Tetap Berprestasi di Tengah Pandemi COVID-19

Anak dan remaja di Jawa Tengah mempelajari kecakapan baru untuk melawan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas dan gangguan mental.

UNICEF
Ariel Fitriani smiling
UNICEF/2021
03 September 2021

Ariel Fitriani tidak pernah membiarkan kebutaan menghalangi dirinya meraih cita-cita sebagai penyanyi profesional. Remaja berusia 17 tahun dengan pembawaan ceria, Ariel saat ini berstatus pelajar jurusan Seni Karawitan di sebuah SMK di Kota Surakarta, Jawa Tengah. Setelah lulus kelak, ia berencana mendaftar ke lembaga pendidikan seni ternama, Institut Seni Indonesia (ISI), Ariel ingin menjadi penyandang disabilitas netra pertama yang berhasil menjadi komponis karawitan dan berangan-angan mendirikan studio karawitan bagi anak-anak muda penyandang disabilitas.

Akan tetapi, perjalanan Ariel untuk mewujudkan mimpinya terhambat oleh pandemi COVID-19. Pandemi membatasi ruang gerak Ariel lebih dari disabilitas yang ia alami.  

“Sudah lebih dari setahun saya di rumah, belajar secara jarak jauh. Kondisi ini sulit untuk saya, karena pelajaran SMK seharusnya menekankan pada praktik dan percobaan. Belajar jarak jauh berarti tidak ada guru yang bisa mendampingi saya,” jelas Ariel yang, meskipun kecewa, tetap menampakkan sikap yang positif dan mampu mengungkapkan pendapatnya dengan baik.

“Saya dulu sering tampil di acara-acara, main gamelan. Saya juga aktif di komunitas penyandang disabilitas serta ikut dalam banyak kegiatan mereka,” lanjutnya. “Namun, sejak pandemi, saya tidak bisa bertemu siapa-siapa.”

Ariel mengaku bahwa, setelah beberapa waktu, pandemi mulai memengaruhi kondisi kesehatan mentalnya. Ia mulai sulit mengendalikan emosi, sementara rasa keyakinan dan kepercayaan dirinya menurun.

Dukungan datang pada Maret 2021 ketika Ariel dan teman-temannya di Komunitas Sahabat Difabel Semarang diminta ikut sebagai peserta dalam kegiatan Pelatihan Kecakapan Hidup. Kegiatan itu adalah bagian dari program Safe and Friendly Environment for Children (SAFE4C).

Diimplementasikan oleh Yayasan Setara dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Jawa Tengah dengan dukungan dari UNICEF, SAFE4C bertujuan menciptakan lingkungan yang aman dan ramah anak di 10 kota dan kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Kegiatan program meliputi pembinaan anak dan remaja agar mampu menjadi sumber pengetahuan bagi teman sebayanya. Hal ini hendak dicapai melalui pemberian informasi kecakapan hidup, peningkatan pengetahuan tentang perilaku aman, dan fasilitasi akses anak ke layanan perlindungan saat dibutuhkan. Selain itu, SAFE4C turut mendukung penguatan layanan perlindungan anak berbasis masyarakat untuk mempromosikan deteksi dan respons dini terhadap kekerasan terhadap anak serta pendidikan keluarga, termasuk informasi tentang pengasuhan yang positif.

Ariel menyatakan gembira mendapat tawaran menghadiri pelatihan secara tatap muka dan mempelajari keterampilan yang tidak akan didapatnya di tempat lain.

“Kami belajar banyak hal selama kegiatan, mulai dari literasi digital hingga kesehatan reproduksi,” katanya. “Kegiatan itu menarik karena memang dirancang khusus bagi remaja dan anak muda dengan disabilitas. Selama bertahun-tahun saya berinteraksi dengan teman-teman, khususnya penyandang disabilitas intelektual, kami belum pernah diberikan pendidikan kesehatan reproduksi.”

“Perangkat informasi literasi dan keamanan digital juga penting, karena teman-teman disabilitas sama sekali belum tahu cara menggunakan media sosial dengan aman dan tidak paham risiko berinteraksi dengan orang yang tidak dikenal di dunia maya.”

Ariel uses a screen reader to take her school exam remotely from her home in Semarang.
UNICEF/2021
Ariel menggunakan pembaca layar untuk mengikuti ujian sekolah dari rumahnya di Semarang.

Shildam Putra, peserta kegiatan serupa di Kota Surakarta, menyatakan ia berterima kasih kepada program yang telah meningkatkan kesadaran tentang kesehatan mental. Sebagai aktivis muda, remaja berusia 17 tahun ini telah terlibat dalam kampanye kesehatan mental untuk anak yang dilaksanakan melalui stasiun radio.

Discussion in a local radio
UNICEF/2021
Shildam (kiri) dan Trinita dari Forum Anak Surakarta saat membicarakan kesehatan mental remaja di masa pandemi di Radio Konata, Surakarta. Melalui kerja sama dengan radio komunitas ini, keduanya berharap kampanye kesehatan mental dapat menjangkau semua remaja di Surakarta.

“Pandemi ini berdampak terhadap anak-anak di Kota Surakarta. Banyak anak yang kehilangan minat belajar dan hal ini akhirnya berpengaruh terhadap kesehatan mental kami,” cerita Shildam. “Sayangnya, kesadaran masyarakat dan pengakuan terhadap kesehatan mental masih rendah. Masih banyak yang memberikan stigma dan secara terang-terangan mengejek orang lain yang mengalami masalah kesehatan mental—mereka dikatai mengalami mental breakdance, bukannya mental breakdown, dan hal ini membuat kondisi seseorang kian parah.”

Ariel dan Shildam bertekad menyebarluaskan pengetahuan yang mereka dapatkan dari SAFE4C kepada teman dan komunitas karena pengetahuan itu sangat bermanfaat bagi teman-teman mereka. Ariel dan Shildan juga yakin bahwa mereka, dan remaja lainnya, akan tetap dapat berprestasi pada masa ini dan masa yang selanjutnya.

 

UNICEF berterima kasih kepada para mitra utama, termasuk Temasek, atas dukungan terhadap upaya kesehatan dan perlindungan bagi anak-anak yang paling rentan di masa pandemi COVID-19.