Pusat Media

Keterangan Pers

Kontak untuk media

Duta kehormatan dan sahabat anak

 

Kemajuan global menunjukkan bahwa jumlah balita pendek bisa dikurangi

Secara global satu dari empat balita pendek menurut usianya

DUBLIN, 16 April 2013 - Sebuah laporan baru yang dikeluarkan UNICEF hari ini memberikan bukti bahwa adanya kemajuan dalam perang melawan pertumbuhan terhambat (stunting atau balita pendek) - wajah tersebunyi dibalik kemiskinan pada 165 juta anak balita. Laporan ini menunjukkan bahwa percepatan kemajuan sangat mungkin dan perlu.

Laporan berjudul Improving Child Nutrition: The achievable imperative for global progress (Meningkatkan Gizi Anak: Pencapaian global imperatif untuk kemajuan) ini menegaskan bahwa kunci keberhasilan dalam melawan stunting adalah dengan memfokuskan perhatian pada kehamilan dan dua tahun pertama kehidupan seorang anak. Stunting - atau terhambatnya pertumbuhan, bukan hanya menyebabkan balita menjadi lebih pendek dari pada usianya - tapi hal ini juga bisa berarti anak tersebut menderita pengembangan terhambat dari otak dan kapasitas kognitif.

"Stunting dapat membunuh peluang dalam hidup untuk anak dan membunuh peluang bagi pembangunan suatu bangsa," kata Direktur Eksekutif UNICEF Anthony Lake. "Bukti kami dari kemajuan yang sedang dicapai menunjukkan bahwa sekarang adalah waktu untuk mempercepatnya."

Satu dari empat dari semua balita secara global terhambat pertumbuhannya - karena kekurangan gizi kronis pada periode penting pertumbuhan. Diperkirakan 80 persen balita pendek hidup di hanya 14 negara.

Laporan UNICEF menyoroti keberhasilan dalam meningkatkan kebijakan gizi dan meningkatkan, program dan perubahan perilaku di 11 negara: Ethiopia, Haiti, India, Nepal, Peru, Rwanda, Republik Demokratik Kongo, Sri Lanka, Kyrgyzstan, Republik Tanzania dan Viet Nam.

Kerusakan tubuh dan otak anak yang disebabkan stunting adalah sesuatu yang tidak dapat diubah. Kinerja anak disekolah akan menurun, dan juga pendapatannya dikemudian hari. Ini adalah ketidakadilan yang sering diturunkan dari generasi ke generasi yang memotong jauh di pembangunan nasional. Anak terhambat juga beresiko tinggi meninggal akibat penyakit menular dibanding anak lain.

Namun di beberapa bagian India - rumah bagi 61 juta balita pendek - kemajuan masih terus terjadi. Di Maharashtra, bagian negara terkayanya dan kedua yang paling padat penduduknya, 39 persen anak-anak di bawah dua tahun adalah balita pendek pada tahun 2005-2006. Sekarang turun menjadi 23 persen pada tahun 2012, menurut survei gizi, terutama dengan mendukung para pekerja meningkatkan gizi anak.

Di Peru, jumlah balita pendek turun sepertiga antara tahun 2006 dan 2011 setelah Inisiatif Gizi Buruk Anak yang melobi kandidat politik untuk menandatangani '5 oleh 5 dengan 5 ' komitmen untuk mengurangi jumlah balita pendek pada anak di bawah 5 sebanyak 5 persen dalam 5 tahun dan untuk mengurangi ketidakadilan antara daerah perkotaan dan pedesaan. Peru mencontoh pengalaman dari proyek yang berhasil dan program gizi yang terintegrasi dengan program lain. Hal ini juga difokuskan pada anak-anak dan perempuan yang paling dirugikan dan juga pemerintahan yang terdesentralisasi.

Ethiopia mengurangi jumlah balita pendek dari dari 57 persen menjadi 44 persen dan kematian dibawah 5 dari 139 kematian per 1.000 kelahiran hidup menjadi 77 per 1.000 antara tahun 2000 dan 2011. Langkah-langkah utama termasuk program gizi nasional, menyediakan program di daerah miskin dan meningkatkan bantuan gizi melalui komunitas.

Balita pendek dan bentuk lain dari gizi buruk melalui serangkaian langkah sederhana dan terbukti seperti peningkatan gizi perempuan, inisiasi menyusui dini dan asi eksklusif, memberikan vitamin tambahan dan mineral serta makanan yang tepat - terutama pada kehamilan dan dua tahun pertama kehidupan seorang anak .

Laporan tersebut juga mengatakan bahwa solusi yang ada dan kemitraan baru, termasuk gerakan Scaling Up Nutrition, menciptakan kesempatan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mengatasi kekurangan gizi anak melalui percepatan kemajuan proyek terkoordinasi dengan dukungan donor dan target yang dapat diukur.

Untuk Informasi lebih lanjut hubungi:

Michael Klaus, Chief of Communication - UNICEF Indonesia, Mobile: + 62 8111 66 9033, mklaus@unicef.org

Nuraini Razak, Communication Specialist - UNICEF Indonesia, Mobile: + 62 811 148 149, nrazak@unicef.org

 

 
Search:

 Kirimkan artikel ini

unite for children