child with a visual impairment, as they play outside near Syaiful's house in Banyumas, Central Java, Indonesia.
UNICEF/UNI358816/Ijazah
04 Desember 2020

Pandemi COVID-19 menyebabkan hambatan yang tidak disangka-sangka terhadap kegiatan belajar mengajar. Sebagian besar sekolah di Indonesia saat ini ditutup dan jutaan murid terpaksa belajar secara jarak jauh.

Namun, dampak penutupan sekolah terhadap setiap anak dapat berbeda-beda. Bagi anak dengan disabilitas, yang sudah mengalami tantangan lebih berat, hal ini secara khusus merugikan. Pada tahun 2019, menurut data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2018, terdapat hampir 140.000 anak penyandang disabilitas usia 7-18 tahun yang tidak bersekolah. Selain itu, tidak semua anak dengan disabilitas dapat memanfaatkan solusi pembelajaran jarak jauh (PJJ). Sebagian besar dari mereka tidak memiliki dukungan, akses internet, sarana teknologi, dan materi belajar yang dibutuhkan.

Krisis saat ini memang menimbulkan tantangan besar bagi anak dengan disabilitas dan keluarga mereka. Namun, inilah peluang untuk mengatasi ketimpangan sistemik yang selama ini berlangsung di sektor pendidikan dan yang diperlihatkan secara nyata oleh pandemi.

An empty classroom in MI Keji, Ungaran, Central Java.
UNICEF/UNI358765/Ijazah

Ruang kelas kosong di Madrasas Ibtidaiyah Keji (MI Keji) di Ungaran, Jawa Tengah. Guru-guru di MI Keji telah diberikan pelatihan tentang pendidikan inklusif dan MI Keji memiliki 25 murid dengan disabilitas. Namun, seperti banyak sekolah lain di seluruh Indonesia, MI Keji ditutup pada awal bulan Maret untuk mencegah penularan COVID-19.

Sebelum pandemi, terdapat hampir 3 dari 10 anak dengan disabilitas di Indonesia yang tidak pernah bersekolah. Sementara itu, mereka yang bersekolah menunjukkan kesenjangan besar dalam capaian pendidikan. Hanya 56 persen anak dengan disabilitas yang menamatkan SD. Sebagai perbandingan, tingkat tamat SD pada kelompok anak tanpa disabilitas adalah 95 persen.

Millah, 12, a girl with an intellectual disability and a lower than average IQ score, receives a video call from her teacher, Mintarsih, while studying at home in Ungaran, Central Java.
UNICEF/UNI358762/Ijazah
Millah, 12, a girl with an intellectual disability and a lower than average IQ score, receives a video call from her teacher, Mintarsih, while studying at home in Ungaran, Central Java.
UNICEF/UNI358753/Ijazah

Milah, 12, anak perempuan penyandang disabilitas intelektual, sedang berkomunikasi melalui video dengan gurunya, Mintarsih, sambil belajar di rumah di Ungaran.

Tanpa kegiatan belajar di sekolah, para murid terpaksa mengandalkan ponsel pintar, komputer, dan internet agar tetap dapat berinteraksi dengan guru. Namun, banyak keluarga—terutama yang berpendapatan rendah—yang tidak mampu membeli kuota internet, gawai, dan tinggal di daerah dengan keterbatasan koneksi dan karenanya tidak bisa mengikuti PJJ ataupun mendapatkan informasi penting terkait COVID-19. Jika bisa diatasi, konektivitas yang merata dapat memberikan dukungan luar biasa bagi dunia yang lebih inklusif.

Ika Setyawati (centre), with fellow teachers Nila and Mintarsih, take part in an activity at their school.
UNICEF/UNI358763/Ijazah

Guru-guru Ika, Nila, dan Mintarsih menunjukkan kegiatan yang mereka lakukan untuk berinteraksi dengan anak penyandang disabilitas fisik dan intelektual di kelas. Di sekolah, anak-anak ini umumnya membutuhkan terapi rutin, alat bantu, dan materi ajar. Selama dan setelah pandemi kelak, mereka membutuhkan dukungan yang berkelanjutan untuk mengakses sarana teknologi dan adaptasi pembelajaran untuk memenuhi kebutuhannya.

Syaiful, 12, a child with a physical impairment, studies with his teacher Fatikhatus at his grandfather's home in Banyumas, Central Java.
UNICEF/UNI358858/Ijazah

Syaiful, 12, penyandang disabilitas fisik, belajar didampingi gurunya, Fatikhatus, di rumah kakek Syaiful di Banyumas, Jawa Tengah. Layanan dukungan sosial turut terdampak pandemi, sementara guru tidak dapat memodifikasi metode mengajar. Akibatnya, anak-anak dengan disabilitas semakin sulit menyamai kemajuan belajar anak-anak lain yang sebaya.

Penyiapan dan orientasi guru inklusi harus menjadi bagian dari Pendidikan guru. Selain pedagogi yang berpusat pada murid, pelatihan juga dapat membantu guru-guru dalam bersikap terhadap anak dengan disabilitas. Guru juga dapat disiapkan mendukung keluarga dengan mendorong orang tua agar mengupayakan anak tetap berada di sekolah serta menyampaikan potensi anak kepada orang tua.

Syaiful, 12, a child with a physical impairment, is helped into a wheelchair by his father Surip Untung in Banyumas, Central Java, Indonesia.
UNICEF/UNI358844/Ijazah

Syaiful dibantu menaiki kursi roda oleh ayahnya. Syaiful tidak bisa menggerakkan tubuh bagian bawah ataupun tangan kanannya. Kelangkaan sarana dan materi belajar yang mudah diakses adalah hambatan besar bagi anak dengan disabilitas fisik, intelektual, ataupun belajar. Desain prasarana sekolah yang universal—termasuk sarana akses bangunan, bahan bacaan, dan sarana sanitasi—dapat membantu memenuhi pelbagai kebutuhan anak dengan berbagai jenis disabilitas.

Evan, 10, a child with a disability, replaces the tire on his bicycle outside his home in Jimbaran village.
UNICEF/UNI347429/Ijazah
Trimo talks to his son Evan, 10, a child with a disability, in their home in Jimbaran village, Central Java province, Indonesia.
UNICEF/UNI347444/Ijazah

Evan, 10, menyatakan ia sulit mengikuti PJJ dan merindukan teman serta gurunya. Kedua orang tua Evan bekerja, sehingga tidak bisa membantunya belajar. Perhatian pada sarana pendukung kesehatan mental, fisik, dan sosial-budaya dapat menjadi pendukung penting bagi anak dengan disabilitas dan keluarganya selama dan setelah pandemi.

A janitor disinfects the inside of a classroom as part of COVID-19 prevention measures at SLB AL Fithri special needs school in Bandung, West Java province, Indonesia, on 15 October 2020.
UNICEF/UN0353437/Wilander
Rahmad, 15, a child with an intellectual disability, has his temperature checked by his teacher before entering class at SLB AL Fithri special needs school in Bandung, West Java province, Indonesia, on 15 October 2020.
UNICEF/UN0353442/Wilander
Rahmad, 15, a child with an intellectual disability, washes his hands before entering class at SLB AL Fithri special needs school in Bandung, West Java province, Indonesia, on 15 October 2020.
UNICEF/UN0353441/Wilander
Children with disabilities attend class at SLB AL Fithri special needs school in Bandung, West Java province, Indonesia, on 15 October 2020.
UNICEF/UN0353445/Wilander

Pada bulan Agustus 2020, SLB AL Fithri di Bandung, Jawa Barat, diizinkan dinas setempat untuk membuka kembali sekolah setelah orang tua melaporkan kesulitan membantu PJJ. Kelas hanya dapat diisi oleh satu orang guru dan lima murid—mereka harus mengikuti protokol kesehatan, yaitu mengenakan masker, memeriksa suhu, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

Menurut sebuah survei terbaru, sebagian besar orang tua (81 persen) menyatakan siap mengirim anak kembali ke sekolah. Banyak orang tua (90 persen) yang percaya anak-anaknya bisa mengikuti protokol kesehatan namun banyak pula yang menyatakan bahwa sekolah perlu memiliki kebijakan yang jelas terlebih dahulu dalam hal protokol kesehatan berdasarkan kebutuhan dan kemampuan anak.

Nabila (left), 12, translates a discussion into sign language during a session on health knowledge in response to the COVID-19 outbreak during the National Children's Day celebration in Jakarta.
UNICEF/UNI358625/Wilander

Nabila (kiri), 12, menerjemahkan sebuah diskusi ke dalam bahasa isyarat. Diskusi berlangsung seputar pengetahuan kesehatan terkait respons wabah COVID-19 pada perayaan Hari Anak Nasional di Badan Penanggulangan Bencana Nasional di Jakarta.

Anak dengan disabilitas harus lebih dilibatkan secara bermakna di program-program pembangunan. Program, kebijakan, produk, atau panduan terkait disabilitas tidak seharusnya disusun tanpa melibatkan anak-anak penyandang disabilitas.

Adelia, 9, a student with non-physical disability, Pasuruan, Jawa Timur, learning at home with her mother.
UNICEF/2020/Spin Pro