Mimpi besar untuk masa depan

Murid-murid SMP di Papua Barat mempelajari kecakapan hidup yang penting bagi masa depan mereka

Yuanita Marini Nagel, Adolescent Development Officer
Gracia listens to a lesson on the radio.
UNICEF/2020/Mohamad Saroni.
28 Oktober 2020

Setiap pagi, Gracia, 13 tahun, duduk di lantai ruang keluarga. Sebuah pengeras suara berukuran kecil yang juga berfungsi sebagai radio diletakkan di dekatnya, dan Gracia pun dengan tekun menyimak siaran pelajaran pada hari itu. Gracia memang belum dapat kembali ke sekolah, namun ia senang mendengarkan suara guru dan mengikuti kegiatan interaktif bersama teman-teman sekelas.

“Saya mencoba menjawab [kuis], tetapi tidak pernah menang,” katanya sambil tertawa. “Murid lain mungkin lebih cepat daripada saya.”

Sekolah-sekolah di Sorong, sama seperti di banyak daerah lain di Indonesia, belum dapat dibuka kembali akibat pandemi COVID-19. Untuk membantu murid belajar secara jarak jauh, UNICEF dan mitra setempat menyelenggarakan program edukasi melalui siaran radio. Sebelum media ini tersedia, Gracia dan teman-temannya harus pergi ke sekolah untuk mengambil tugas, kemudian mengerjakannya di rumah. Hal ini, menurutnya, sangat menantang.

“Belajar dengan siaran radio sangat membantu karena saya bisa mendengarkan penjelasan guru,” katanya. “Selanjutnya, kami bisa diskusikan materi di grup WhatsApp.”

Saat ini, Gracia tinggal di Sorong bersama kakek, tante, dan seorang sepupunya. Setiap hari, ia membantu mengerjakan pekerjaan rumah, seperti menyapu dan memasak. Orang tuanya pun berada di Sorong, namun Gracia memutuskan tinggal bersama kakeknya sejak tiga tahun yang lalu karena jarak rumah sang kakek dengan sekolah jauh lebih dekat dibandingkan dengan rumahnya sendiri.

Gracia sweeps in front of her grandfather’s house.
UNICEF/2020/Mohamad Saroni.
Gracia menyapu teras rumah kakek.

Gracia selalu menganggap pendidikan sebagai hal yang penting. Namun, dalam satu tahun terakhir, nilai penting pendidikan semakin terasa, yaitu setelah Gracia dan teman-teman mengikuti program pendidikan kecakapan hidup di sekolah. Ada banyak topik yang dibicarakan, tetapi topik kesukaan Gracia adalah hak asasi manusia. Bersemangat ingin menceritakan tentang hal yang telah ia pelajari, Gracia membuka buku dan mulai membacakan rangkumannya.

“Hak asasi adalah hak yang berlaku untuk semua orang pada setiap waktu, lepas dari latar belakang dan tempat tinggalnya,” Gracia membaca dengan antusiasme tinggi. “Dengan begitu, hak-hak ini tidak boleh diambil dari kita.”

Mempelajari hak terhadap pendidikan adalah pengalaman yang sangat berarti bagi Gracia. Ia tersadar bahwa ia tidak hanya perlu menghadiri sekolah, tetapi juga berpartisipasi aktif di kelas. Setelah mengetahui ia perlu bantuan guru, Gracia pun mulai sering meminta masukan dari guru—tindakan yang jua ia pelajari dari program kecakapan hidup.

“Dulu, saya gugup sekali setiap kali harus berbicara dan menyampaikan pendapat,” katanya. “Sebelumnya, saya tidak mengira kami punya kesempatan bicara. Biasanya, kami hanya mendengarkan guru, kemudian mengerjakan tugas-tugas.”

Dukungan dari para gurunya telah membuat Gracia lebih aktif di kelas, bahkan terinspirasi menjadi seorang guru kelak. Ia kagum dengan cara guru-guru membantunya belajar dan menyampaikan pengetahuan.

Gracia studies with her cousin.
UNICEF/2020/Mohamad Saroni.
Gracia saat belajar bersama sepupunya.

Program tersebut juga membantu Gracia dalam menyelesaikan konflik dengan teman-temannya. Sebelum mengikuti program, Gracia tak yakin bagaimana harus bersikap jika diperlakukan tidak adil—misalnya, apabila ada anak yang memotong antrean di kantin. Sekarang, ia tahu ia dapat berbicara lebih tegas, meskipun tetap tenang. Hal ini membuatnya merasa lebih baik sekaligus membuat siswa lain menghormatinya.

“Saya terapkan cara-cara yang saya pelajari di kelas kecakapan hidup, seperti berkolaborasi dan berkompromi, dan semuanya berhasil,” jelasnya. “Saya terbantu menemukan solusi kreatif untuk masalah yang saya hadapi.”

Namun, yang terpenting, semangat baru Gracia telah menuntunnya kepada mimpi-mimpi yang lebih besar. Gracia, yang bersyukur atas dukungan sang kakek terhadap pendidikannya, berkata ia ingin dapat merawat kakeknya kelak.

“Suatu hari, kalau saya menjadi orang sukses, saya ingin membelikannya rumah,” ujar Gracia, menyebutkan cita-cita terpendamnya sambil tersenyum lebar.

Gracia adalah satu dari 4,480 murid SMP dalam program “Supporting Girls to Thrive in Indonesia” yang diluncurkan oleh UNICEF pada November 2019 dengan dukungan dari David Beckham Fund. Dengan sasaran utama murid SD dan SMP di Sorong, Papua Barat, program ini hendak meningkatkan angka anak yang tetap bersekolah, memperbaiki capaian belajar, dan melindungi anak perempuan dan lelaki dari tindak kekerasan di sekolah. Program ini juga mendukung program lain yang berbasis sekolah, yang menyatukan perlindungan, pendidikan, pemberdayaan, serta air, sanitasi, dan kebersihan (WASH) untuk menghasilkan perubahan pada norma sosial dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik.