Mobility insights

Platform yang memungkinkan pembuat kebijakan dan warga mengukur dampak pengaturan jarak fisik, pergerakan, dan mobilitas terhadap persebaran COVID-19.

UNICEF
Mother and baby daughter
UNICEF/2020/Arimacs Wilander
10 November 2020

“Saya ingin COVID berakhir agar suami saya bisa bekerja lagi seperti biasa, gajinya juga kembali normal.”

Muri

Berdiri di depan posyandu yang sedang ditutup bersama putrinya yang berusia 9 bulan, seorang ibu dari Indonesia menyuarakan harapan jutaan orang di seluruh dunia.

Kenaikan angka penularan dan kematian (220.000 kasus dan 8.841 orang meninggal) yang tinggi di Indonesia saat ini telah menyebabkan fasilitas publik di seluruh negeri ditutup. Kesehatan dan pendidikan jutaan anak Indonesia pun terancam.

Pemerintah Indonesia, seperti pemerintah lain di seluruh dunia, kini harus mengandalkan intervensi nonmedis, seperti pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan penutupan tempat kerja serta tempat-tempat umum. Namun demikian, dampak dari keputusan ini sulit diukur oleh pembuat kebijakan karena teknik pengumpulan data tradisional seperti survei rumah tangga belum dapat dilaksanakan.

Mengingat risiko yang dihadapi kehidupan dan mata pencaharian, pembuat kebijakan harus memiliki data dan bukti terbaik saat mengambil keputusan sulit, terutama yang berkaitan dengan penutupan tempat umum, pembatasan kegiatan, dan penyelamatan nyawa.

Melacak mobilitas

UNICEF Indonesia merespons kebutuhan di atas melalui serangkaian kemitraan dan investasi strategis dalam pengembangan teknologi canggih untuk pengambilan data secara cepat dan akurat. Bekerja sama dengan para ahli di Kantor Pusat dan Kantor Regional UNICEF, serta mitra setempat di Universitas Indonesia, tim ‘teknologi untuk pembangunan’ di UNICEF Indonesia membuat sebuah platform digital (Mobility Insights); platform ini memungkinkan pembuat kebijakan dan warga mengukur dampak pengaturan jarak fisik, pergerakan, dan mobilitas terhadap persebaran COVID-19.

Ada pula mitra lain, Cuebiq, yang ahli dalam pelacakan lokasi secara anonim menggunakan data ponsel. Dengan teknologi inilah, UNICEF dapat menghitung lama waktu yang dihabiskan setiap pengguna ponsel di rumah, kemudian menganalisis data itu untuk memperkirakan tingkat kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan PSBB terkait COVID.

Setelah menerapkan metode tersebut, UNICEF dan UI menemukan bahwa:

Kenaikan jumlah orang berada di rumah sebesar 1 persen dapat menurunkan angka kasus harian sebesar 500 kasus. Namun, jika jumlah orang berada di rumah kurang dari separuh total populasi, setiap penurunan sebesar 1 persen dapat menghasilkan 100 kasus baru per hari.

Screenshot from the mobility insight dashboard
UNICEF/2020
Tampilan dashboard Mobility Insight menunjukkan proporsi warga yang tetap berada di rumah pada tingkat kelurahan di Jakarta.

Mobilitas dan Kemiskinan

Terdapat hampir 25 juta penduduk miskin di Indonesia. Pencocokan data kemiskinan dengan data mobilitas memperlihatkan bahwa wilayah-wilayah dengan tingkat kemiskinan tertinggi memiliki tingkat kepatuhan terendah terhadap anjuran menjaga jarak fisik.

Data yang dihasilkan oleh platform Mobility Insights tersebut menunjukkan kaitan yang jelas antara PSBB, tingkat penularan COVID-19, dan kemiskinan. Berdasarkan data ini, pada pertengahan bulan September gubernur DKI Jakarta kembali menerapkan PSBB. Tujuannya adalah menyelamatkan nyawa sebanyak mungkin, dengan dampak sosial dan ekonomi sekecil mungkin, serta mencegah agar pandemi tidak menghancurkan kehidupan keluarga-keluarga termiskin di Jakarta. Menekan angka penularan dengan membatasi pergerakan fisik adalah langkah pertama menuju pembukaan kembali fasilitas kesehatan, sekolah, dan layanan publik lain yang penting bagi anak-anak Indonesia.

UNICEF Indonesia berterima kasih kepada para donor kegiatan ini, termasuk Nokia melalui Komite Finlandia untuk UNICEF dan Dana Solidaritas Respons COVID-19.