Pusat Media

Keterangan Pers

Kontak untuk media

Duta kehormatan dan sahabat anak

 

Inovasi untuk perubahan bagi anak-anak yang kurang beruntung

 Pada hari peringatan 25 tahun Konvensi Hak Anak, laporan The State of the World’s Children meletakkan agenda untuk perubahan.    


JAKARTA/NEW YORK, 20 November 2014 – UNICEF dan Pemerintah Indonesia bergabung untuk memperingati 25 tahun ditandatanganinya Konvensi Hak Anak (KHA), perjanjian hak asasi manusia yang paling banyak diratifikasi di dunia.

 

“Indonesia adalah salah satu negara pertama yang menandatangani dan meratifikasi KHA. Selama dua setengah dekade terakhir, Indonesia telah mencapai kemajuan yang besar sekali dalam bidang kesehatan dan nutrisi anak, pendidikan, dan perlindungan anak dari bahaya dan kekerasan,” Kepala Perwakilan UNICEF di Indonesia, Gunilla Olsson, mengatakan di Jakarta dalam acara peluncuran laporan utama UNICEF ‘The State of the World’s Children 2015’ dalam acara peringatan hari penandatanganan KHA.

 

Angka kematian anak di bawah lima tahun, misalnya, telah berkurang lebih dari setengah dalam periode antara 1990 dan 2013, dari 84 kematian per 1,000 kelahiran hidup menjadi 29/1000. “Ini berarti ada 5 juta anak Indonesia yang berrisiko meninggal, jika angka kematian balita tetap pada tingkat di tahun 1990,” Olsson mengatakan.

 

Kehadiran tenaga kesehatan terlatih saat melahirkan juga telah meningkat secara berarti, dari 32 persen pada tahun 1991 (Survey Demografi Rumah Tangga) menjadi 83 persen dalam periode 2009-2013, sehingga mengurangi risiko kematian ibu dan bayi karena komplikasi kelahiran.

Namun, secara keseluruhan upaya pengurangan angka kematian anak dan ibu telah melambat, bahkan mencapai titik stagnasi selama 5-10 tahun terakhir. Di luar kemajuan yang telah dicapai, menurut beberapa perkiraan yang berbeda, antara 136.000 dan 190.000 anak meninggal di Indonesia setiap tahun sebelum ulang tahun ke-lima mereka. Kebanyakan kasus meninggal disebabkan oleh penyakit-penyakit yang seharusnya bisa dicegah dan ditangani dengan mudah, seperti komplikasi pasca melahirkan, diare, atau pneumonia atau radang paru-paru. Ditambah lagi, setiap tahun lebih dari 10.000 perempuan meninggal saat melahirkan, suatu angka yang terlalu tinggi. 

“Kita perlu mencari cara yang inovatif untuk menangani tantangan-tantangan pembangunan yang mendasar ini,” ujar Olsson.

Laporan The State of the World’s Children Report – Reimagine the future: Innovation for every child mengajak pemerintah semua negara, pekerja profesional pembangunan, pihak swasta, aktivis dan 

kelompok-kelompok masyarakat untuk bekerja bersama membangun gagasan-gagasan baru dan menemukan cara-cara baru untuk memperluas skala inovasi lokal yang paling menjanjikan.

Laporan ini adalah kompilasi inovasi canggih yang dikumpulkan dari masyarakat, dan sebuah platform interaktif yang memetakan inovasi di berbagai negara di penjuru dunia, dan yang mengajak para penemu untuk menyumbangkan gagasan-gagasan mereka di “peta” ini. “Kesenjangan selalu ada dalam sejarah manusia, namun begitu juga inovasi ­– dan inovasi selalu menggerakan kemajuan kemanusian,” Direktur Eksekutif UNICEF Anthony Lake mengatakan. “Di dunia kita yang semakin terkoneksi, solusi lokal bisa memberikan dampak global – memberi manfaat pada anak-anak di setiap negara yang masih menghadapi kesenjangan dan ketidakadilan setiap hari.”

Solusi terbaik bagi tantangan terbesar kita tidak akan melulu datang dari atas ke bawah, atau dari akar rumput ke atas, atau dari satu kelompok negara ke satu kelompok lainnya,” ujar Lake. “Solusi terbaik akan datang dari jejaring penyelesaian masalah terbaru, dan dari kelompok inovasi yang lintas batas dan lintas sektor untuk dapat menjangkau mereka yang paling sulit terjangkau – dan ini akan datang dari orang-orang muda dan anak-anak.”

Di luar perkembangan ini, hak-hak jutaan anak terus dilanggar setiap hari. Sebanyak 20 persen dari anak-anak termiskin di dunia memiliki risiko kematian sebelum ulang tahun kelima mereka dua kali lebih besar dari 20 persen anak-anak terkaya di dunia; satu dari empat anak di negara yang paling tertinggal adalah pekerja anak; dan jutaan anak-anak mengalami diskriminasi, kekerasan seksual dan fisik, dan perlakuan kejam.

Menurut laporan utama UNICEF edisi terbaru ini, inovasi-inovasi seperti garam rehidrasi oral atau makanan terapi siap-makan telah memberikan perubahan drastis pada kehidupan jutaan anak-anak pada 25 tahun terakhir. Produk-produk, proses dan kemitraan lain yang inovatif juga sangat penting bagi upaya merealisasikan hak-hak anak bagi mereka yang sulit terjangkau oleh kemajuan tersebut. Laporan digital ini termasuk konten multimedia dan interaktif untuk mengajak pembaca untuk berbagi ide-ide dan inovasi mereka, dan menggarisbawahi inovasi-inovasi yang terkemuka yang telah memperbaiki kehidupan di berbagai negara di seluruh dunia.

UNICEF telah memprioritaskan inovasi dari seluruh jaringannya di 190 negara dengan membentuk pusat-pusat kegiatan di berbagai penjuru dunia ­– termasuk di Afganistan, Chili, Indonesia, Kosovo, Uganda dan Zambia – untuk mendorong pemikiran-pemikiran baru, dan cara-cara baru untuk bekerja dan berkolaborasi dengan mitra-mitra dan untuk membina bakat-bakat lokal.

UNICEF Indonesia telah menciptakan platform untuk inovasi, termasuk U-Report Indonesia yang berbasis Twitter (@Ureport_id), yang saat ini sedang dalam fase pilot, dan lewat kolaborasi dengan perguruan tinggi-perguruan tinggi di Bogor dan Bandung, di mana mahasiswa berpartisipasi dalam kompetisi untuk merancang solusi inovatif bagi tantangan-tantangan yang telah lama ada, seperti angka pendaftaran kelahiran yang rendah atau buang air di tempat terbuka, yang berkontribusi pada angka kematian bayi yang cukup tinggi di Indonesia. 

Lebih lanjut lagi, UNICEF telah menyelenggarakan ACTIVATE Talks (TedTalk-style symposia), di mana para pemimpin inovasi seperti Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan, Tri Mumpuni dan Mia Sutanto telah mempresentasikan inisiatif-inisiatif seperti Indonesia Mengajar, produksi energi lewat hidropower dan promosi ASI ekslusif lewat jejaring sosial.

Di hari peringatan 25 tahun KHA, UNICEF Indonesia menyelenggarakan kembali ACTIVATE TALKS dengan sekelompok inovator yang berusia tidak lebih dari 25 tahun, yang masing-masing aktif dalam bidang pendidikan, pencegahan HIV, pemberdayaan pemuda, kesehatan sistem reproduksi dan pengembangan platform komunikasi bagi petani-petani lokal.

 

Silahkan berbagi ide dan penemuan atau inovasi Anda di www.unicef.org/innovation

# # #

Tentang UNICEF:  UNICEF mempromosikan hak-hak dan kesejahteraan semua anak dalam setiap kegiatan kami. Bersama mitra-mitra kami, UNICEF bekerja di 190 negara dan wilayah untuk menerjemahkan komitmen kami dalam tindakan praktis, dengan fokus khusus untuk menjangkau anak-anak yang paling rentan dan tertinggal, untuk memberikan manfaat bagi seluruh anak-anak di manapun mereka berada.

 

Tentang UNICEF Innovation: UNICEF Innovation adalah tim interdisipliner yang terdiri dari individual dari berbagai penjuru dunia yang ditugaskan untuk mengidentifikasi, memprototipekan dan memperluas skala teknologi dan praktek-praktek yang menguatkan kerja UNICEF untuk memperbaiki kehidupan anak-anak di seluruh dunia. Untuk informasi lebih lanjut tentang UNICEF dan kegiatannya, kunjungi www.unicef.org


Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi:

Devi Asmarani, UNICEF Indonesia, Mobile: + 62 816 716913, dasmarani@unicef.org

Michael Klaus, UNICEF Indonesia, Mobile: + 62 8111 669033, mklaus@unicef.org

 

 

 
Search:

 Kirimkan artikel ini

unite for children