Makan Sehat untuk Tubuh yang Segar

Pola makan di Indonesia

Kate Watson
Radit melempar bola basket ke arah ring
UNICEFIndonesia/2018/KateWatson

16 Oktober 2019

Waktu istirahat pagi tiba di SMAN 1 Klaten. Segera saja, murid-murid meramaikan suasana kantin, berusaha mendapatkan tempat duduk. Tangan-tangan dijulurkan untuk meraih gorengan yang tersaji; suara-suara tumpang tindih menyerukan pilihan makanan yang sudah disiapkan dalam wadah plastik atau semangkuk bakso; dan jus, yang terbuat dari bubuk manis, dituangkan ke dalam kantong-kantong plastik berisi es, air, dan sedotan—ujung plastik kemudian diikat dengan karet gelang. Anak-anak mengambil tempat masing-masing untuk duduk dan mengunyah, menyeruput, dan menelan serta mengobrol singkat sampai waktu istirahat usai.

“Kadang-kadang saya sarapan. Tapi, kadang juga saya bangun terlambat, lalu makan di sekolah,” kata Radit sebelum ia kembali mengikuti pelajaran olah raga. “Kalau di rumah, saya makan nasi dengan sayur dan tempe. Kalau di sekolah, saya makan nasi goreng.”

Untuk banyak remaja, pelajaran olah raga adalah satu-satunya kegiatan fisik yang mereka ikuti dalam satu pekan—itu pun lebih berfokus pada teknis gerakan alih-alih menjaga kebugaran tubuh. Sedikit berbeda, Radit yang berusia 17 tahun adalah siswa yang aktif. Ia bermain bola dengan teman-temannya di waktu senggang dan jogging setiap akhir pekan. Namun begitu, pilihan menu sarapannya tak berbeda dari jutaan anak lain.

Gorengan
UNICEFIndonesia/2018/KateWatson
Gorengan yang tersaji di kantin sekolah

Menurut penelitian kualitatif yang dilakukan UNICEF pada tahun 2017, sekitar separuh remaja Indonesia melewatkan sarapan. Seperti Radit, makanan pertama mereka pada hari itu adalah apa pun juga yang ada di sekolah. Dengan tidak ada peraturan yang menentukan jenis makanan yang dapat dijual, segala yang tersaji diputuskan oleh sekolah atau para penjual di kantin--biasanya masih merupakan kenalan atau berkerabat dengan guru atau karyawan lain.

Ada masalah lain di sini: Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 dan 2010 melaporkan bahwa lebih dari separuh (54%) remaja tidak mengonsumsi sumber energi yang layak. Dengan kata lain, mereka diberikan, atau membuat, keputusan gizi yang tidak baik. Hal ini turut meningkatkan prevalensi obesitas di semua kelompok umur di Indonesia, terutama jika menimbang gaya hidup minim gerak (sedenter) yang semakin meluas.

Di Indonesia, sebanyak 37 persen anak balita mengalami stunting, atau tinggi badan pendek untuk usianya. Sebab itulah, upaya kesehatan umumnya diarahkan untuk mengurangi angka kurang gizi. Akan tetapi, dengan populasi yang bertambah hingga hampir dua kali lipatnya dalam beberapa tahun terakhir, risiko anak, orang dewasa, dan remaja mengalami berat badan berlebih sama besarnya dengan risiko berat badan kurang. Kedua hal inilah yang disebut sebagai beban ganda malnutrisi.

Menurut Ratna Ainung, seorang guru, sebagian besar murid tinggal dalam jarak maksimal 5 kilometer dari sekolah, sehingga mereka dapat bersepeda ke sekolah. Dengan begitu, seharusnya setiap hari mereka dapat melakukan aktivitas yang sehat. Nyatanya, bersepeda dilakukan oleh hanya seperempat murid. “30 tahun lalu, situasinya terbalik,” kata Ratna, yang merasa kemudahan kredit motor adalah penyebabnya sehingga semakin banyak keluarga yang bisa membeli sepeda motor. Ratna merasa banyak orang tidak melihat masalah ini dari sudut pandang kesehatan, walaupun mungkin masih ada sebab lain: jam bersekolah yang panjang. Murid harus masuk ke kelas pada pukul 6.45 pagi. Pelajaran kemudian berlangsung hingga sore hari dengan beberapa kali istirahat. Bisa jadi, hal ini turut menjelaskan mengapa banyak murid yang melewatkan jam sarapan.

 

Di SMAN 1 Klaten, kantin diisi oleh beberapa penjual, termasuk penjual jus buah segar dan hidangan sayur-mayur. Namun, yang paling populer di kalangan murid, pada jam berapa pun, adalah gorengan, nasi goreng, dan minuman manis karena lebih murah, lebih cepat dikonsumsi, dan lebih strategis letaknya.

Radit umumnya lebih suka menyantap sayur daripada gorengan setelah berolahraga. “Lebih segar, kan? Setelah berolah raga, biasanya timbul kantuk. Di kelas pun terasa mengantuk. Sayur membuat tubuh terasa lebih segar.” Namun, ada satu penjual yang letaknya lebih di depan dan Radit pun lebih sering menyantap nasi goreng di sekolahnya sebagai menu sarapan.

Radit bermain bola voli
UNICEFIndonesia/2018/KateWatson
Radit bermain bola voli di sekolahnya di Klaten, Indonesia