Upaya Remaja Mencegah Anemia

Setelah sekolah-sekolah ditutup akibat pandemi COVID-19, para pendukung sebaya di Lombok Barat membagikan tablet tambah darah langsung kepada remaja perempuan sebagai kelompok yang berisiko mengalami anemia.

UNICEF
Nurjawanis and her classmates
UNICEF/2020/Blandina Rosalina Bait
30 Juli 2020

“Saya senang sekali mendapat tugas ini. Saya tidak hanya dapat membantu teman-teman tetap sehat selama pandemi, tetapi juga bisa bertemu mereka walaupun hanya sebentar,” kata Nurjawanis.

Berusia 14 tahun dan duduk di bangku SMA, Nurjawanis membantu mencegah anemia dengan membagi-bagikan tablet tambah darah (TTD), yang mengandung asam folat dan zat besi, kepada teman-temannya. Ia bertindak sebagai pendukung sebaya untuk gizi remaja di Lombok Barat. Sekolahnya sedang ditutup karena pandemi COVID-19, sehingga Nurjawanis harus berkunjung langsung ke rumah sekitar 10 remaja perempuan yang terletak dekat dengan rumahnya sendiri.

Di Indonesia, sekitar 22,7 persen perempuan usia 14 hingga 18 tahun mengalami anemia. Dalam kondisi ini, darah kekurangan sel darah merah yang cukup sehat untuk bisa mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh[1]. Anemia umumnya disebabkan oleh kekurangan mikronutrien dan kualitas gizi yang rendah, serta dapat mengakibatkan rasa letih, sesak napas, kesulitan berkonsentrasi, dan penurunan kinerja kognitif.

Keadaan anemia pada remaja perempuan dapat berlanjut saat mereka menjadi ibu. Selama kehamilan, mereka pun lebih berisiko mengalami perdarahan pasca-persalinan, melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah, bayi lahir prematur, atau kelahiran mati. Selain itu, anak-anak mereka lebih mungkin mengalami stunting, sehingga meneruskan siklus malnutrisi yang merusak.

Nurjawanis delivers IFA tablets
UNICEF/2020/Blandina Rosalina Bait
Nurjawanis memerikan TTD kepada sesama remaja putri yang tinggal di dekat rumahnya di Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

“Di sekolah, saya belajar bahwa anemia sering kali terjadi pada remaja perempuan, terutama pada saat menstruasi. Sebab itulah, TTD sangat penting untuk mencegah remaja perempuan agar tidak mengalami anemia dan membantu memperbaiki peredaran darah. Dengan begitu, daya konsentrasi mereka membaik dan hidup lebih sehat,” Nurjawanis menerangkan dengan bersemangat.

Terdapat 186 kelompok dukungan sebaya yang tersebar di 48 sekolah di Lombok Barat. Kelompok-kelompok ini adalah bagian dari AKSI BERGIZI, sebuah program multisektor yang bertujuan mengatasi tiga beban malnutrisi, yakni gizi rendah, anemia, dan obesitas. Pada tahun 2019, pemberian TTD melalui AKSI BERGIZI menjangkau lebih dari 60.000 remaja perempuan di Lombok Barat. Sebanyak 4.000 di antaranya dijangkau oleh pendukung sebaya seperti Nurjawanis.

Namun, menurut survei daring yang diadakan UNICEF baru-baru ini terhadap lebih dari 6.000 anak muda Indonesia, hampir 90 persen remaja perempuan berhenti mengonsumsi TTD selama pandemi.

“Pandemi COVID-19 menghentikan layanan gizi yang esensial bagi remaja di Indonesia, dan hal ini berdampak besar terhadap status gizi mereka,” ujar UNICEF Nutrition Chief Jee Hyun Rah. “Langkah inovatif, seperti pelibatan sukarelawan sebaya, dibutuhkan untuk mempertahankan dan mempromosikan akses kepada layanan gizi esensial untuk remaja.”

An adolescent girl takes an IFA tablet
UNICEF/2020/Blandina Rosalina Bait
Seorang remaja perempuan mengonsumsi TTD setelah menerimanya dari Nurwajanis.

Sejak pandemi terjadi, Nurjawanis pun beradaptasi dan menerapkan protokol kesehatan untuk melindungi diri dan teman-temannya. Sebelum membagi-bagikan TTD, Nurjawanis menghubungi teman-temannya dan membuat janji temu. Di rumah mereka, ia memastikan ia selalu mengenakan masker, menjaga jarak minimal 1,5 meter, dan memilih bertamu di teras atau halaman rumah.

“Tugas saya belum selesai hanya dengan membagikan TTD,” katanya. “Saya juga harus mengingatkan teman-teman agar TTD dikonsumsi.”

Nurjawanis sendiri rutin mengonsumsi TTD sekali seminggu.

“Saya harus memberikan contoh, meskipun sedih dan kesepian rasanya harus mengonsumsi sendirian TTD di rumah dibandingkan meminumnya bersama-sama teman di sekolah,” kata Nurjawanis sambil menarik napas dalam-dalam. “Yang paling membuat sedih selama pandemi ini adalah saya tidak bisa berpegangan tangan atau memeluk sahabat sampai vaksin tersedia,” ia melanjutkan dengan mata berkaca-kaca.

“Saya suka bernyanyi. Jadi, ketika merasa sedih karena tidak bisa pergi ke sekolah, bertemu teman, dan melakukan kegiatan seru bersama-sama, saya bernyanyi. Bernyanyi membuat saya tenang dan riang kembali,” tambahnya sambal tersenyum.