Mencegah penganiayaan seksual pascagempa di Lombok

Serangkaian gempa bumi yang terjadi di Pulau Lombok pada bulan Agustus menyebabkan 500 orang meninggal, 1.535 cedera, dan lebih dari 350.000 mengungsi.

Lely Djuhari
Children play together at the child protection post in Senaru Village, North Lombok, West Nusa Tenggara.
Wilander/UNICEF/2018
22 Mei 2019

Puspita Sari, 10 tahun, sedang belajar menyanyikan lagu anak-anak. Nadanya ringan, tetapi tidak dengan pesan yang dibawa lagu: tentang bagian tubuh yang hanya boleh disentuh oleh dirinya, tentang cara menghadapi situasi sulit jika ada orang lain yang menyentuh tubuh, dan tentang cara berbicara dengan orangtua atau orang dewasa yang dipercaya.

Teman-teman Puspita, anak usia 5-12 tahun, duduk di atas karpet di ruang ramah anak. Bersama-sama, mereka ikut bernyanyi setelah memainkan kartu bergambar—mencocokkan gambar mana yang merupakan “sentuhan baik” dan “sentuhan jahat” dan “situasi baik” dan “situasi buruk.” Di lingkaran lain, duduk remaja putri dan lelaki usia 13-17 tahun, sedang berdiskusi tentang cara mengenali dan mengatasi penganiayaan seksual.

“Isu ini penting sekali dan saya senang bisa jadi bagian yang menggalang kesadaran mengenai hak-hak anak serta cara mencegah penganiayaan seksual dan eksploitasi dalam situasi pascabencana,” kata Dyta Hamid dari Yakkum Emergency Unit, kelompok setempat dan bagian dari Plan International Indonesia. Ia telah turun tangan setiap hari sejak gempa terjadi di Kecamatan Tanjung, Lombok, Indonesia.

Serangkaian gempa bumi yang terjadi di Pulau Lombok pada bulan Agustus menyebabkan 500 orang meninggal, 1.535 cedera, dan lebih dari 350.000 mengungsi. Total, terdapat 680.000 orang terdampak, atau sekitar 204.000 anak.

Pemerintah Indonesia mengumumkan bahwa bantuan untuk Lombok harus disalurkan melalui Palang Merah Indonesia, lembaga swadaya masyarakat nasional, dan organisasi masyarakat sipil. Sejumlah LSM nasional telah mengatur kegiatan berdurasi tiga hingga enam bulan hingga Maret 2019 yang meliputi penyediaan ruang ramah anak untuk pemberian dukungan psikosial dan perlindungan anak.

 

“Isu ini penting sekali dan saya senang bisa jadi bagian yang menggalang kesadaran mengenai hak-hak anak serta cara mencegah penganiayaan seksual dan eksploitasi dalam situasi pascabencana,”

Dyta Hamid dari Yakkum Emergency Unit
Puspita Sari, 10, showed a picture of the relationship between mother and child while playing in a child protection tent in Senaru Village, North Lombok, West Nusa Tenggara.
Wilander/UNICEF/2018
Puspita Sari, 10, showed a picture of the relationship between mother and child while playing in a child protection tent in Senaru Village, North Lombok, West Nusa Tenggara.

Pemerintah Indonesia mengumumkan bahwa bantuan untuk Lombok harus disalurkan melalui Palang Merah Indonesia, lembaga swadaya masyarakat nasional, dan organisasi masyarakat sipil. Sejumlah LSM nasional telah mengatur kegiatan berdurasi tiga hingga enam bulan hingga Maret 2019 yang meliputi penyediaan ruang ramah anak untuk pemberian dukungan psikosial dan perlindungan anak.

 

UNICEF mendukung kapasitas mitra-mitra kuncinya di pemerintahan tingkat provinsi, kabupaten, dan pusat untuk mengoordinasi tanggap bencana dan memantau dan mengevaluasi situasi terkait perlindungan anak serta dukungan psikososial. Selain itu, dukungan ini akan memastikan bahwa upaya tanggap bencana dilakukan sesuai standar, terutama standar minimal perlindungan anak dalam kegiatan kemanusiaan. Standar mencakup memastikan semua pekerja lapangan terlatih dalam pencegahan penganiayaan seksual dan eksploitasi, termasuk mengetahui mekanisme pelaporan ke instansi yang tepat apabila kejadian penganiayaan seksual melibatkan rekan mereka sendiri.

Dengan mitra lokal dan pemerintah, UNICEF bekerjasama menyertakan program mengenai kekerasan berbasis gender dan pencegahan penganiayaan seksual di semua kegiatan tanggap bencana. Wujud inisiatif ini terlihat dari kegiatan sehari-hari di ruang ramah anak. Selain kegiatan dan permainan yang bersifat menghibur, ada pula kegiatan menggambar dan pelajaran yang bertujuan menanamkan pemahaman tentang hak-hak anak.

Menurut Puspita, “Aku suka lagunya. Kalau ada apa-apa, aku mau bilang ke ibuku. Aku tidak boleh merasa malu.”

Hari-hari setelah bencana, Puspita bercerita ibunya seringkali pergi untuk mencari tahu kabar anggota keluarga yang lain. Sebelum ada ruang ramah anak dan bisa bermain dengan teman-teman sebaya, Puspita menghabiskan waktu sendirian.

Children play together at the child protection post in Senaru Village, North Lombok, West Nusa Tenggara.
Wilander/UNICEF/2018
Children play together at the child protection post in Senaru Village, North Lombok, West Nusa Tenggara. UNICEF will continue to support the integrated child protection secretariat at district level and strengthening of the child protection working group including information management system to ensure identification and response to vulnerability.

Selain membuat program untuk ruang ramah anak, UNICEF juga memiliki peran memastikan mutu penilaian perlindungan anak yang berlangsung selama beberapa pekan pada bulan November. Staf LSM lokal, dilatih oleh UNICEF, menyisir desa-desa untuk mencatat permasalahan perlindungan terkait gender dan disabilitas. Hasil penilaian akan dijadikan masukan bagi proses rekonstruksi dan perencanaan jangka panjang, termasuk cara mengatasi kekerasan berbasis-gender.

Penilaian tersebut mengidentifikasi anak yang paling berisiko terkena pelanggaran hak, termasuk anak dengan disabilitas, anak terpisah dan tanpa keluarga, dan anak tanpa surat-surat kependudukan. Isu gender, khususnya yang terkait perkawinan anak dan kekerasan berbasis gender, dicakup secara spesifik dalam rencana dan pelaksanaan kegiatan.

Lombok  yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah satu dari empat provinsi Indonesia dengan prevalensi perkawinan anak tertinggi di kalangan remaja putri usia 15-19 tahun, yaitu di tingkat 16,3 persen (atau sekitar 32.000 remaja). Meski kemiskinan membuat anak-anak perempuan lebih rentan mengalami perkawinan anak, tetapi pemakluman masyarakat dan budaya tidak mengenal tingkat ekonomi. Pendidikan untuk anak perempuan membantu memberikan mereka peluang lain; pendidikan menjadikan perempuan, anak dan dewasa, lebih percaya diri untuk mendobrak tradisi. Pendidikan juga menunjukkan pada pria bahwa peremuan punya pilihan selain manjalani perkawinan dini untuk melakukan hal yang produktif dan menjadi mandiri.

 

Namun begitu, kerentanan anak perempuan dan keluarga yang mengalami bencana lebih tinggi karena kesempatan bersekolah terkendala akibat banyaknya sekolah yang rusak. Ruang ramah anak menawarkan jalan keluar serta kesempatan mengikuti pendidikan nonformal  agar anak tetap bisa meneruskan kehidupan mereka seperti biasa sementara Lombok berusaha bangkit kembali.