Menghadirkan perawatan dan asa di hari-hari pertama kehidupan

Bidan-bidan di Maluku Utara belajar cara mencegah kematian bayi yang disebabkan oleh infeksi bakteri berat.

Wahyu Handoyo, Yuliana Hasim dan Adinda Silitonga
IMCI Maluku 1
North Halmahera District Health Office/2020/Billie Bitjoli
26 Februari 2021

Pada bulan Desember 2018, Mita dan suaminya, Yorhen, mengadopsi seorang bayi lelaki bernama Stafeno. Ia lahir pada malam pergantian tahun di sebuah rumah sakit di Tobelo, Maluku Utara. Dilahirkan melalui bedah caesar, Stefano mengalami beberapa masalah kesehatan, seperti kaki O dan kulit kuning. Setelah lima hari Stefano dirawat, Mita memutuskan membawanya pulang ke desa.

Akan tetapi, pada malam pertamanya di rumah, Stefano demam. Ia menolak susu, terdapat lendir di tenggorokannya, kulitnya membiru, dan timbul busa di sekitar mulutnya. Panik, Mita langsung memanggil bidan desa, yang kemudian menghubungi Meri, bidan di desa tempat Stefano lahir.

Meri tiba malam itu juga. Dengan segera, ia memeriksa tanda-tanda vital Stefano. Suhu tubuh bayi itu naik hingga 40°C. Meri juga melihat Stefano kesulitan bernapas. Berdasarkan gejala-gejala yang tampak, Meri yakin Stefano kemungkinan mengalami infeksi bakteri yang berat.

Di Indonesia, 1 dari 67 bayi meninggal dalam 28 hari pertama kehidupan (SDKI, 2017)[1]. Infeksi bakteri berat seperti pneumonia, sepsis, dan meningitis menyebabkan kematian sekitar 60.000 bayi baru lahir setiap tahunnya.[2]  Sepsis merupakan penyebab utama kematian ini dan menyumbang 13 persen kematian bayi baru lahir (SDKI, 2017). Pada banyak bayi yang sakit, sepsis tidak menimbulkan gejala yang spesifik, sehingga infeksi terkadang sulit dikenali.

IMCI Maluku 4

Agar infeksi dapat diatasi, pasien tidak boleh terlambat dirujuk ke fasilitas kesehatan. Akan tetapi, bagi banyak bayi, hal ini menantang, sehingga kondisi mereka justru memburuk, bahkan dapat berujung pada kematian. Jika rujukan tidak tersedia, tindakan di tingkat puskesmas, seperti suntik antibiotik, bisa menjadi penyelamat nyawa.

Saat ini, UNICEF bekerja dengan para tenaga kesehatan di Maluku Utara untuk membantu mereka mengidentifikasi dan mengobati bayi dengan segera. Meri adalah satu dari puluhan bidan yang ikut serta dalam program penguatan perawatan bayi baru lahir yang didukung oleh Bill and Melinda Gate Foundation (BMGF) dan UNICEF. Program ini khususnya berfokus pada perawatan bayi yang mengalami kemungkinan infeksi bakteri berat.

“Dulu, saya kurang percaya diri dalam menangani bayi yang sakit, terutama jika harus memberikan antibiotik,” jelas Meri. “Namun, setelah menyelesaikan pelatihan dan menerima pembinaan, rasanya jadi lebih nyaman dan yakin dengan kemampuan baru saya.”

Meri, yang tahu akibat fatal jika bayi dengan kemungkinan infeksi bakteri tidak segera diobati, membujuk Mita dan Yorhen untuk membawa Stefano ke rumah sakit rujukan. Ia menerangkan bahwa hal ini penting agar Stefano dapat bertahan. Mita dan Yorhen yang sebelumnya menolak pun akhirnya setuju membawa Stefano ke rumah sakit daerah. Dalam perjalanan, Mita berdoa keras agar putranya dapat selamat.

IMCI Maluku 3
IMCI Maluku 1

“Saya takut dan cemas sekali akan keadaan Stefano,” kata Mita. “Saya takut akan kehilangan Stefano saat melihat tubuhnya membiru.”

Setibanya di rumah sakit, para petugas kesehatan sudah siap menyambut. Meri telah menghubungi mereka dan menjelaskan situasinya. Setelah dilakukan pemeriksaan cepat dan proses rujukan diselesaikan, petugas kesehatan pun dapat memberikan perawatan yang dibutuhkan Stefano secara tepat waktu.

Selama 13 hari berikutnya, Mita dan Yorhen berada di rumah sakit, menunggu kabar terbaru mengenai anak mereka. Pada hari ke-14, doa-doa keduanya terjawab. Mita dan Yorhen bahagia menerima kabar dari dokter bahwa Stefano sudah pulih dan dapat pulang ke rumah.

Tak lama setelah pulang, Mita dan Yorhen membawa Stefano ke posyandu untuk menemui Meri. Melihat Stefano dalam keadaan sehat, Meri tersenyum gembira, sementara Mita dan Yorhen pun merasa bangga.

“Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan perasaan saya melihat pasien yang berhasil sembuh,” kata Meri. “Perasaan itu tidak ternilai.”

 


[1] Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia, 2017

[2] United Nations Inter Agency Group for Child Mortality Estimation. Levels and Trends in Child Mortality. New York: UNICEF, WHO, The World Bank, UNDP, 2014.