Melindungi anak dari penyakit menular yang paling mematikan di Indonesia

Dengan kehadiran vaksin yang terjangkau, akan semakin banyak anak yang terlindung dari pneumonia

Suzanna Dayne
A health worker visit
UNICEF/UN0474027/Ijazah
22 Juni 2021

Lombok, Indonesia Ayu Arini terbangun mendengar napas mengi dan sesak dari putrinya yang baru berusia 11 bulan.

“Nada sakit selama beberapa hari, jadi saya sempat berikan obat penurun panas. Tapi, waktu saya lihat dia sulit bernapas, saya jadi khawatir dan segera membawa Nada ke Puskesmas,” kata ibu dua anak ini.

Nada didiagnosis mengidap pneumonia, penyakit menular yang merupakan satu satu penyebab utama kematian balita di Indonesia. Setiap tahun, rata-rata separuh juta anak Indonesia tertular pneumonia dengan angka kematian sekitar rata-rata 10.000 jiwa. Beruntung, Nada tidak terlambat mendapatkan perawatan dan penyembuhannya saat ini berjalan dengan baik.

Di Lombok, kasus seperti yang dialami Nada sudah semakin jarang terjadi berkat pemberian PCV, atau Pneumococcal Conjugate Vaccine, yang ampuh melindungi anak-anak dari 13 jenis bakteri pneumokokus.

Bantuan datang

Lombok sendiri merupakan lokasi percontohan imunisasi PCV yang mulai dilaksanakan pada tahun 2017. Baru-baru ini, persediaan PCV tiba di Lombok, bagian dari strategi perluasan vaksinasi dari Kementerian Kesehatan. Ketersediaan vaksin PCV juga merupakan bagian dari mekanisme Gavi Advanced Market Commitment. Mekanisme ini memungkinkan negara-negara mengadakan vaksin yang penting bagi keselamatan jiwa dengan harga yang secara signifikan lebih rendah, seperti yang dilakukan oleh Indonesia. Pengadaan dilakukan melalui divisi suplai global dari UNICEF.

Di Indonesia, stok PCV kemudian dikirimkan ke pos kesehatan provinsi yang mendistribusikannya ke berbagai Puskesmas melalui dinas kesehatan tingkat kota/kabupaten. Di Mataram, Desak, seorang perawat, segera mengumpulkan vial berisi vaksin untuk diberikan kepada puluhan bayi di bawah usia dua tahun di Poskesdes Pagesangan, Mataram.

Nurse Desak brings the vaccine in a cold box
UNICEF/UN0474025/Ijazah
Pada setiap hari imunisasi, Desak, seorang perawat, membawa vaksin dalam kotak dingin dari Puskesmas Pagesangan ke Poskesdes tempatnya bertugas.

Sebagai bagian dari layanan kesehatan pemerintah, Poskesdes Pagesangan juga melakukan pemeriksaan dan imunisasi rutin lainnya.

“PCV sangat populer di antara para ibu di sini. Dulu, PCV hanya bisa didapatkan jika pasien membayar sendiri dan harganya sangat mahal,” ujar Desak yang sudah bekerja sebagai perawat di tengah-tengah masyarakat Pagesangan sejak 1992. “Saya juga dulu sering melihat kasus pneumonia, tetapi sekarang sudah jauh berkurang,” tambahnya.

Nurse Desak gives PCV
UNICEF/UN0473678/Ijazah
Desak memberikan vaksin PCV kepada Baiq Sakina yang berusia 10 bulan. Ibunya, Trisna, mendengar tentang ketersediaan vaksin melalui media dan memutuskan membawa bayinya untuk diimunisasi.

Fitria Febriani datang ke Poskesdes bersama Achmad, bayi lelakinya yang baru berusia enam bulan. Fitria mendapatkan informasi vaksin dari bidannya.

Fitria holds her son
UNICEF/UN0473681/Ijazah
Fitria dan Achmad setelah menerima vaksin PCV.

“Saya ingin anak saya selalu sehat, jadi saya pastikan vaksinnya lengkap, termasuk PCV.”

Fitria

“Saya sendiri takut jarum, dan anak-anak pasti lebih takut lagi, tetapi vaksinasi hanya sebentar. Tidak apa-apa divaksin demi kesehatan dan agar terlindung dari penyakit mematikan seperti pneumonia,” Fitria menambahkan.

Sementara itu, Baiq Dewi sempat mengira masa-masa ia membawa balita menerima imunisai sudah usai. Segalanya berubah saat ia, di luar dugaan, kembali mengandung pada usia 42 tahun.

“Dulu, tidak ada PCV untuk anak-anak saya yang lebih tua. Para ibu khawatir akan pneumonia. Jadi, saya senang sekali saya bisa melindungi putri bungsu saya, Arumi, dari penyakit ini,” katanya.

Baiq Dewi and baby Arumi
UNICEF/UN0473677/Ijazah
Baiq Dewi dan bayinya, Arumi, anak pertama di keluarganya yang menerima vaksin PCV.

Di Tengah Pandemi COVID-19

Meski dinanti, proses vaksinasi PCV tidak sepenuhnya bebas dari kendala. Pandemi COVID-19 menyebabkan fasilitas kesehatan di tingkat tapak ditutup. Sementara itu, protokol kesehatan melarang kerumunan, sehingga orang tua dan anak tidak bisa berkumpul di Puskesmas.

“Orang tua juga khawatir tertular COVID jika datang ke Puskesmas. Akhirnya, banyak yang memilih tidak datang sama sekali,” kata HM Carnoto, Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Mataram.

“Tetapi, sekarang keadaan sudah berangsur normal. Klinik-klinik mulai beroperasi lagi, orang tua kembali datang agar anak dapat diperiksa kesehatannya dan diberikan imunisasi, dan masyarakat secara umum semakin sadar tentang manfaat PCV.”

HM Carnoto
Senior Health official HM Carnoto
UNICEF/UN0478669/Ijazah
Kabid P2P HM Carnoto percaya vaksinasi PCV sangat penting bagi kesehatan anak-anak di Lombok dan berharap program ini dapat berlanjut serta mencakup lebih banyak anak.

Perlindungan untuk semua anak

Tahun depan, vaksinasi PCV akan digulirkan ke seluruh Indonesia sebagai bagian dari program imunisasi rutin. Indonesia ingin meningkatkan cakupan vaksin PCV sebesar empat juta anak per tahun dan melindungi mereka dari pneumonia. Secara total, anak akan menerima tiga dosis PCV—dosis pertama diberikan pada usia dua bulan, dosis kedua pada usia tiga bulan, dan dosis terakhir pada usia 12 bulan. Bagi anak yang melewatkan jadwal ini, Indonesia akan melaksanakan strategi vaksin “susulan”.

Program tersebut adalah langkah penting untuk memenuhi target kesehatan terkait anak di Indonesia.

“Pneumonia adalah salah satu penyebab utama kematian balita,” kata Sowmya Kadandale, Chief of Health, UNICEF Indonesia. “Percepatan program vaksinasi PCV di Indonesia sangat penting untuk menyelamatkan nyawa anak-anak dan meningkatkan kesehatan mereka.”

Ayu comforts her daughter
UNICEF/UN0474015/Ijazah
Ayu menimang putrinya, Nada. Ayu ingin Nada mendapatkan vaksin PCV setelah Nada sembuh nanti.

Di Mataram, Ayu sedang menunggu Nada sembuh. Setelah itu, ia berencana membawa Nada untuk mendapatkan vaksin PCV.

“Mudah-mudahan, saya tidak perlu lagi melihat Nada sakit seperti ini. Saya ingin Nada tumbuh sehat, pintar, dan sukses… dan punya kesempatan meraih cita-citanya!” kata Ayu sambil tersenyum.