Mempertahankan pelayanan gizi selama pandemi COVID-19

Tenaga gizi di Klaten terus memberikan pelayanan gizi yang penting untuk menjaga anak-anak tetap sehat dan bergizi baik

UNICEF
Dessy provides nutrition counseling to Winda Ika Saputri
UNICEF/UNI329168/Ijazah
22 Mei 2020

KLATEN, Indonesia - Sebelum mengunjungi rumah pasiennya di Desa Paseban, Dessy Sandra Dewi mengenakan pelindung plastik di wajahnya dan mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri. Sebagai tenaga gizi, melakukan kunjungan rumah dan memantau pertumbuhan balita serta memberikan konseling pemberian makan bayi dan anak kepada keluarga merupakan sebuah pekerjaan rutin.

Pandemi COVID-19, bagaimanapun juga, telah mengubah rutinitas yang ada. Seperti banyak tenaga kesehatan lainnya, Dessy merasa khawatir bahwa dia saja bisa terinfeksi virus ini.

“Tantangan terbesar adalah meyakinkan diri kita sendiri untuk terus melakukan pekerjaan,” katanya. "Tidak mudah bagi kita untuk menghalau ketakutan yang ada."

Midwife Sri Budiyati
UNICEF/UNI329147/Ijazah
Bidan Sri Budiyati di Desa Pandes, Klaten, Jawa Tengah.

Walaupun Indonesia telah berupaya kuat untuk mencegah penyebaran COVID-19, kebutuhan untuk terus memberikan dukungan gizi sama pentingnya dengan dukungan yang telah dilakukan pada kondisi sebelumnya. Sebuah survei yang dilakukan pada tahun 2019 menunjukkan bahwa 1 dari 3 balita - berjumlah sekitar 7 juta – mengalami stunting, atau terlalu pendek untuk usia mereka. Lebih dari 1 juta anak mengalami kondisi sangat kurus, yang merupakan beban tertinggi keempat di dunia. Hal ini tidak mengejutkan mengingat bahwa sebagian besar anak berusia 6 bulan hingga 2 tahun tidak mendapatkan asupan makanan untuk pertumbuhan dan perkembangan otak mereka.

“Ketika keluarga mengalami masalah ekonomi karena kehilangan pendapatan dan memiliki akses yang terbatas ke makanan sehat, jumlah balita yang kekurangan gizi di Indonesia akan cenderung meningkat di tengah angka yang memang sudah tinggi,” kata Kepala Unit Gizi UNICEF, Jee Hyun Rah. "Hal ini sangat mengkhawatirkan karena asupan makanan bergizi sangat penting untuk meningkatkan kekebalan tubuh guna mencegah dan melawan COVID-19."

Pada awal pandemi, petugas Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Bayat di Klaten, Jawa Tengah, berupaya keras untuk tetap memberikan layanan walau tanpa panduan pencegahan dan pengendalian infeksi yang jelas. Pembatasan pergerakan juga mempersulit pekerjaan Dessy, mengurangi interaksinya dengan pasien dan seringkali mengharuskannya untuk melakukan kunjungan rumah untuk menangani kasus kekurangan gizi.

Dessy and her colleagues
UNICEF/UNI329165/Ijazah
Dessy dan rekan-rekannya dalam perjalanan melakukan kunjungan rumah di Desa Paseban.

"Kami perlu menjaga diri dan stamina kami, sehingga dalam satu hari, kami hanya dapat melakukan maksimal sepuluh kunjungan rumah per hari," katanya.

Menyadari kebutuhan mendesak untuk dapat beradaptasi, ia dan rekan-rekannya mengambil inisiatif menggunakan media daring untuk berkomunikasi. Kelas ibu, yang biasanya diadakan di Puskesmas untuk mengedukasi dan memberikan konseling bagi ibu hamil dan menyusui, sekarang dilakukan melalui grup di WhatsApp.

“Grup ini memungkinkan kami untuk memantau ibu yang berisiko paling tinggi,” jelasnya. “Ini telah terbukti sangat efektif sebagai pengganti pertemuan tatap muka di kelas Ibu serta konseling.”

Patients sit in an indoor waiting lounge at the Bayat Community Health Centre.
UNICEF/UNI329146/Ijazah
Pasien duduk di ruang tunggu di Puskesmas Bayat. Tempat duduk diatur sesuai dengan prosedur 'physical distancing' untuk mencegah penyebaran COVID-19.

Dengan tetap berhubungan dengan para ibu secara virtual, Dessy dapat memberikan saran kepada orang tua tanpa harus bertemu langsung dengan mereka. Jika mereka tahu seorang ibu berisiko tinggi, mereka akan melakukan tindak lanjut dan mempelajari lebih jauh tentang kondisi mereka, dan menjadwalkan kunjungan rumah. Dengan dukungan dari UNICEF, Dessy dan rekan-rekannya mengembangkan langkah-langkah standar dalam melakukan pelayanan gizi.

"Pertama, kami membuat janji temu secara online dan bersepakat untuk bertemu di luar rumah, seperti di teras, atau di dalam rumah dengan kondisi pintu terbuka," katanya. "Tenaga kesehatan akan menggunakan masker, pelindung wajah dan sarung tangan jika perlu melakukan kontak erat dengan pasien."

Untuk mengurangi risiko infeksi lebih lanjut, kunjungan dibatasi selama 15 hingga 20 menit, dan konseling dilakukan dengan jarak minimal satu meter. Setiap orang yang terlibat harus mencuci tangan.

Whatsapp group
UNICEF/UNI329139/Ijazah
Pertemuan tatap muka yang dibatasi akibat pandemi COVID-19 mengharuskan staf menggunakan Whatsapp untuk mengadakan konseling bagi ibu hamil dan menyusui.

Seorang ibu muda, Winda Ika Saputri, baru-baru ini menghubunginya melalui grup terkait kondisi anaknya yang berusia enam belas bulan, Fariska. Setelah mengetahui bahwa Fariska tidak mengalami kenaikan berat badan selama dua bulan berturut-turut, Dessy memutuskan untuk mengunjungi keluarga Winda. Tidak lupa Dessy menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), membawa timbangan, dan makanan tambahan.

Ketika melakukan kunjungan rumah ke kediaman Winda, konseling dilakukan di teras rumah dengan jarak satu meter. Dessy melihat Fariska terlihat pucat dan tidak aktif dalam gendongan ibunya. Suami Winda sebelumnya bekerja di sebuah situs pariwisata yang ditutup karena pandemi. Keadaan ini menyebabkan keluarga mereka dalam kondisi yang rentan. Kebiasaan makan sehari-hari mereka telah berubah, dan makanan pokok seperti telur dan ikan diprioritaskan untuk anak-anak mereka.

Dengan mempertimbangkan kondisi keluarganya, Dessy mengukur berat badan Fariska dan meminta Winda untuk memberikan lebih banyak makanan yang mengandung protein.  Seminggu kemudian, Winda melaporkan bahwa nafsu makan anaknya telah meningkat, dan Fariska telah terlihat sehat. Hal ini mengurangi kekhawatiran Winda di masa sulit seperti saat ini.

Nutritionist Dessy Sandra Dewi provides nutrition counseling to Iksan Driyana
UNICEF/UNI329167/Ijazah
Tenaga gizi Dessy Sandra Dewi memberikan konseling gizi bagi Iksan Driyana dan anaknya Hasyim yang berusia satu bulan dalam sebuah kunjungan rumah di Desa Paseban, Klaten, Jawa Tengah.

“Saya sangat senang saat Ibu Dessy mengunjungi kami. Kami merasa diperhatikan dengan baik,” kata Winda. "Saya tidak lagi khawatir lagi karena Ibu Dessy sudah datang untuk membantu saya mengatasi masalah anak saya."

Ketika Dessy mendengar kabar serupa dari para ibu di wilayah kerjanya, kecemasan yang tadinya membuatnya resah sejak terjadinya pandemi, pelan-pelan mulai memberinya harapan yang mendorongnya untuk tetap menjalankan tugasnya.

"Ini seperti obat bagi kami, terutama saat melihat para ibu merasa senang mendapatkan bantuan di masa seperti ini,” katanya. "Jika kami takut, siapa lagi yang akan memberikan layanan kepada mereka?"

Winda Ika Saputri holding her 16-month-old daughter Fariska.
UNICEF/UNI329145/Ijazah
Winda Ika Saputri menggendong anaknya, Fariska, 16 bulan.