80 juta anak di Indonesia menghadapi dampak pandemi COVID-19 yang meluas

Laporan baru UNICEF menyoroti dampak berat pandemi terhadap anak dalam setahun terakhir serta mengusulkan langkah aksi untuk upaya penanggulangan dan pemulihan yang lebih berorientasi kepada anak.

20 Agustus 2021
A boy plays with toys
UNICEF/UN0379151/Bea
Dwi Rizky Saputra plays with toys from a recreational kit he received for children affected by COVID-19 at his home in Jombang, Indonesia, on 22 October 2020.

JAKARTA, 20 Agustus 2021 – Lebih dari setahun semenjak COVID-19 pandemi merebak, laporan terbaru UNICEF menyampaikan bahwa 80 juta anak dan remaja di Indonesia menghadapi dampak sekunder yang meluas dari pandemi, yaitu terhadap pembelajaran, kesehatan, gizi, dan ketahanan ekonomi mereka.

Dalam temuan laporan berjudul Menuju Respons dan Pemulihan COVID-19 yang Berfokus pada Anak: Seruan Aksi ini, pandemi dinyatakan menghambat pendidikan jutaan pelajar, membatasi akses penting ke layanan kesehatan, gizi, dan perlindungan, serta menyebabkan keluarga-keluarga harus berjuang keras untuk mempertahankan kondisi keuangannya. Pandemi juga memperparah ketimpangan yang sudah ada, khususnya yang terkait dengan gender, kemiskinan, dan disabilitas, dan hal ini akan berdampak signifikan terhadap perkembangan anak.

“Sudah setahun lebih kita berada di tengah pandemi, dan anak serta remaja di seluruh Indonesia tengah menghadapi situasi normal baru yang menantang,” ujar UNICEF Representative Debora Comini. “Melihat angka kemiskinan meningkat, mayoritas sekolah masih ditutup, dan banyak layanan esensial belum tersedia kembali, kita harus memprioritaskan investasi yang berorientasi kepada kebutuhan anak dan yang mengedepankan pemulihan yang inklusif serta upaya mempersiapkan diri dengan lebih baik untuk mengantisipasi krisis lain di masa mendatang.”

Menurut laporan tersebut, tiga dari empat rumah tangga di Indonesia mengalami penurunan pendapatan selama pandemi, dengan rumah tangga perkotaan mengalami dampak yang lebih signifikan. Pada saat bersamaan, hampir seperempat rumah tangga mengalami kenaikan biaya hidup, sehingga risiko ketahanan pangan turut meningkat.

Dalam hal jam belajar, dengan lebih dari separuh juta sekolah dari seluruh jenjang—PAUD hingga universitas—ditutup, rata-rata durasi pembelajaran jarak jauh di Indonesia bervariasi antara hanya 2,2 dan 3,5 jam per hari. Penutupan sekolah juga meningkatkan risiko anak putus sekolah. Anak-anak di luar sekolah pun menjadi lebih rentan terhadap praktik perkawinan usia anak ataupun praktik lain yang merugikan dan bersifat eksploitasi anak.

Selain itu, perubahan rutinitas sehari-hari akibat pandemi juga berdampak terhadap kesehatan mental dan emosional anak dan remaja. Hampir separuh rumah tangga melaporkan anak mengalami tantangan perilaku, seperti sulit berkonsentrasi (45 persen), mudah marah (13 persen), dan sulit tidur (6,5 persen).

Selanjutnya, laporan UNICEF menemukan bahwa akses ke layanan kesehatan ibu dan anak turun di seluruh Indonesia. Proporsi rumah tangga yang datang ke fasilitas kesehatan untuk imunisasi dan melakukan pemeriksaan KB, kehamilan, persalinan, serta pasca-persalinan turun sebesar tujuh persen secara nasional dan hampir 10 persen di wilayah perkotaan pada tahun 2020.

Akses dan kepatuhan terhadap praktik air, sanitasi, dan kebersihan dasar yang baik juga masih terbatas di daerah-daerah dengan risiko penularan yang tinggi, seperti sekolah dan fasilitas kesehatan. Akibatnya, anak dan kelompok rentan lebih berisiko tertular COVID-19.

Sejauh ini, upaya penanggulangan yang dilakukan pemerintah telah berperan penting dalam memitigasi dampak pandemi terhadap keluarga dan anak. Namun demikian, laporan di atas memberikan beberapa rekomendasi aksi bagi upaya penanggulangan dan pemulihan dari COVID-19 yang lebih berfokus terhadap anak:

  1. Memperluas cakupan dan manfaat program perlindungan sosial yang berfokus kepada anak, agar program dapat diakses oleh seluruh keluarga Indonesia pada masa krisis.
  2. Membuka kembali sekolah segera setelah dimungkinkan sambil tetap menerapkan protokol kesehatan, meningkatkan cakupan dan mutu pembelajaran jarak jauh, dan memprioritaskan akses internet yang universal. Tingkat ketertinggalan pembelajaran juga perlu dikaji sebagai dasar penyusunan program dan kampanye untuk mengatasinya.
  3. Melanjutkan layanan kesehatan esensial, termasuk kampanye imunisasi susulan, dan melanjutkan vaksinasi untuk masyarakat.
  4. Melakukan langkah-langkah perlindungan untuk mendeteksi, mencegah, dan menangani kekerasan terhadap anak dan kelompok rentan lainnya; menyediakan dukungan kesehatan mental dan psikososial untuk semua anak dan pengasuh.
  5. Menguatkan sistem adaptif untuk menyediakan dan memantau layanan gizi demi mencegah hambatan layanan pada masa krisis.
  6. Mempercepat investasi untuk sarana sanitasi dan cuci tangan dan menguatkan kapasitas untuk mempromosikan praktik cuci tangan yang baik di tingkat masyarakat, rumah tangga, sekolah, dan fasilitas kesehatan.

Kontak Media

Kinanti Pinta Karana
Spesialis Komunikasi
UNICEF Indonesia
Tel: +62 8158805842

Additional resources

A girl shows her drawing
Menuju respons dan pemulihan COVID-19 yang berfokus pada anak

Tentang UNICEF

UNICEF mempromosikan hak-hak dan kesejahteraan setiap anak melalui setiap kegiatannya. Bersama dengan para mitra, kami bekerja di lebih dari 190 negara dan wilayah untuk mengubah komitmen itu menjadi aksi nyata dengan fokus untuk menjangkau anak yang paling rentan dan paling terpinggir, demi semua anak, di mana pun mereka berada.

Untuk informasi lebih jauh tentang UNICEF dan kerja-kerjanya, silakan kunjungi: www.unicef.org

Ikuti kami di Twitter dan Facebook