Saat nenek dan kakek mengambil alih peran orang tua

Pekerja sosial membantu para nenek dan kakek yang harus membesarkan cucu-cucu yang kehilangan orang tua akibat COVID-19

Laksmi Pamuntjak
Putera and his grandmother.
UNICEF/UN0566465/Ose
11 Januari 2022

Sore itu, matahari bersinar terik menyinari desa yang lengang. Putera, 11 tahun, sedang duduk di lantai rumahnya, membungkuk di atas buku catatan. Anak pendiam dengan wajah mungil dan tatapan yang sulit diterka maknanya itu tengah berkonsentrasi penuh.

Siska, gurunya, duduk di seberang meja. Sejak sekolah-sekolah kembali dibuka, Siska datang tiga kali seminggu ke rumah Putera untuk memberikan les tambahan. Hari ini, mereka belajar pelajaran kesukaan Putera, yaitu matematika.

“Sekolahnya pasti yang mengadakan (les),” kata Surati, 71 tahun, nenek Putera, sambil memandang cucunya dengan bangga. Ia sendiri buta aksara, tambahnya, dan sama sekali tidak terlibat dalam kegiatan sekolah. “Saya yakin, ini karena Putera murid yang baik, lagipula ia yatim piatu.”

Putera dan gurunya, Siska.
UNICEF/UN0566433/Ose
Putera mendapatkan les tambahan dari gurunya, Siska, yang datang ke rumah.

Meski suasana sore itu tampak ceria, kehidupan tak demikian bagi Putera. Ia kehilangan ibunya saat usianya belum genap satu tahun, lalu ayahnya beberapa bulan yang lalu akibat COVID-19. Semenjak itu, Putera tinggal dan diasuh oleh sang nenek. Ia memiliki kakak-kakak, namun mereka tinggal di kota berbeda dan jarang berkunjung.

Surati sendiri telah lebih dari tiga puluh tahun menjanda. Enam anaknya yang masih hidup telah pergi merantau dan kini berada di berbagai kota di Indonesia. Dalam hal pengasuhan cucunya, Surati tak merasakan perubahan berarti.

“Waktu ayahnya masih hidup juga saya yang mengasuh dia,” kata Surati yang disambut anggukan Putera. “Dari dulu cuma ada saya sama mbah,” timpalnya.

Putera dan neneknya, Surati.
UNICEF/UN0566424/Ose
Putera dan neneknya, Surati.
Foto keluarga Putera saat bayi bersama kedua orang tuanya.
UNICEF/UN0566423/Ose
Foto keluarga Putera saat bayi bersama kedua orang tuanya.

Tumbuh besar tanpa orang tua bukan satu-satunya kesulitan yang harus dihadapi Putera selama ini. Ketika lahir, ayahnya memberikan nama yang tidak lazim, sehingga ia pun tak henti-hentinya diejek oleh teman-temannya di sekolah. Baru-baru ini, ia berhasil mengubah namanya secara resmi.

Proses mengganti nama tak sebentar, bahkan mungkin akan memakan waktu jauh lebih lama dan rumit apabila tidak ada bantuan dari tim pekerja sosial yang bekerja tanpa mengenal lelah. Keterlibatan mereka adalah bagian dari Pusat Kesejahteraan Sosial Anak Integratif PKSAI), program Kementerian Sosial yang didukung oleh UNICEF. PKSAI menyediakan layanan kesejahteraan dan perlindungan anak, khususnya anak-anak yang paling rentan.

Putera sedang mengerjakan tugas di sekolah bersama teman-teman sekelas.
UNICEF/UN0566432/Ose
Putera sedang mengerjakan tugas di sekolah bersama teman-teman sekelas.

Selama didampingi oleh petugas PKSAI, Surati dan Putera kemudian mengandalkan salah seorang pekerja sosial bernama Januri. Januri tidak hanya mengawal proses hukum untuk mengganti nama Putera dan bertindak sebagai saksi mewakili Surati, tetapi juga konsisten menemani Putera—baik di dalam dan di luar ruang sidang. Sejak level pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) diturunkan, Januri pun lebih leluasa mengunjungi Putera di rumahnya dari waktu ke waktu.

Lepas dari segala kesulitan yang dihadapi, Surati tetap optimistis memandang masa depan cucunya. “Saya nggak tahu berapa lama lagi saya akan hidup, tapi saya tahu banyak yang sayang sama Putera. Putera pasti ada yang menolong. Pak kepala polisi saja mau mengadopsi dia.”

Meski keyakinan Surati melambangkan harapan, namun Januri mengingatkan bahwa, sebagai lansia, pada suatu ketika Surati akan kesulitan menghadapi proses tumbuh kembang cucunya. Tak mudah bagi lansia untuk mengatasi duka kehilangan anak, sekaligus harus mengasuh cucu secara penuh waktu. Dengan demikian, lansia seperti Surati membutuhkan dukungan yang disesuaikan dengan kebutuhannya. Ini berarti dukungan kesehatan mental dan psikososial, serta dukungan untuk pendidikan dan kebutuhan sehari-hari dari para cucu dalam asuhan mereka.

“Pengasuh yang sudah berusia lanjut dan buta aksara seperti Ibu Surati termasuk orang-orang yang paling rentan” ujar Januri. “Apalagi kalau mereka sendirian dan dukungan dari anggota keluarga lain sangat minim. Saya ikut senang mereka saat ini mendapatkan dukungan finansial dan banyak orang yang peduli kepada Ibu Surati dan Putera. Saya bersyukur, saya bisa membantu mereka.”

Putera dan teman-temannya di sekolah.
UNICEF/UN0566434/Ose
Putera dan teman-temannya di sekolah.

Ingin Membantu Lebih Banyak Anak-Anak Yatim Piatu Akibat COVID-19?

Berkat kontribusi dermawan dari para donor individu, UNICEF dapat bekerja dengan mitra dan pekerja sosial yang berdedikasi di seluruh Indonesia untuk mengidentifikasi anak-anak yatim piatu akibat COVID-19, memfasilitasi akses ke layanan kesehatan mental dan psikososial, dan membantu memastikan anak-anak tetap berada dalam perawatan berbasis keluarga.

Namun tantangannya masih jauh dari selesai, dan upaya jangka panjang akan diperlukan untuk melindungi anak-anak ini serta anak-anak yang sudah berada di lembaga. Untuk ini kami membutuhkan dukungan Anda.

Jika Anda ingin membantu anak-anak kita tumbuh dengan lebih banyak cinta dan kasih sayang, mohon pertimbangkan untuk berdonasi ke UNICEF. Kami sangat menghargai kontribusi Anda.

Donasi Sekarang