Gigih mengupayakan perubahan: pesan SMS dukung kesejahteraan anak di Aceh

Inovasi digital membantu tenaga kesehatan memantau kesehatan ibu dan anak, dan memberikan layanan penting melalui posyandu.

Ardila Syakriah, Communications Officer
Nurbaiti, seorang kader kesehatan, saat melakukan kunjungan rumah di Sabang, Provinsi Aceh.
UNICEF/2021/Ardila Syakriah
15 Desember 2021

Di Gampong Paya Seunara, Pulau Sabang, yang berbukit dan dikelilingi pemandangan indah, upaya mengimunisasi anak bukan hal yang mudah. Keengganan orang tua untuk membawa anak-anak mereka menerima vaksin umumnya disebabkan ketakutan akan efek samping dan keraguan terhadap kehalalan vaksin.

Namun, tantangan ini justru disambut oleh Nurbaiti, seorang kader posyandu. Bersama rekan-rekan kadernya, Nurbaiti bertugas memantau kondisi gizi dan kesehatan balita dan ibu hamil, termasuk status vaksinasi anak.

Di Indonesia, angka anak yang tidak diimunisasi adalah yang keempat terbesar di dunia. Di Provinsi Aceh, cakupan vaksinasi anak lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional, dan hal ini menyumbang angka kematian balita yang lebih tinggi di provinsi ini. Anda dapat berpartisipasi dengan membantu UNICEF dan Nurbaiti melalui tautan ini.

Nurbaiti menolak berpangku tangan menyaksikan anak-anak di desanya terpapar risiko terkena penyakit yang seharusnya dapat dicegah—meski sikapnya ini seringkali membuatnya tidak disukai, bahkan dianggap sebagai musuh oleh sebagian orang.

“Kita tidak bisa memaksa orang tua. Kita hanya bisa membujuk dan membuat mereka paham kenapa anak perlu imunisasi,” kata Nurbaiti.

Sebagai bagian dari tugasnya, Nurbaiti rutin mencatat nama, tanggal lahir, dan posyandu tempat bayi terdaftar untuk pemantauan tumbuh kembang setiap bulan. Biasanya, data-data ini ia dapatkan dari orang tua dan pengasuh anak saat mereka datang ke posyandu. Namun, ada kalanya ia harus pergi dari rumah ke rumah.

Tugas ini bukanlah hal baru baru Nurbaiti. Dahulu, ia pernah menjadi asisten bidan dan membantu bidan memberikan layanan pasca-persalinan ke rumah-rumah di atas bukit—mereka biasanya harus memarkir motor di titik terdekat dan berjalan hingga sampai ke rumah pasien.

Mengingat tanggung jawabnya yang cukup besar, Nurbaiti pun menyambut gembira kampanye penggunaan pesan singkat (SMS) yang diluncurkan UNICEF pada tahun 2019. SMS digunakan sebagai sarana untuk mengingatkan orang tua tentang jadwal kunjungan anak ke posyandu, termasuk jadwal imunisasi dan tahap perkembangan anak berdasarkan usianya. SMS dikirimkan oleh UNICEF langsung ke ponsel orang tua. Hal ini tak lepas dari pendataan yang dilakukan oleh Nurbaiti dan kader kesehatan lainnya. Anda bisa berdonasi untuk mendukung kader seperti Nurbaiti.

“Dengan adanya SMS, kami [kader] tidak harus bekerja sendirian mendorong orang tua untuk memvaksin anak-anaknya,” kata Nurbaiti.

 

“Kalau orang tua lupa jadwal vaksin—atau tidak pernah mau anaknya divaksin—SMS ini bisa mendorong mereka.”

Layanan SMS di atas adalah bagian dari sistem pemantauan digital e-Posyandu yang diluncurkan di delapan kabupaten di Aceh dengan dukungan UNICEF. ePosyandu menggunakan platform RapidPro dan ONA yang berbasis web sebagai sistem pendataan secara real time. RapidPro kemudian mengirimkan SMS kepada orang tua, berisi status kesehatan anak atau pengingat jadwal pemeriksaan kehamilan dan konsumsi zat besi seusai tahapan kehamilan.

Contoh e-Posyandu dashboard yang menampilkan fitur-fitur pemantauan kinerja posyandu berdasarkan indikator kapasitas dan kesehatan anak.
•	Contoh e-Posyandu dashboard yang menampilkan fitur-fitur pemantauan kinerja posyandu berdasarkan indikator kapasitas dan kesehatan anak.
UNICEF/2021
Contoh e-Posyandu dashboard yang menampilkan fitur-fitur pemantauan kinerja posyandu berdasarkan indikator kapasitas dan kesehatan anak.

Sementara itu, platform ONA memungkinkan pendataan secara daring dan luring dengan akurasi dan efisiensi yang tinggi. ONA meminimalkan risiko kesalahan manusia dan mendukung pekerjaan pegawai dinas kesehatan di daerah-daerah yang sulit mengakses internet. Data kemudian divisualisasikan melalui sebuah situs agar informasi mudah dimengerti dan dapat menjadi dasar bagi intervensi berbasis bukti yang akurat dan tepat waktu.

Dalam beberapa tahun terakhir, sistem kesehatan Indonesia memang gencar menerapkan digitalisasi, termasuk pada tingkat posyandu. Melalui e-Posyandu, yang membuka jalur komunikasi antara pemerintah dan masyarakat, orang tua dapat menerima informasi penting via ponsel mereka secara teratur. Sementara itu, tenaga kesehatan dapat berkoordinasi erat dengan pegawai dinas kesehatan menggunakan WhatsApp. Sistem pemantauan yang baru ini juga menguatkan kemampuan pemerintah dalam melacak kinerja upaya kesehatan masyarakat sekaligus informasi kinerja setiap posyandu.

Bagi Nurbaiti, inovasi seperti e-Posyandu adalah angin segar dalam perbaikan status kesehatan anak di desanya—sebuah upaya yang diumpamakan Nurbaiti seperti tetesan air yang melubangi batu. Dengan pendekatan yang tepat dan konsisten, orang tua pun diharapkan akan lebih terbuka terhadap upaya kesehatan yang bermanfaat bagi anak-anak mereka. Kedermawanan Anda dapat membantu kami mengembangkan inovasi seperti e-Posyandu yang meningkatkan akses layanan kesehatan di Indonesia. Donasi ke UNICEF sekarang!

Seorang tenaga sukarela kesehatan sedang menimbang anak saat jadwal memantau tumbuh kembang di sebuah posyandu di Aceh (foto diambil sebelum pandemi COVID-19).
UNICEF/2020/Noorani
Seorang tenaga sukarela kesehatan sedang menimbang anak saat jadwal memantau tumbuh kembang di sebuah posyandu di Aceh (foto diambil sebelum pandemi COVID-19).

“Kalau mereka marah, emosi kita tidak boleh ikut terpancing,” katanya.

 

“Kita harus tenang, tetap tersenyum, meskipun kita juga kesal. Cuma itu satu-satunya cara.”