Laporan PBB – untuk pertama kalinya, angka perempuan dan anak yang bertahan hidup capai tingkat tertinggi

Lepas dari kemajuan yang sudah diraih, di dunia, ibu hamil dan bayi baru lahir mengalami kematian setiap sebelas detik. seconds

19 September 2019
Pregnancy checkup
UNICEFIndonesia/2019/FauzanIjazah
Tasya Uruilat (27) checks up her pregnancy at Christina Martha Tiahahu Community Health Center in Ambon.

NEW YORK/JENEWA, 19 September 2019: Angka perempuan dan anak yang bertahan hidup pada hari ini lebih tinggi dari masa-masa sebelumnya, sebagaimana dinyatakan oleh data baru berupa perkiraan mortalitas ibu dan anak yang dirilis hari  ini oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa* yang dipimpin oleh UNICEF dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

 

Sejak tahun 2000, angka kematian anak telah berhasil diturunkan hampir separuhnya dan kematian ibu diturunkan lebih dari sepertiga. Hal ini dicapai terutama melalui perbaikan akses pada layanan kesehatan yang terjangkau dan berkualitas.

 

“Di negara dengan layanan kesehatan yang aman, terjangkau, dan berkualitas, ibu dan anak dapat bertahan hidup dan bertumbuh dengan baik,” terang Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direkur Jenderal WHO. “Inilah kekuatan jaminan kesehatan universal.”

 

Namun demikian, angka perkiraan baru juga mengungkap bahwa terdapat 6,2 juta anak di bawah 15 tahun yang meninggal pada tahun 2018 dan lebih dari 290.000 perempuan meninggal akibat komplikasi kehamilan dan kelahiran pada tahun 2017. Dari total angka kematian anak tadi, 5,3 juta terjadi pada lima tahun pertama kehidupan dan, dari angka ini, separuhnya terjadi pada beberapa bulan pertama kehidupan.

 

Dalam periode selama dan beberapa saat setelah kelahiran, perempuan dan anak merupakan kelompok yang paling rentan. Menurut perkiraan baru tersebut, terdapat 2,8 juta ibu hamil dan bayi baru lahir yang meninggal setiap tahun, atau 1 kematian setiap 11 detik, dengan sebagian besar kematian disebabkan oleh hal-hal yang bisa dicegah.

 

Anak-anak menghadapi risiko kematian pada bulan pertama kehidupan terutama jika kelahiran terjadi prematur atau berat lahir rendah, mengalami komplikasi saat kelahiran, memiliki gangguan bawaan, atau terinfeksi penyakit. Sekitar sepertiga kematian ini terjadi pada hari pertama dan hampir tiga perempatnya terjadi pada pekan pertama kehidupan.

 

“Di seluruh dunia, kelahiran adalah peristiwa bahagia yang dirayakan. Namun, setiap 11 detik, terjadi kelahiran yang berubah menjadi tragedi bagi suatu keluarga,” kata Direktur Eksekutif UNICEF Henrietta Fore. “Kelahiran yang dibantu oleh tenaga persalinan terampil beserta air bersih, gizi yang cukup, obat-obatan dan vaksin dasar, bisa menjadi penentu antara kehidupan dan kematian. Kita harus lakukan segala yang kita mampu untuk berinvestasi pada jaminan kesehatan universal untuk menyelamatkan kehidupan yang berharga.”

 

Ketimpangan di Seluruh Dunia

Data perkiraan baru juga menunjukkan terdapat ketimpangan tinggi di seluruh dunia dengan perempuan dan anak yang berada di kawasan Afrika Sub-Sahara menghadapi risiko kematian yang secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kawasan lain.

 

Bagi perempuan di Afrika Sub-Sahara, angka kematian ibu adalah hampir 50 kali lebih tinggi dan bayi 10 kali lebih berisiko mengalami kematian dalam bulan pertama kehidupan dibandingkan penduduk di negara berpendapatan tinggi.

 

Pada tahun 2018, satu dari 13 anak Afrika Sub-Sahara mengalami kematian sebelum mencapai usia lima tahun—yaitu 15 kali lebih tinggi daripada risiko yang dihadapi seorang anak di Eropa dengan angka kematian anak bawah lima tahun sebesar 1 dari setiap 196 anak.

 

Setiap 1 dari 37 perempuan di Afrika Sub-Sahara menghadapi risiko sepanjang hidup terjadi kematian saat kehamilan atau kelahiran. Jika dibandingkan, risiko sepanjang hidup yang sama yang dihadapi perempuan di Eropa adalah 1 dalam 6500 orang. Kawasan Afrika Sub-Sahara dan Asia Selatan menyumbang sekitar 80% angka kematian ibu dan anak secara global.

 

Negara-negara yang menghadapi konflik atau krisis kemanusiaan seringkali memiliki sistem kesehatan yang lemah, yang artinya perempuan dan anak tidak bisa mengakses layanan kesehatan penting yang bisa menyelamatkan nyawa mereka.

 

Kemajuan dalam penyediaan jaminan kesehatan universal

 

Secara global, telah terjadi kemajuan signifikan dalam penurunan angka  kematian ibu dan anak. Sejak tahun 1990, kematian anak di bawah usia 15 tahun telah diturunkan sebesar 56% dari 14,2 juta kematian menjadi 6,2 juta kematian pda 2018. Kemajuan terbesar diperlihatkan oleh negara-negara di Asia Timur dan Asia Tenggara yang berhasil mencatatkan penurunan kematian anak balita sebesar 80%.

 

Selain itu, dari 2000 hingga 2017, rasio kematian ibu turun sebesar 38%. Dalam hal ini, Asia Tengah dan Selatan* menunjukkan kemajuan terbesar meningkatkan ketahanan hidup ibu dengan menurunkan angka kematian ibu sebesar 60% sejak tahun 2000.

 

Belarusia, Bangladesh, Kamboja, Kazakhstan, Malawi, Maroko, Mongolia, Rwanda, Timor-Leste, dan Zambia adalah beberapa negara yang telah menunjukkan kemajuan berarti dalam penurunan angka kematian ibu dan bayi. Keberhasilan ini dicapai berkat adanya kemauan politik untuk meningkatkan akses pada layanan kesehatan berkualitas melalui investasi pada tenaga kesehatan, penyediaan layanan kesehatan gratis untuk ibu hamil dan anak, dan dukungan pada program keluarga berencana. Sebagian besar negara ini pun berfokus pada layanan kesehatan tingkat primer dan jaminan kesehatan universal.

Kontak Media

Sabrina Sidhu

UNICEF New York

Tel: +1 917 4761537

Kate Rose

Spesialis Komunikasi

UNICEF Indonesia

Tel: +628118714894

Konten multimedia

Mother and daugher health checkup
Harti Liunokas stands holding Nurdi Sela, her one year old daughter, at Pasar Parea Community Health Centre in Dusun Empat, Kupang District.

*These estimates are from two UN reports as outlined below:

About the child mortality estimates

Levels and trends in child mortality: Report 2019

 

The United Nations Inter-agency Group for Child Mortality Estimation (UN IGME) is led by UNICEF and includes WHO, the World Bank Group and the United Nations Population Division.

UN IGME was formed in 2004 to share data on child mortality improve methods for child mortality estimation, report on progress towards child survival goals and enhance country capacity to produce timely and properly assessed estimates of child mortality. For more information visit: http://www.childmortality.org/

About the maternal mortality estimates

 

Trends in maternal mortality: 2000 to 2017

 

The Maternal Mortality Estimation Inter-Agency Group (MMEIG) is led by WHO and includes UNICEF, UNFPA, World Bank Group and the United Nations Population Division. It was established to advance the work on monitoring progress towards UN Development Goals on maternal mortality.  Together, the MMEIG and its Technical Advisory Group have collective expertise in maternal health, epidemiology, statistics, demography, and data collection. We are dedicated to producing the most reliable estimates possible in the most transparent and well-documented way. The MMEIG has produced 9 peer-reviewed sets of maternal mortality. Each set of estimates has progressively built on the previous methodology. For more information visit: www.who.int/reproductivehealth/publications/maternal-mortality-2017/en/

Jelajahi UNICEF

UNICEF mendukung hak dan kesejahteraan setiap anak melalui seluruh progam yang dilakukan. Bersama dengan para donatur, kami beroperasi di lebih dari 190 negara dan wilayah untuk mewujudkan komitmen kami dalam bentuk tindakan nyata. Kami berusaha semaksimal mungkin untuk bisa membantu anak-anak di wilayah yang paling sulit terjangkau, memberikan yang terbaik untuk seluruh anak, di seluruh dunia

Informasi lebih lanjut mengenai UNICEF dan kontribusinya terhadap anak-anak, kunjungi website kami www.unicef.org.

Dapatkan juga informasi terkini dari UNICEF melalui Twitter dan Facebook