Dengan 23 negara belum membuka kembali sekolah secara penuh, pendidikan berisiko menjadi ‘pemisah terbesar’, seiring pandemi COVID-19 memasuki tahun ketiganya – UNICEF

Makin banyak bukti menunjukkan, angka anak putus sekolah akan meningkat

30 Maret 2022
Students attend class
UNICEF/UN0506772/Ijazah
Students attend class at SMP (junior high school) 1 in Sorong, West Papua Province, Indonesia, on 21 June 2021.

NEW YORK, 30 Maret 2022 – Pandemi COVID-19 memasuki tahun ketiganya dan di 23 negara – rumah bagi hampir 405 juta anak-anak yang bersekolah – sekolah-sekolah belum dibuka kembali sepenuhnya, dengan banyak anak berisiko putus sekolah. Hal ini dinyatakan oleh laporan baru dari UNICEF yang diluncurkan hari ini.

Laporan berjudul Are children really learning? menggunakan data tingkat negara untuk mengetahui dampak pandemi COVID-19 dan penutupan sekolah karena pandemi terhadap anak-anak, serta memberikan analisis terbaru tentang situasi belajar anak sebelum pandemi. Laporan menyampaikan, hampir 147 juta anak kehilangan lebih dari separuh waktu belajar di kelas selama 2 tahun terakhir. Secara total, anak-anak di seluruh dunia kehilangan 2 triliun jam waktu belajar secara tatap muka.

“Saat anak tidak bisa berinteraksi langsung dengan guru dan teman-temannya, pembelajaran mereka terganggu. Saat interaksi dengan guru dan teman-teman sama sekali tidak bisa dilakukan, maka kehilangan pembelajaran itu menjadi permanen,” ujar Catherine Russell, Direktur Ekseutif UNICEF. “Dengan ketimpangan yang makin tinggi dalam hal akses belajar, pendidikan berpotensi menjadi pemisah yang terbesar, bukan penyetara. Saat dunia gagal memberikan pendidikan kepada anak-anak, konsekuensinya akan ditanggung oleh kita semua.”

Selain data mengenai kehilangan pembelajaran, laporan tersebut juga menyatakan, makin banyak bukti menunjukkan bahwa tidak sedikit anak yang tidak kembali ke ruang kelas meskipun sekolah telah dibuka kembali. Data dari Liberia menunjukkan 43 persen murid sekolah negeri tidak kembali saat sekolah-sekolah dibuka lagi pada Desember 2020. Jumlah anak yang tidak bersekolah di Afrika Selatan naik tiga kali lipat dari 250.000 ke 750.000 antara Maret 2020 dan Juli 2021. Di Uganda, sekitar 1 dari 10 anak sekolah tidak kembali bersekolah pada Januari 2022, setelah sekolah-sekolah ditutup selama dua tahun. Di Malawi, tingkat putus sekolah di kalangan murid perempuan di jenjang pendidikan menengah meningkat sebesar 48 persen dari 6,4 persen ke 9,5 persen antara tahun 2020 dan 2021. Di Kenya, survei terhadap 4.000 remaja berusia 10-19 tahun menemukan bahwa 16 persen anak perempuan dan 8 persen anak lelaki tidak kembali ke sekolah saat sekolah-sekolah mereka kembali dibuka.

Anak-anak yang tidak bersekolah termasuk kelompok anak yang paling rentan dan termarjinalkan di masyarakat. Mereka merupakan kelompok yang paling kecil kemungkinannya dapat membaca, menulis, atau berhitung dasar, dan mereka tersisih dari jaring pengaman yang disediakan oleh sekolah. Akibatnya, mereka lebih berisiko mengalami eksploitasi dan kemiskinan serta deprivasi di sepanjang hidupnya.

Selain itu, laporan juga menyoroti bahwa meskipun anak-anak yang tidak bersekolah mengalami kehilangan yang terbesar, data pra-pandemi dari 32 negara dan teritori menunjukkan tingkat pembelajaran yang sangat memprihatinkan. Situasi ini sangat mungkin telah diperparah oleh skala kehilangan pembelajaran akibat pandemi. Di negara-negara yang dianalisis, kecepatan pembelajaran saat ini sangat lambat dan diperkirakan dibutuhkan tujuh tahun bagi sebagian besar anak bersekolah untuk mempelajari kemampuan literasi dasar, yang seharusnya bisa dikuasai dalam dua tahun, dan 11 tahun untuk mempelajari kemampuan numerasi dasar.

Dalam banyak kasus, tidak ada jaminan bahwa anak bersekolah dapat mempelajari pengetahuan dasar apa pun. Di 32 negara dan teritori yang dianalisis, seperempat murid kelas 8—murid berusia sekitar 14 tahun—tidak memiliki kemampuan literasi dasar dan lebih dari separuhnya tidak memiliki kemampuan numerasi yang seharusnya dikuasai oleh murid kelas 2, atau anak berusia sekitar 7 tahun.

“Sebelum pandemi pun, anak-anak yang paling termarjinalkan sudah tertinggal. Sekarang, pandemi memasuki tahun ketiganya, dan kita tidak bisa kembali ke situasi “normal”. Kita butuh normal yang baru: anak-anak pergi ke sekolah, dinilai tingkat pembelajarannya, memberikan mereka dukungan intensif yang mereka butuhkan untuk mengembalikan pembelajaran yang hilang, dan memastikan guru memperoleh pelatihan dan sumber daya yang mereka butuhkan. Risikonya terlalu besar jika hal-hal ini tidak dilakukan,” kata Russell.

 

### 

Catatan untuk redaksi: 

Sumber: UNESCO UIS, Uganda National Examination Board Study (2021)

Anak  tidak sekolah didefinisikan sebagai anak usia sekolah dasar dan menengah yang tidak terdaftar di  layanan pendidikan. Mereka berbeda dari anak-anak yang sekolahnya ditutup, baik secara sebagian maupun sepenuhnya, akibat COVID-19.[1]

Laporan Apakah anak-anak benar-benar belajar? tidak menampilkan data tentang Indonesia.

Namun, data yang tersedia secara lokal untuk Indonesia menunjukkan bahwa jumlah anak tidak sekolah di Indonesia diperkirakan sekitar 4,1 juta (Susenas, 2020) – angka yang terus meningkat karena dampak sosial ekonomi dari pandemi COVID-19 khususnya pada rumah tangga miskin.

Pemantauan nasional baru-baru ini yang dilakukan oleh UNICEF dan otoritas pemerintah desa yang meliputi 123.235 anak (7–18 tahun) di lebih dari 112.000 keluarga miskin di 33 dari 34 provinsi di Indonesia, menunjukkan bahwa:

  • Terdapat penambahan satu persen (1.243) anak putus sekolah sejak Maret 2020.
  • 3 dari 4 anak yang terdaftar di sekolah diidentifikasi memiliki setidaknya satu faktor risiko yang dapat menyebabkan mereka putus sekolah, seperti kebutuhan untuk bekerjadengan upah untuk membantu keluarga mereka, kewajiban untuk merawat adik-adik dan kurangnya fasilitas pembelajaran jarak jauh agar mereka dapat terus belajar.

 


[1] Sumber: UNESCO UIS, Uganda National Examination Board Study (2021)

Kontak Media

Georgina Thompson
UNICEF New York
Tel: +1 917 238 1559

Konten multimedia

Seorang siswi sekolah dasar sedang mengacungkan tangan di kelas.
Are Children Really Learning?

Menjelajahi keterampilan dasar di tengah krisis pembelajaran

Tentang UNICEF

UNICEF bekerja di tempat-tempat paling sulit di dunia, untuk menjangkau anak-anak yang paling dirugikan di dunia. Di lebih dari 190 negara dan wilayah, kami bekerja untuk setiap anak, di mana saja, setiap hari, untuk membangun dunia yang lebih baik untuk semua orang.

Untuk informasi lebih jauh tentang UNICEF dan kerja-kerjanya, kunjungi: www.unicef.org

Ikuti UNICEF di TwitterFacebookInstagram, dan YouTube.