Menyuarakan Hak-Hak Anak Melalui Media

Aliansi Jurnalis Independen Indonesia dan UNICEF memprakarsai rangkaian lokakarya guna membantu para jurnalis mewujudkan pemberitaan beretika bagi kesehatan anak

Hafiz Al Asad
Jurnalis Delima Napitupulu (tengah) berbagi pengalamannya meliput berita tentang anak pada saat pelatihan workshop bertemakan Mendorong Hak Sehat Anak Melalui Imunisasi.
UNICEF/2022/Hafiz Al Asad
04 Juli 2022

Sebagai jurnalis dan ibu dari empat anak, Delima Napitupulu selalu terpanggil untuk meliput hak-hak anak melalui media tempat dia bekerja. Setelah satu dekade bekerja di kantor redaksi sebuah media di provinsi Lampung, ia merasa masih ada hal lebih yang dapat dia perjuangkan, khususnya bagi kesehatan anak.

“Saya pikir memberitakan (kepada para pembaca) tentang jadwal imunisasi saja sudah cukup,” ungkapnya. “Namun rupanya sekedar cukup saja tidak cukup, khususnya untuk generasi yang akan datang.”

Meski pun media di Indonesia telah mengalami perkembangan pesat sejak reformasi 1998, konsep untuk konsisten mengangkat isu-isu yang terkait dengan hak-hak anak umumnya belum bisa terlaksana maksimal. Banyak wartawan yang belum memahami standar etika pemberitaan terkait anak, seperti memastikan anak-anak mau pun pengasuh atau orang tua mereka paham tentang izin yang terinformasi atau informed consent mau pun memahami kondisi psikologis anak, ketika jurnalis perlu mengambil dokumentasi anak dalam bentuk foto mau pun video.

Selain itu, pemberitaan mengenai anak masih cenderung mengambil pendekatan sensasional alih-alih sensitif dan proaktif. Masih jarang media arus utama yang memiliki rubrik khusus tentang anak dan remaja. Dampaknya, hingga saat ini pemberitaan tentang anak belum sepadat yang diharapkan karena masih dijejalkan kedalam rubrik perempuan ataupun sosial masyarakat dan humaniora.

Luviana Ariyanti, pembicara dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mempresentasikan pandangannya mengenai kode etik peliputan tentang isu kesehatan anak.
Personal Collection/2022/Luviana Ariyanti
Luviana Ariyanti, pembicara dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mempresentasikan pandangannya mengenai kode etik peliputan tentang isu kesehatan anak.

“Melihat cara media menggambarkan anak-anak, kalau bukan normatif, selebratif, ya kasuistik,” kritik Luviana Ariyanti, pembicara dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI). “Contohnya, bagaimana mendapatkan vaksin, kasus hukum terhadap anak, atau (baru dimuat) jika mereka selebriti atau anak orang terkenal. Apakah ini memenuhi hak-hak anak? Saya rasa tidak.”

 

Dua hari lokakarya untuk asa sepanjang masa

Menanggapi masalah tersebut, UNICEF bekerjasama dengan AJI menghelat lokakarya selama dua hari bagi para wartawan guna mendukung pemenuhan hak-hak anak melalui imunisasi. Acara ini dilaksanakan di Jakarta pada akhir Maret 2022, dan merupakan bagian dari tiga lokakarya (dua daring, satu luring) yang bertujuan meningkatkan pemahaman para wartawan terkait hak-hak anak dan mendorong advokasi melalui media guna mendukung kesehatan anak di Indonesia.

Selama pelatihan luring ini, Delima dan 15 wartawan lainnya turut serta dalam sesi yang dipandu oleh perwakilan dari Pemerintah Indonesia, UNICEF dan media untuk belajar lebih tentang penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi (VPDs), pentingnya imunisasi dan tantangan menjangkau vaksinasi anak. Sesi itu juga menyentuh ihwal etika jurnalisme dan aspek penting terkait data, dari bagaimana cara memperoleh informasi dan bagaimana menyajikannya.

 

Menangani kematian anak yang dapat dicegah

Meskipun kesehatan dan kemampuan bertahan anak di Indonesia meningkat secara substantif selama lebih dari dua dekade belakangan, kendala besarnya tetap menghantui. Menurut data UNICEF, ada lebih dari 110,000 kematian anak di bawah umur lima tahun pada 2020.

Pewartaan yang memadai oleh media bisa berperan besar dalam memberikan informasi kepada orang tua untuk kesehatan anak-anak serta memutar balik kondisi yang ada.

“Media memiliki peranan besar dalam menginformasikan masyarakat. Mereka bisa memberikan pemahaman yang menyeluruh mengenai isu yang berdampak pada anak serta efek positif bagaimana menjaga anak,” ujar Kinanti Pinta Karana, Media Spesialis UNICEF. “Dengan mengikut sertakan wartawan dalam lokakarya, kita berharap mereka bisa berkontribusi kepada pemberitaan berkualitas dan beretika terkait anak tanpa merongrong hak dan khususnya harga diri mereka.”

Kinanti Pinta Karana, Media Spesialis UNICEF, memberikan pengarahan tentang pentingnya menjaga hak-hak anak melalui media.
UNICEF/2022/Hafiz Al Asad
Kinanti Pinta Karana, Media Spesialis UNICEF, memberikan pengarahan tentang pentingnya menjaga hak-hak anak melalui media.

Usai terlibat dalam pelatihan, Delima merasa lebih percaya diri dalam menyuarakan hak-hak anak di lingkungan kerjanya. Di Lampung, dia berkeinginan mewartakan perihal anak Zero Dose yang gagal menerima vaksinasi rutin mereka untuk membantu menaikkan tingkat vaksinasi dan mencegah wabah penyakit yang dapat dicegah.

“Saya bahagia bisa menjadi bagian dari pelatihan ini karena saya menjadi sadar tentang beragam cara memenuhi hak-hak anak melalui media,” cerita Delima. “Saya mungkin hanya menjadi bagian dari pelatihan ini selama dua hari, tetapi wawasan yang saya terima akan bertahan selama bertahun-tahun, untuk anak-anak saya dan yang lainnya.”


UNICEF Indonesia berterima kasih atas dukungan yang diterima dari mitra utama, termasuk Gavi, Aliansi Vaksin, Pemerintah Australia, Selandia Baru dan Amerika Serikat, serta KOICA (Badan Kerjasama Internasional Korea).