Anak-anak Indonesia serukan kebaikan di konferensi nasional

Anak dan remaja menjadi pemimpin kebaikan untuk mengakhiri perundungan di Konferensi Kebaikan Indonesia yang pertama

UNICEF Indonesia
Screenshot of Kindness Leadership Conference
UNICEF/2021
10 Juli 2021

Masih jelas di ingatan Sasa*, 17 tahun, momen ketika ia pertama kali mengalami perundungan. Peristiwa ini berawal di kelas 11. Saat itu, teman-teman sekelasnya kerap mendatangi Sasa untuk menyalin pekerjaan rumah dan mengabaikan apa pun jawaban Sasa. Keadaan memburuk karena teman, bahkan anggota keluarga, mengolok-olok dan memberikan komentar negatif tentang penampilannya.

“Saya merasa tertekan,” kenang Sasa. “Tapi, semua itu saya simpan sendiri. Saya tidak pernah bercerita kepada siapa-siapa sampai akhirnya saya tidak lagi bisa menahan perasaan saya.”

Sasa tidak sendiri. Menurut data terbaru, sekitar 40 persen murid berusia 15 tahun menyatakan mengalami perundungan berulang kali. Jajak pendapat tahun 2018, dilaksanakan oleh UNICEF Indonesia melalui platform U-Report yang menjangkau remaja, menemukan bahwa 45 persen dari 2.777 anak muda usia 14-24 tahun pernah mengalami perundungan di dunia maya.

Perundungan adalah ancaman yang semakin meningkat terhadap perlindungan dan kesejahteraan anak. Untuk mengatasinya, dibutuhkan upaya-upaya baru untuk menyadarkan masyarakat tentang konsekuensi perundungan dan pentingnya empati serta kesadaran bahwa kesejahteraan setiap orang berharga.

Sejalan dengan hal tersebut, UNICEF, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA), dan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menggagas Konferensi Kebaikan Indonesia. Prakarsa baru ini mengundang perwakilan anak muda untuk berbagi pengalaman mereka dengan perundungan dan menghimpun ide-ide untuk menyuarakan kebaikan dan empati di kalangan teman-teman sebaya. Konferensi Kebaikan Indonesia bertujuan memberdayakan anak muda untuk menjadi ‘pemimpin kebaikan’ di lingkungannya dan agar mereka dapat bekerja sama melakukan gerakan-gerakan yang mengusung kebaikan dan empati. Konferensi ini adalah bagian dari kampanye yang lebih luas untuk mengakhiri perundungan dan kekerasan terhadap anak dari Kementerian PPPA, Kemendikbudristek, dan UNICEF.

“Konferensi Kebaikan Indonesia berangkat dari premis sederhana bahwa kebaikan dan empati adalah kunci untuk menjawab masalah-masalah terbesar di dunia,” jelas Derry Ulum, UNICEF Indonesia Education Officer. “Di tengah masa ketika komentar kebencian dan narasi yang memecah-belah sedang marak, kita ingin generasi muda mampu melihat kebaikan dan empati sebagai kekuatan emosional, bukan kelemahan.”

Screenshot of Kindness Leadership Conference 2
UNICEF/2021
Derry Ulum (kiri), UNICEF Indonesia Education Officer, berinteraksi dengan para perwakilan anak muda dalam suatu lokakarya.

Menjelang hari konferensi, U-Report mengumumkan Tantangan Kebaikan untuk mendorong anak-anak muda melakukan sesuatu yang positif, baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain, kemudian mengunggah kegiatan mereka di media sosial. Tantangan Kebaikan mencatat 6.500 entri, dan pemilik entri terbaik dipilih untuk mengikuti Konferensi Kebaikan Indonesia bersama dengan peserta lain yang dipilih dari jaringan-jaringan pemuda.

Konferensi tersebut, yang berlangsung selama tiga hari, diikuti oleh lebih dari 400 anak muda Indonesia. Mereka bergabung dengan panel-panel diskusi tentang berbagai topik, seperti kebaikan dan empati dalam konteks kepemimpinan, menciptakan dampak melalui kegiatan advokasi, dan pendekatan empati untuk mengajarkan disiplin positif sebagai pengganti hukuman. Anak-anak muda juga ikut serta dalam lokakarya yang dipimpin oleh 35 fasilitator dari Mitra Muda dan Forum Anak; mereka belajar cara mempraktikkan kebaikan dan empati.

Gloria, remaja berusia 18 tahun dari Sumba Timur, menyatakan lokakarya tersebut mengajarkannya tentang pentingnya berempati saat mendukung teman yang menghadapi perundungan.

“Saya belajar pentingnya untuk bersikap peduli kepada orang lain dan mendengarkan mereka saat mereka ingin bercerita kepada saya,” katanya. “Teman-teman saya sering bercerita, tetapi saya tidak tahu bagaimana harus menanggapi. Di sini, saya belajar memberikan jawaban yang lebih baik.”

Dalam panel diskusi tentang kebaikan dan empati dalam konteks kepemimpinan, Najwa Shihab, aktivis literasi dan pendiri Narasi TV, menekankan pentingnya mencari kesamaan dan melihat sesuatu hal dari sudut pandang orang lain.

“Pemimpin yang baik bukan pemimpin yang hanya memberikan perintah,” jelasnya kepada peserta. “Mereka juga harus bisa menggerakkan dan menginspirasi, membuat orang lain yakin bahwa kita harus dapat memecahkan masalah bersama-sama.”

Siwon Choi, Duta Regional UNICEF untuk Asia Timur dan Pasifik, bergabung pada sesi tanya-jawab di hari pertama. Ia berharap, peserta akan dapat belajar cara-cara melawan perundungan. Ia juga menekankan bahwa semua orang harus ambil bagian dalam upaya mengakhiri kekerasan terhadap anak.

“Untuk menghentikan perundungan, harus ada kekompakan dengan teman-teman, buat sistem buddy, belajar cara melindungi diri, dan cari tahu tempat meminta bantuan. Perundungan tidak bisa dilawan seorang diri, jadi cari teman atau orang dewasa yang dapat dipercaya dan diskusikan solusinya dengan mereka,” kata Siwon. “Dengan sistem pendukung yang baik, kalian dapat membantu mengakhiri kekerasan di sekolah dan lingkungan sekitar.”

Screenshot of Kindness Leadership Conference 3
UNICEF/2021
Duta Regional UNICEF Siwon Choi menyimak pertanyaan dari Ariel, 17 tahun, pada sesi tanya-jawab.

Setelah konferensi, peserta akan memiliki kesempatan untuk membuat prakarsa serupa di komunitasnya. UNICEF akan memilih sepuluh proyek untuk diberikan pendanaan awal agar prakarsa itu dapat diwujudkan. Arvin, remaja 18 tahun dari Batam, misalnya, sudah berencana mendirikan organisasi di Provinsi Sumatra Utara untuk menyebarkan kebaikan di sekolah-sekolah. Ia bahkan telah merancang logo untuk calon organisasinya.

Bagi Sasa, yang kesulitan bercerita tentang perundungan dengan teman dan keluarga, Konferensi Kebaikan Indonesia menunjukkan bahwa ia tidak sendiri. Setelah melihat ada begitu banyak teman sebaya yang bersedia mendengarkan dan memberikannya kata-kata penyemangat, Sasa tergerak melakukan hal yang sama untuk remaja-remaja di lingkungannya.

“Mudah-mudahan, saya bisa mendorong orang-orang lain dengan masalah yang sama untuk berhenti menyembunyikan sakit hatinya di balik tawa mereka,” kata Sasa. “Saya ingin orang-orang mulai lebih terbuka bercerita tentang masalah mereka dan memperbaiki keadaan.”

 

* Nama diubah untuk melindungi privasi individu bersangkutan.

Tonton Konferensi Kebaikan Indonesia

Hari 1

Hari 2

Hari 3