Harapan di Tengah Reruntuhan

UNICEF adalah badan PBB pertama yang mengangkut 94 metrik ton pasokan darurat penting melalui jembatan udara dari pulau tetangga, Kalimantan ke area darurat Sulawesi Tengah.

Lely Djuhari - UNICEF Communication Specialist
Sofi walks among the rubble
Wilander/UNICEF/2018

22 Mei 2019

Meski pelan, namun denyut kehidupan mulai kembali di Palu, ibukota provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Satu bulan setelah gempa magnitudo 7,4 dan tsunami menghantam kota pesisir yang dahulu pantainya dijejeri pohon kelapa ini, seorang anak perempuan berusia 11 tahun bernama Sophia Angelica Majid bangun tidur pada suatu pagi yang cerah.

Kamarnya kini berupa tenda dan ia huni bersama sembilan anggota keluarga dan tetangga. Matras berselubung kelambu adalah tempat tidurnya. Pada pagi hari, rutinitasnya kini adalah mandi atau mencuci muka dan tangan dengan sabun serta menggosok gigi dengan air dari wadah besar yang terletak di ujung sebuah lapangan tempat perlindungan sementara. Tenda terpal berwarna putih dan hijau berdiri di sana-sini.

Sophia tidak lagi memiliki tas sekolah yang dulu penuh buku. Laptop-nya yang berisi catatan PR, permaianan, dan film Disney favoritnya Frozen dan Moana, entah berada di mana.

Sophia and her mother
Wilander/UNICEF/2018
Sophia Angelica Majid listens to her mother, and laughs as they share a story while sitting on a mattress. The 11-year-old girl is living with her family and neighbours in a temporary shelter, up on a hill about 2 kilometers from where they used to live on the shoreline of Palu Bay, Indonesia.

Pendidikan adalah hak setiap anak. Ada ratusan dan ribuan anak terdampak gempa bumi dan tsunami di sini. Sudah waktunya mereka kembali bersekolah dan merasakan kembali rutinitas normal
 

Yusra Tebe, Emergency Education Specialist dari UNICEF

Berbekal hanya sebuah buku latihan dan bolpoin, ia bersiap-siap bersekolah untuk hari itu. Ibunya, Evi Majid, mengucapkan selamat jalan sembari sibuk mengisi formulir dari pemerintah yang menyatakan bahwa ia, suaminya, Sophia, dan dua saudara lelaki Sophia dalam keadaan aman. Walaupun begitu, pengalaman ketika mereka berlari mati-matian menyelamatkan diri dari ombak yang menyapu dan menggulung pantai tak akan terlupakan. Sophia bereaksi cepat dan menyambar dua ponsel. Benda itulah yang menjadi penolong keluarganya selama suasana kacau yang mewarnai hari-hari berikutnya ketika mereka mencoba menemukan makanan, minuman, dan informasi tempat mengungsi.

Berjalan kaki 30 menit ke sekolah, Sophia melewati puing dan reruntuhan sementara mobil dan motor menderu lewat seiring dengan pulihnya derap kehidupan kota.

“Aduh, seluruh dinding itu hilang,” Sophia terkesiap saat ia tiba di SDN Inpres II Talise dan menatap, untuk pertama kalinya, pemandangan ganjil di area belakang sekolah yang menghadap ke badan air. “Sedih sekali. Di sana, tadinya ada bangunan-bangunan sekolah. Lalu di sana ada komplek perumahan. Di sana (tepi pantai) seharusnya ada penjual duren. Semuanya sudah lenyap.”
 

Sophia and her mother
Wilander/UNICEF/2018
On the way to school, Sophia passes the area where her house used to stand. According to preliminary data, an estimated 212,000 people have been displaced and over 68,000 homes are either severely damaged or destroyed.

Dari 202 murid di sekolah Sophia, hanya 70 orang dari total murid di keenam jenjang yang muncul pada hari ini. Tak patah semangat, Sophia dan teman-teman duduk di lantai beralas plastik, siap menerima pelajaran.
 

Keadaan masih jauh dari normal. Namun langkah perbaikan telah diambil

UNICEF adalah badan PBB pertama yang mengirimkan perlengkapan kedaruratan esensial seberat 94 metrik ton melalui udara dari pulau tetangga, Kalimantan. Sekolah Sophie adalah salah satu penerima pertama dari total 450 tenda sekolah dan 300 paket belajar yang dikirim. UNICEF berkomitmen menyampaikan bantuan ini ke 1.400 sekolah terdampak, lebih dari 184.000 anak, dan hampir 13.000 guru. UNICEF juga berhasil memberikan pemahaman mengenai standar tenda; 150 tenda tambahan yang diadakan oleh Pemerintah mengacu pada spesifikasi UNICEF.

 

Kepala Dinas Pendidikan Irwan Lahece telah meminta agar kegiatan belajar mengajar dapat berlanjut. Semua sekolah diharapkan mulai beroperasi dari pukul 8 hingga 11 pagi, termasuk satu jam khusus untuk kegiatan psikososial—bernyanyi, bermain, berbicara dalam kelompok ataupun satu per satu dengan guru mengenai apapun juga yang ada di benak para murid.

Akan tetapi, gempa susulan masih terjadi. Tidak sedikit orangtua yang khawatir bahwa, setelah berhasil bertahan hidup, nyawa dan nasib mereka masih terancam. Petugas pemerintah masih mengonfirmasi jumlah anak yang sudah mendapat kembali akses pendidikan. Mereka juga akan bekerja lebih keras untuk membersihkan lingkungan sekolah dari perabot yang rusak, logam yang berserakan, dan pecahan kaca. Masih ada pula tantangan memasang jamban dan sarana cuci tangan di tenda-tenda sekolah dalam beberapa bulan ke depan.

Panas terik di luar tenda, meski belum persis tengah hari, menandai akhir jam belajar. Udara di dalam tenda jauh lebih sejuk seiring dengan guru membuka tutup pada dinding tenda untuk mendapat sirkulasi udara di ruangan seluas 72 meter persegi. Para murid, termasuk Sophia, berdiri berbaris untuk mengambil tas putih UNICEF berisi buku latihan, bolpoin, penggaris, penghapus, rautan, dan krayon.

 

Tas harapan untuk menambah perlengkapan sekolahnya yang tadinya terdiri dari hanya satu buku catatan dan satu bolpoin.
 

“Pendidikan adalah hak setiap anak. Ada ratusan dan ribuan anak terdampak gempa bumi dan tsunami di sini. Sudah waktunya mereka kembali bersekolah dan merasakan kembali rutinitas normal,” kata Yusra Tebe, Emergency Education Specialist dari UNICEF. Dimulainya musim penghujan, tambah Yusra, membuat kesulitan yang dialami masyarat di beberapa tempat bertambah dengan risiko longsor.

Usai sekolah, Sophia dan kakak lelakinya kembali ke rumah mereka—kini tanpa atap, dinding kayu, ataupun pintu. Hanya fondasi semen yang tertinggal, menandai pembagian empat ruangan di rumah itu. Sophia melihat-lihat di bawah reruntuhan, berharap menemukan benda-benda miliknya seperti seragam sekolah, sepatu, atau sandal. Pencariannya nihil. Yang ia temukan adalah baju terusan putih berenda milik temannya, Tasha; temuan itu akan Sophia ceritakan pada sang teman.
 

Dengan upaya tanggap bencana dipimpin oleh Pemerintah, UNICEF siap memberikan dukungan selama waktu dan hari-hari kritis setelah peristiwa darurat di Sulawesi Tengah. Rencana kegiatan selama enam bulan telah selesai disusun. UNICEF kini siap membantu pemerintah, para mitra, dan masyarakat seiring dengan upaya tanggap bencana memasuki tahap pemulihan dini.