Pesan penting di balik lagu anak-anak yang ceria

Bencana alam diketahui dapat membuat keluarga kehilangan tempat tinggal dan anak-anak terpisah dari orang tuanya, sehingga mereka rentan menjadi korban eksploitasi dan penganiayaan.

Lely Djuhari
Children play together at the child protection post in Senaru Village, North Lombok, West Nusa Tenggara.
Wilander/UNICEF/2018
22 Mei 2019

Puspita Sari, 10, sedang bernyanyi bersama teman-temannya. Mereka duduk di lantai di salah satu ruang ramah anak milik UNICEF. Lagu yang mereka nyanyikan ringan dan nadanya mudah diingat, tetapi mengandung pesan yang penting tentang bagian tubuh mana yang hanya dapat disentuh oleh sang pemilik tubuh, apa yang dapat dilakukan jika seseorang melukai mereka, dan cara bercerita kepada orang tua atau orang dewasa jika terjadi peristiwa yang tidak diinginkan.

Sebelum mulai bernyanyi, anak-anak diajak bermain kartu. Mereka harus mencocokkan gambar dengan deskripsi peristiwa “sentuhan baik” dan “sentuhan tidak baik” serta “situasi baik” dan “situasi tidak baik”. Pelajaran mengenai kesadaran terhadap keselamatan dan perlindungan diri ini sangat penting bagi anak-anak di negara dengan risiko bencana yang tinggi. Di dalam situasi krisis, anak seperti Puspita dapat berada dalam keadaan paling rentan jika sampai terpisah dari anggota keluarga.

Puspita adalah salah seorang penyintas peristiwa gempa bumi di Pulau Lombok. Bencana itu menimbulkan 500 korban jiwa dan menyebabkan 680.000 orang terdampak—termasuk 204.000 anak-anak.

Pascabencana, ibu Puspita sering kali meninggalkan rumah untuk mencari berita tentang anggota keluarga yang lain. Puspita, biasanya, berada di rumah sendirian. Keadaan itu berubah setelah UNICEF membuat ruang ramah anak. Di tempat itulah Puspita dapat bermain bersama anak lain di lingkungan yang aman.

Ruang ramah anak, tempat anak dan remaja dapat melakukan kegiatan edukatif dan menerima dukungan psikososial, adalah aspek penting dalam kerja UNICEF di bidang perlindungan anak pada situasi darurat. Dengan pengawasan staf UNICEF yang terlatih, anak-anak seperti Puspita tidak hanya terlindung, tetapi juga dapat belajar cara melindungi diri.

Terbayangkah di benak kita, seperti apa rasanya menjadi penyintas bencana, namun keselamatan atau kehidupan kita kemudian berada di bawah ancaman anggota keluarga atau pasangan yang kerap melakukan kekerasan? Situasi ini tidak sepatutnya dihadapi satu pun perempuan atau anak. Jika Anda setuju, mari bantu UNICEF untuk melindungi perempuan dan anak-anak dengan cara berdonasi.

 

Puspita Sari, 10, showed a picture of the relationship between mother and child while playing in a child protection tent in Senaru Village, North Lombok, West Nusa Tenggara.
Wilander/UNICEF/2018

Sebagai bagian dari langkah membangun masyarakat siaga bencana, UNICEF juga mendukung pelatihan penting dan kegiatan tanggap bencana oleh mitra pemerintah di tingkat kota/kabupaten, provinsi, dan nasional dalam mengoordinasikan, memantau, dan mengevaluasi situasi di lapangan. Dukungan UNICEF memastikan bahwa kegiatan tersebut memenuhi standar tertentu—khususnya standar minimal untuk perlindungan anak di situasi kemanusiaan.

Sebagai bagian dari kerja penting di atas, UNICEF juga memastikan semua tenaga garis depan mendapatkan pelatihan tentang pencegahan penganiayaan dan eksploitasi seksual—termasuk cara melapor ke otoritas yang relevan apabila rekan mereka sendiri terlibat dalam penganiayaan seksual.

Selain melaksanakan upaya perlindungan anak secara meluas pada situasi bencana, UNICEF juga memastikan agar pencegahan penganiayaan seksual dan kekerasan berbasis gender mendapatkan perhatian dari pemerintah dan masyarakat sipil. Di tengah gejolak sosial, anak dan perempuan secara khusus rentan terhadap bahaya-bahaya tersebut.

Baik dalam menangkal perundungan, memperkenalkan disiplin positif, mencegah penganiayaan dan kekerasan seksual, ataupun menciptakan ruang ramah anak di tengah situasi darurat, kerja-kerja UNICEF untuk perlindungan anak membutuhkan dukungan Anda.

Children play together at the child protection post in Senaru Village, North Lombok, West Nusa Tenggara.
Wilander/UNICEF/2018

Bagi siapapun yang kebetulan mendengar, suara anak-anak yang sedang bernyanyi di ruang ramah anak UNICEF menunjukkan bahwa ruang itu adalah ruang yang aman dan membawa keceriaan—ruang tempat menikmati jeda sejenak dari penderitaan yang ditimbulkan oleh peristiwa gempa bumi. Keriangan anak-anak adalah keriangan yang tulus. Lagu dan permainan mengisi waktu mereka secara positif, sekaligus memberikan pelajaran penting.

Hal ini tercermin dari komentar Puspita: “Saya suka lagunya. Kalau saya kenapa-kenapa, saya pasti akan cerita sama ibu. Saya tidak perlu malu.”

Donasi Anda, yang dapat diberikan secara aman di sini, akan melambangkan dukungan Anda terhadap perlindungan anak. Terima kasih atas kepedulian Anda terhadap keselamatan dan kesejahteraan anak-anak.