Mengupayakan imunisasi untuk setiap anak di tengah pandemi COVID-19

Meskipun terkendala pandemi, Lena terus melayani masyarakat dengan memberikan imunisasi.

Oleh Rustini Floranita, CSD Specialist (Kantor UNICEF di Papua)
Health worker provides vaccinations to children
HAKLI Papua Barat/2020/Nusaybah Amatullah
06 November 2020

SORONG, Indonesia – Cahaya matahari masuk melalui sela-sela pepohonan palem yang menjulang di Bambu Kuning, desa kecil dan terpencil di Kota Sorong, Provinsi Papua Barat. Sinar mengiringi kedatangan Magdalena Saribu, seorang tenaga kesehatan, yang tiba dengan berjalan kaki. Sambil tersenyum hangat, ia segera menyapa warga.

“Selamat pagi, semuanya! Apa kabarnya?” serunya. “Mari, bawa anak-anak ke rumah Marisa dan imunisasi akan segera dimulai!”

Magdalena, atau akrab disapa Lena, sangat mengenal warga Bambu Kuning. Lahir dan tumbuh besar di Sorong, ia kini bekerja di Puskesmas Malanu. Lena menempuh pendidikan sebagai seorang bidan, namun selama tujuh tahun terakhir ia menjadi penanggung jawab imunisasi di puskesmas tempatnya bekerja. Lena bertugas memberikan vaksin kepada lebih dari 600 anak di empat desa.

Pandemi yang saat ini berlangsung tidak menyurutkan semangat Lena. Menurutnya, gangguan apa pun dapat menyebabkan anak-anak menjadi rentan terhadap penyakit mematikan. Tahun lalu, Sorong menghadapi wabah difteri. Dengan cepat, Lena dan timnya memimpin rangkaian kegiatan imunisasi untuk mengatasi wabah dan kegiatan mereka baru saja selesai pada tahun ini.

“Pandemi tidak akan menghentikan saya,” katanya. “Jika imunisasi tidak berjalan, saya khawatir akan terjadi wabah lain. Kita harus memastikan anak-anak terlindung dengan memberikan mereka vaksin.”

Saat ditemui, Lena tengah bersiap melaksanakan layanan keliling vaksin difteri, tetanus, dan pertusis (DPT) untuk lebih dari 50 anak di Bambu Kuning. Pelayanan akan berlangsung di rumah Marisa, seorang warga dan ibu dari dua orang anak. Rumah Marisa terletak tidak jauh dari jalan utama, tetapi rute menuju rumah itu adalah jalan sempit yang tertutup lumpur tebal, sehingga tak dapat dilewati mobil ataupun motor. Beberapa balok kayu telah diletakkan di atas tanah sebagai ‘jembatan’ darurat. Lena berjalan di atasnya dengan hati-hati, mengikuti tiga orang anak yang berjalan lebih dahulu untuk menunjukkan arah.

Lena sedang berjalan menuju Desa Bambu Kuning.
HAKLI Papua Barat/2020/Nusaybah Amatullah
Lena sedang berjalan menuju Desa Bambu Kuning.

Wilayah-wilayah terpencil di Papua Barat, seperti Sorong dengan kawasan hutannya yang lebat, memberikan tantangan tersendiri bagi tenaga kesehatan saat harus memberikan vaksin kepada kelompok-kelompok kecil masyarakat dengan lokasi tersebar. Akibatnya, tingkat cakupan imunisasi dasar terhadap bayi di Papua Barat hanya mencapai 80,9 persen per tahun 2018, atau lebih rendah dari target nasional sebesar 92,5 persen.

Untuk menjangkau masyarakat yang sulit diakses dan memberikan layanan imunisasi, Lena biasanya mengunjungi posyandu terdekat dua kali dalam sebulan. Sebagai bagian dari program imunisasi UNICEF di Papua Barat, Puskesmas Malanu telah berencana mengintegrasikan layanan imunisasi dengan lembaga-lembaga PAUD terdekat pada bulan April lalu untuk memperluas cakupan.

Namun, sejak terjadi pandemi COVID-19, semua posyandu di Sorong ditutup. Kegiatan belajar-mengajar di sekolah pun dihentikan karena angka kasus COVID-19 terus meningkat. Hal ini menyebabkan program imunisasi melalui PAUD tertunda.

Untuk belajar beradaptasi dengan tantangan terkini, Lena menghadiri kegiatan penyuluhan yang didukung oleh UNICEF dan Dinas Kesehatan Sorong. Ia belajar cara mengidentifikasi anak yang tertinggal dari jadwal vaksin rutin dengan mengenali setiap anak berdasarkan nama dan alamat. Hasilnya, ia kini berkeliling dari satu desa ke desa lain untuk memastikan anak-anak telah mendapatkan imunisasi lengkap.

Lena memberikan vaksin kepada seorang anak.
HAKLI Papua Barat/2020/Nusaybah Amatullah
Lena memberikan vaksin kepada seorang anak.

“Terdapat lebih dari 331.000 anak di Papua Barat, atau 38 persen dari total populasi, sehingga layanan imunisasi bagi warga setempat menjadi sangat penting,” ujar Mohammad Ruhul Amin, UNICEF Indonesia Immunization Specialist. “Namun, tingkat cakupan imunisasi saat ini adalah 30 persen lebih rendah dibandingkan cakupan tahun lalu. Lepas dari dampaknya yang lain, pandemi COVID-19 semakin memperlihatkan nilai penting imunisasi untuk mencegah wabah penyakit mematikan. Dibutuhkan upaya berkelanjutan untuk mempertahankan imunisasi rutin dan melindungi kesehatan anak.”

Di Bambu Kuning, pemuka masyarakat telah mengumumkan bahwa Lena akan datang untuk memberikan layanan imunisasi keliling. Lebih dari 50 keluarga berkumpul di rumah Marisa dan dengan sabar mengantre bersama anak-anak mereka. Irianti, ibu tiga anak, bersyukur atas kehadiran Lena. “Rumah kami jauh dari puskesmas dan tidak ada posyandu di sini,” katanya. “Selama pandemi, anak bungsu saya belum pernah diimunisasi. Saya sendiri takut jika harus membawa anak keluar dari dusun, jadi saya senang ada layanan keliling yang dekat dengan rumah.”

Meskipun terkendala pandemi, Lena terus melayani masyarakat sembari menunggu hingga ia dapat memberikan imunisasi melalui posyandu dan lembaga PAUD. Untuk saat ini, ia bertekad melakukan yang ia bisa untuk menjangkau setiap anak di kotanya.

“Tidak terbayang sebelumnya bahwa tahun 2020 akan berjalan seperti ini,” katanya. “Harapan saya, kita masih dapat melakukan hal terpenting di Sorong selama pandemi COVID 19: memastikan setiap anak menerima imunisasi.”

Tenaga kesehatan Magdalena Saribu memberikan vaksin kepada anak-anak Desa Bambu Kuning di Sorong, Provinsi Papua Barat.
HAKLI Papua Barat/2020/Nusaybah Amatullah