Berada di garda depan COVID-19, pedoman tepat dapat menjaga tenaga kesehatan tetap aman

UNICEF bekerja sama dengan mitra untuk menyediakan pedoman dan alat-alat kesehatan untuk menjamin tenaga kesehatan dapat menjalankan tugas mereka dengan aman dan efektif di masa pandemi.

UNICEF
Online workshop with health offices across Indonesia
UNICEF Indonesia/2020
12 Mei 2020

 “Kami tetap kerja untuk kalian. Kalian tetap di rumah untuk kami.”

Pasti banyak di antara kita yang melihat kata-kata ini bertebaran di linimasa media sosial, pesan yang ditulis oleh tenaga kesehatan untuk meminta masyarakat mengambil bagian dalam upaya memperlambat penyebaran virus dan mencegah rumah sakit mengalami kelebihan kapasitas.

Bagi sebagian besar tenaga kesehatan, diam di rumah bukanlah sebuah pilihan. Pekerjaan mereka mengharuskan mereka berada di garda depan penanganan COVID-19, bekerja keras di berbagai fasilitas kesehatan supaya setiap orang dapat menerima penanganan medis yang dibutuhkan. Di tengah krisis, kerapkali luput dari perhatian kita, bahwa para dokter dan perawat bekerja di wilayah yang masih asing, seringkali tanpa perlengkapan yang memadai untuk melindungi kesehatan mereka.

“Rekan-rekan kerja saya dan saya sendiri merasa khawatir dan gelisah,” kata Sri Mulyani, koordinator bidan di Puskesmas Kuripan di Lombok, Nusa Tenggara Barat. “Tapi kami selalu siap melakukan pekerjaan kami.”

Dalam upaya memenuhi kebutuhan mereka, UNICEF mendukung Kementerian Kesehatan mengembangkan pedoman untuk tenaga kesehatan seputar langkah-langkah aman yang dapat mereka terapkan ketika memberikan layanan medis, terutama bagi ibu dan anak-anak selama pandemi. UNICEF juga mendukung Kementerian Kesehatan mendatangkan peralatan kesehatan, seperti masker, sarung tangan, termometer, dan Alat Pelindung Diri (APD).

A community health centre in Klaten
UNICEF/2020/Fauzan Ijazah
Sebuah Puskesmas di Klaten, Jawa Tengah, menerapkan prosedur keamanan bagi pengunjung.

“Ini adalah kali pertama kami menangani pandemi, sehingga prosedur standarnya masih belum jelas,” Sri Mulyani menjelaskan. “Pedoman-pedoman ini memberikan instruksi bagaimana kami dapat menjalankan tugas kami.”

Untuk menyebarluaskan pedoman ini dan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang pelaksanaannya, serangkaian lokakarya daring diadakan dengan perwakilan dinas kesehatan provinsi, kabupaten, dan Puskesmas dari seluruh Indonesia.

“Kita harus mempertimbangkan dengan baik bagaimana layanan dapat tetap diberikan tanpa melanggar prinsip-prinsip untuk memutus penyebaran virus,” kata Dr. Kirana Pritasari, Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, dalam pembukaan salah satu sesi. “Dokumen-dokumen ini dikembangkan sebagai pedoman pelaksanaan.”

Dr. Pritasari menghimbau para peserta untuk membagikan informasi ini ke seluruh tenaga kesehatan, termasuk dokter pribadi, bidan, dan tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas, serta masyarakat luas agar mereka tahu ke mana harus mencari pertolongan medis.

Health workers during COVID-19
UNICEF Indonesia/2020
Seiring dengan penyebaran virus di Indonesia, langkah-langkah untuk menjaga tenaga kesehatan tetap aman sangat penting untuk terus melakukan intervensi yang penting untuk ibu hamil dan bayi baru lahir.

Mengingat virus telah menyebar ke berbagai provinsi di Indonesia, kebutuhan untuk menerapkan langkah-langkah untuk menjamin keamanan tenaga kesehatan menjadi sangat mendesak. Di Pulau Lombok, Puskesmas Narmada telah melaporkan adanya kasus COVID-19 di tiga dari sebelas desa yang mereka kelola.

Staf telah mengambil langkah pencegahan sesuai dengan pedoman baru, sebagian karena mereka mengalami kekurangan APD. Hal ini meliputi pembatasan interaksi tatap muka, dan menggunakan telepon dan internet untuk mengecek kondisi pasien mereka secara virtual.

“Saya menyampaikan kepada bidan-bidan di desa agar hanya pasien yang memiliki risiko tinggi, pasien dengan penyakit serius, atau mereka yang membutuhkan penanganan khusus yang perlu datang ke Puskesmas,” jelas Rita Susilo, koordinator bidan. “Jika bidan dapat menangani sendiri pasien mereka, maka ibu hamil tidak perlu datang ke Puskesmas.”

Bagi Sri Mulyani, pedoman ini penting sebagai upaya memastikan bidan-bidan tetap dapat melakukan pekerjaan mereka. Intervensi yang penting bagi ibu hamil dan bayi baru lahir, dan bagi mereka yang termasuk kelompok dengan risiko tinggi, tidak boleh terganggu.

“Ibu hamil memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah sehingga mereka lebih rentan di masa pandemi COVID-19,” lanjutnya. “Untuk itu, sangat penting bagi kami untuk terus menyediakan layanan kesehatan bagi mereka, sambal tetap menjaga tenaga kesehatan tetap aman.”

 

UNICEF berterima kasih kepada Pemerintah Jepang yang telah memberikan dukungan mereka untuk menjaga anak-anak yang rentan tetap sehat dan terlindungi selama pandemi COVID-19.