Mewujudkan Pemeriksaan COVID-19 yang Mudah Diakses Masyarakat

Ketersediaan alat tes antigen memberikan kepastian dan kelegaan bagi tenaga kesehatan yang kewalahan

Ardila Syakriah, Health Knowledge Management and Communications Officer
Panca Rakhmat, analis lab, sedang mengambil sampel dari seorang pasien dengan menggunakan peralatan tes antigen yang dapat mendeteksi virus penyebab COVID-19 di Puskesmas Binanga, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat.
UNICEF/UN0594440/Al Asad
23 Februari 2022

Setahun telah berlalu semenjak gempa berkekuatan 6.2 magnitudo menghantam Provinsi Sulawesi Barat, tidak terkecuali Kota Mamuju, ibu kota provinsi teranyar di pulau Sulawesi itu.  Bangunan yang rusak dan hancur masih menyisa di berbagai sudut kota, dan bagi Panca Rakhmat, seorang analis laboratorium di salah satu fasilitas kesehatan, gempa itu juga menghadirkan kekhawatiran lain, yakni meningkatnya kasus COVID-19.

Sebagai salah satu dari hanya dua analis lab di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Binanga—salah satu Puskesmas yang menaungi sekitar 60,000 orang—Panca dan rekan kerjanya hanya memiliki sedikit waktu istirahat selama dua tahun terakhir. Sesaat setelah gempa bumi, Mamuju mengalami peningkatan kasus yang dramatis dengan adanya kerumunan korban gempa di tenda-tenda darurat. Tak lama setelah itu, gelombang lain juga hadir ketika varian Delta menghantam Indonesia di pertengahan tahun 2021. 

“Para tenaga kesehatan harus bekerja dalam kondisi apapun karena penyakit datang tidak mengenal hari libur,” ujar Panca seraya mengenang masa ia tinggal di Puskesmas usai gempa yang meruntuhkan rumahnya.

Pada 16 Januari 2021, regu penyelamat mengevakuasi penduduk di Kabupaten Mamuju usai gempa berkekuatan 6.2 magnitudo menghantam Provinsi Sulawesi Barat pada 14 Januari 2021.
UNICEF/UN0400330/Wahil
Pada 16 Januari 2021, regu penyelamat mengevakuasi penduduk di Kabupaten Mamuju usai gempa berkekuatan 6.2 magnitudo menghantam Provinsi Sulawesi Barat pada 14 Januari 2021.

Sejak saat itu, kasus COVID-19 di Mamuju mulai berkurang, bahkan sempat tidak ada kasus. Hanya saja, potensi penyebaran virus varian Omicron kembali menyebabkan kekhawatiran.

Namun, ketersediaan peralatan test rapid untuk COVID-19 telah membantu pekerjaan para tenaga kesehatan seperti Panca. Melalui ketersediaan tes diagnosa cepat pendeteksi antigen (Ag-RTDs) dari Pemerintah Australia, yang didistribusikan ke berbagai Puskesmas di Sulawesi Barat, seperti Puskesmas Binanga, tes berkala dapat dilaksanakan secara cepat dan gratis. Ini cukup membantu dalam menanggulangi penyebaran virus di kota-kota kecil layaknya Mamuju, dimana hanya ada satu rumah sakit rujukan COVID-19 untuk merawat pasien dengan memfasilitasi isolasi dan pelacakan kontak erat secara tepat waktu.

“Kita bisa memperoleh hasil diagnosis dengan cepat, yang artinya kita bisa memberikan perawatan secara cepat juga,” ungkap Panca.

Panca sedang mempersiapkan peralatan tes antigen di Puskesmas Binanga.
UNICEF/UN0594436/Al Asad
Panca sedang mempersiapkan peralatan tes antigen di Puskesmas Binanga.

Muhammad Yusman, sebagai satu-satunya petugas surveilans di Puskesmas Binanga, mengatakan bahwa ketersediaan tes antigen telah membantu penyaringan dan deteksi dini, khususnya menjelang liburan akhir tahun ketika semakin banyak orang melakukan perjalanan. Dengan waktu 15 menit untuk memperoleh hasil tes dan tingkat akurasi setara dengan standar tes Polymerase Chain Reaction (PCR), peralatan tes antigen cukup mengurangi beban kerja para tenaga kesehatan.

Sebelumnya, kemampuan laboratorium PCR di Mamuju terbatas. Tenaga kesehatan biasanya harus menempuh 10 jam perjalanan darat dengan bis untuk mengirim sampel ke Makassar, ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan. Ketika kasus sedang memuncak, sebagian tenaga kesehatan di daerah terpaksa harus menghabiskan malam di perjalanan, dan membutuhkan waktu berhari-hari bahkan berminggu-minggu agar hasil bisa sampai ke pasien.

“Kami selalu waspada. Kami bekerja dengan pihak berwenang untuk memastikan bahwa setiap orang yang datang ke sini sudah dites untuk menghindari penularan,” jelas Yusman.

Rindima, perawat gigi, sedang merawat pasien di Puskesmas Binanga.
UNICEF/UN0594485/Syakriah
Rindima, perawat gigi, sedang merawat pasien di Puskesmas Binanga.

Selain memastikan keamanan masyarakat, peningkatan tes juga membantu melindungi tenaga kesehatan. Rindima, perawat gigi di Puskesmas Binanga, sempat harus menghentikan pekerjaan beberapa kali di awal pandemi setelah pasien dan tenaga kesehatan terkonfirmasi positif. Setelah mendapatkan peralatan tes antigen pada 2021, ia mulai bisa memberikan pelayanan kesehatan gigi tanpa adanya gangguan berarti karena semua pasien sudah melalui proses screening terlebih dahulu sebelum memperoleh tindakan.

Ingin Membantu Kader Kesehatan Menghadapi Tantangan Tugas di Tengah Pandemi COVID-19?

Kisah di atas hanyalah salah satu contoh dari pekerjaan UNICEF bersama dengan mitra berdedikasi untuk memastikan akses layanan kesehatan COVID-19 bagi masyarakat di wilayah pascabencana.

Tantangannya masih jauh dari selesai, dan upaya terkoordinasi jangka panjang akan diperlukan untuk mendukung kegiatan para petugas kesehatan. Untuk ini kami membutuhkan dukungan Anda.

Jika Anda ingin membantu petugas kesehatan untuk terus memberikan layanan penting selama dan setelah pandemi COVID-19, mohon pertimbangkan untuk berdonasi ke UNICEF. Kami sangat menghargai kontribusi Anda.

Donasi Sekarang
Panca berada di dalam lab medis.
UNICEF/UN0594442/Al Asad
Panca berada di dalam lab medis.

“Tes antigen cukup membantu dalam mengurangi risiko penularan, yang membuat saya merasa aman, terlebih karena saya punya anak di rumah,” kisah Rindima yang lengkap menggunakan Alat Pelindung Diri. 

UNICEF Indonesia menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Australia atas dukungannya dalam pengendalian COVID-19 di Indonesia.