Dua pertiga rumah tangga yang memiliki anak kehilangan pendapatannya selama pandemi

Laporan dari UNICEF-Bank Dunia menemukan bahwa orang dewasa di setiap 1 dari 4 rumah tangga yang memiliki anak tidak mengonsumsi makanan selama satu hari atau lebih akibat kehilangan pendapatan

10 Maret 2022
Komang and his wife pose for a picture with their children
UNICEF/UN0473644/Ijazah
Komang dan istrinya, Niluh, berfoto bersama anak-anak mereka, Rendra, 5, dan Komang, 2 bulan, di rumah mereka di Nusa Dua, Bali, Indonesia, pada 31 Mei 2021. Komang, yang bekerja sebagai sopir, kehilangan sekitar 80 persen dari pendapatannya sejak pandemi COVID-19.

NEW YORK, 10 Maret 2022 – Setidaknya dua per tiga rumah tangga dengan anak telah kehilangan pendapatan sejak pandemi COVID-19 melanda dua tahun yang lalu, demikian temuan laporan yang hari ini diluncurkan oleh UNICEF dan Bank Dunia.

Laporan berjudul Impact of COVID-19 on the welfare of households with children, yang menyampaikan temuan berdasarkan data dari 35 negara, mencatat bahwa rumah tangga dengan tiga anak atau lebih memiliki kemungkinan terbesar untuk mengalami kehilangan pendapatan, dengan lebih dari tiga perempat rumah tangga mengalami penurunan pendapatan dibandingkan dengan 68 persen rumah tangga dengan satu atau dua orang anak.

Laporan ini juga mencatat bahwa kehilangan pendapatan telah menyebabkan orang dewasa di 1 dari 4 rumah tangga dengan anak tidak makan selama satu hari atau lebih. Orang dewasa di hampir dari separuh rumah tangga dengan anak dilaporkan melewatkan waktu makan karena kendala keuangan. Selain itu, sebagaimana dinyatakan di dalam laporan, sekitar seperempat orang dewasa di rumah tangga dengan atau tanpa anak dilaporkan telah berhenti bekerja sejak pandemi terjadi.

“Di seluruh dunia, kemajuan cukup baik dalam penurunan angka kemiskinan anak yang telah dicapai dalam beberapa tahun terakhir terancam gagal. Banyak keluarga yang mengalami kehilangan luar biasa besar. Tahun lalu, inflasi mencapai tingkat tertinggi dalam beberapa tahun belakangan, namun lebih dari dua pertiga rumah tangga yang memiliki anak justru menurun pendapatannya. Mereka tidak lagi mampu membeli makanan atau mengakses layanan kesehatan dasar. Mereka juga tidak mampu membayar tempat tinggal. Keadaan ini sangat memprihatinkan, dan rumah tangga termiskin pun makin terdesak dalam kemiskinan,” kata Sanjay Wijesekera, UNICEF Director of Programme Group.

Laporan tersebut juga menemukan bahwa kebutuhan dasar anak-anak tidak terpenuhi, dengan anak di 40 persen rumah tangga tidak terlibat dalam kegiatan belajar apa pun juga selama sekolah mereka ditutup. Mengingat data dikumpulkan pada tingkat rumah tangga, tingkat partisipasi pendidikan pada tingkat individu bisa jadi lebih rendah lagi—terutama bagi anak dari rumah tangga dengan tiga anak atau lebih.

“Gangguan terhadap layanan pendidikan dan kesehatan untuk anak, ditambah dengan dana pribadi yang dikeluarkan untuk biaya kesehatan yang nilainya sangat besar dan yang dialami lebih dari 1 miliar orang, dapat menghentikan laju pembangunan manusia—yaitu, tingkat pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan yang dibutuhkan seseorang untuk dapat menjadi anggota masyarakat yang produktif,” ujar Carolina Sánchez-Páramo, Global Director of Poverty and Equity di Bank Dunia. “Keadaan saat ini dapat membuat ketimpangan makin meningkat selama beberapa generasi mendatang, sehingga menekan potensi seorang anak untuk menjadi lebih sejahtera dibandingkan generasi orang tua atau kakek dan nenek mereka.”

Meskipun rumah tangga dengan tiga anak atau lebih adalah yang paling mungkin mengalami kehilangan pendapatan, rumah tangga kategori ini juga yang paling berpotensi untuk menerima bantuan dari pemerintah—sebanyak 25 persen di antaranya sudah mengakses bantuan dibandingkan 10 persen rumah tangga tanpa anak yang mengakses bantuan. Menurut laporan ini, bagi rumah tangga penerima, bantuan sosial efektif memitigasi dampak negatif dari krisis saat ini.

Laporan juga mencatat bahwa, sebelum COVID-19, satu dari enam anak di seluruh dunia—atau 356 juta—mengalami kemiskinan ekstrem, dengan anggota-anggota rumah tangga berjuang untuk memenuhi kebutuhannya dengan nilai pengeluaran $1,90 per hari. Lebih dari 40 persen anak mengalami kemiskinan sedang. Sementara itu, hampir 1 miliar anak di negara-negara berkembang mengalami kemiskinan multidimensi—angka ini naik sebesar hampir 10 persen akibat pandemi.

UNICEF dan Bank Dunia mendesak perluasan sistem perlindungan sosial untuk anak-anak dan keluarga mereka. Berbagai bentuk dukungan, termasuk penyediaan bantuan tunai dan bantuan untuk semua anak adalah investasi penting agar keluarga-keluarga dapat keluar dari kesulitan ekonomi sekaligus menyiapkan mereka menghadapi goncangan di masa mendatang. Sejak awal pandemi, lebih dari 200 negara atau teritori telah memperkenalkan langkah perlindungan sosial, dan Bank Dunia sendiri telah mendukung negara-negara dengan dana sekitar $12,5 miliar agar upaya perlindungan dapat dilaksanakan untuk 1 miliar orang di seluruh dunia.

 

###
 

Catatan untuk redaksi:

Laporan ini mengolah informasi yang didapatkan dari serangkaian survei via telepon dengan frekuensi tinggi (di 35 negara) dan berfokus hanya pada dampak pandemi terhadap anak. Di dalam laporan, disajikan analisis tentang dampak awal krisis (menggunakan data survei yang dikumpulkan pada periode April hingga September 2020) dan perkembangan dampak selama krisis berlangsung (menggunakan data yang dikumpulkan pada periode Oktober hingga Mei 2021). Kami berfokus pada indikator-indikator penting berikut yang sudah diselaraskan dan memperlihatkan kesejahteraan anak, baik secara individual maupun pada tingkat rumah tangga asal: (i) kehilangan pendapatan dan pekerjaan; (ii) ketahanan pangan (rumah tangga yang melaporkan terdapat anggota dewasa yang tidak mengonsumsi makanan selama satu hari penuh atau melewatkan waktu makan tertentu karena tidak ada dana/sumber daya); (iii) program perlindungan sosial (untuk melihat apakah rumah tangga menerima bantuan pemerintah sejak pandemi dimulai); dan (iv) Pendidikan (partisipasi di dalam kegiatan pendidikan apa pun setelah sekolah ditutup karena COVID-19).

Kontak Media

Georgina Thompson
UNICEF New York
Tel: +1 917 238 1559
Elizabeth Howton
World Bank, Washington
Tel: +1 703 863 4030

Konten multimedia

Nazriadi and Rukyah get ready to take their children to school
Dampak COVID-19 pada Kesejahteraan Rumah Tangga dengan Anak

Tentang UNICEF

UNICEF bekerja di tempat-tempat paling sulit di dunia, untuk menjangkau anak-anak yang paling dirugikan di dunia. Di lebih dari 190 negara dan wilayah, kami bekerja untuk setiap anak, di mana saja, setiap hari, untuk membangun dunia yang lebih baik untuk semua orang.

Ikuti UNICEF di Twitter dan Facebook.

Untuk informasi lebih jauh tentang COVID-19 dan panduan untuk melindungi anak-anak dan keluarga mereka, kunjungi: www.unicef.org/coronavirus

 

Tentang Grup Bank Dunia

Grup Bank Dunia menyediakan pendanaan, pengetahuan global, dan komitmen jangka panjang untuk membantu negara-negara berpendapatan rendah dan menengah mengakhiri kemiskinan, mewujudkan pertumbuhan yang berkelanjutan, dan berinvestasi untuk menciptakan peluang bagi semua. Sejak COVID-19 mewabah, Grup Bank Dunia telah mengerahkan dana sebesar lebih dari $157 miliar untuk melawan dampak kesehatan, ekonomi, dan sosial dari pandemi. Langkah ini merupakan respons krisis yang tercepat dan terbesar dalam sejarah. Dana tersebut telah membantu lebih dari 100 negara menguatkan kesiapan menghadapi pandemi, melindungi kelompok miskin dan pekerjaan, dan memacu pemulihan yang memperhatikan aspek ramah iklim. Bank Dunia juga mendukung lebih dari 50 negara berpendapatan rendah dan menengah , yang separuhnya berada di benua Afrika, mengadakan dan melaksanakan vaksinasi COVID-19, serta menyediakan pembiayaan $20 miliar untuk tujuan yang sama hingga akhir 2022.

Ikuti Bank Dunia di Twitter, Facebook, dan YouTube.