Melakukan Hal Kecil dengan Hati Besar

Tenaga kesehatan di Papua Barat terus bekerja mencegah penularan HIV di tengah pandemi COVID-19

Adinda Silitonga dan Rustini Floranita
A health worker takes a blood sample from a patient
HAKLI Papua Barat/Nusaybah Amatullah
09 November 2020

PAPUA, Indonesia – Setiap pekan, Everdina Wanggai mengundang orang dengan HIV-AIDS (ODHA) yang berada di Manokwari untuk berkumpul di rumahnya dan berkenalan dengan sesama ODHA. Kelompok ini ia ibaratkan koleksi cangkang kerang miliknya yang ia tata berdasarkan kesamaan bentuk. ODHA pun demikian; mereka disatukan oleh diagnosis dan pengalaman yang serupa.

“Segala sesuatu yang berpola itu menarik,” katanya, sambil menunjuk ke arah cangkang-cangkang kerang laut. “Cangkang dikelompokkan berdasarkan pola, artinya setiap orang yang datang harus punya cara pikir yang sama agar dapat berkumpul di Rumah Inspirasi ini.”

Everdina, yang akrab disapa Evi, adalah koordinator laboratorium di Puskesmas Wosi di Manokwari, Papua Barat. Ia juga menjadi penanggung jawab program HIV di puskesmas itu. Pada tahun 2018, Puskesmas Wosi dipilih sebagai penerima dukungan UNICEF dan Global Fund dalam bentuk pelatihan dan bimbingan dalam memberikan layanan pencegahan penularan ibu ke anak dan diagnosis dini pada bayi (PMTCT-EID).

Sebagai bagian dari dukungan tersebut, Evi berkesempatan menghadiri pelatihan nasional untuk mencetak pelatih. Selama kegiatan ini, Evi dan tenaga kesehatan lain yang berada di garda depan program EID belajar cara mendeteksi HIV, sifilis, dan hepatitis pada bayi baru lahir.

EID adalah proses deteksi dini terhadap bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan status positif HIV. Inilah langkah pertama mendeteksi HIV, menyediakan pengobatan dan terapi, dan langkah pencegahan lain untuk memastikan anak senantiasa bebas HIV. EID memastikan agar semua bayi yang terpapar HIV dapat diperiksa dan, jika didapati tertular, bisa mendapatkan pengobatan dengan segera. Dengan demikian, EID adalah dukungan penting bagi anak agar tetap bertahan hidup.

Evi sendiri merupakan ibu dari tiga orang anak. Rasa cintanya kepada Papua mendorong Evi untuk terus bekerja selama pandemi. “Meskipun sekarang ada COVID, saya tetap bekerja,” katanya. “Saya seorang ibu, jadi saya merasa bahwa bayi-bayi yang lahir semasa COVID, atau yang sudah berada di bawah perawatan kami, adalah tanggung jawab kami sebagai ibu.”

A health worker takes a blood sample from a patient
HAKLI Papua Barat/Nusaybah Amatullah
Evi mengambil sampel darah dari seorang pasien di Puskesmas Wosi

Pada tahun 2019, Evi melakukan tes HIV terhadap 30 bayi yang lahir dari ibu yang positif HIV di Manokwari. Tahun ini, dari 24 sampel, ia telah menguji 14 di antaranya. Pekerjaan Evi kerap kali menuntutnya bepergian jauh. Dari Manokwari, ia pernah harus mengunjungi Teluk Wondana yang berjarak 12 jam berkendara. Namun, Evi tak pernah mengeluh. Ia bahagia bahwa kerja kerasnya membuahkan hasil. “Moto saya adalah, lakukan hal kecil dengan hati yang besar,” ujarnya.

Menangani program HIV bukan pekerjaan yang mudah dan ada begitu banyak tantangan yang ia hadapi setiap hari. “Di program HIV, ada lebih banyak duka daripada suka” kata Evi. “Namun, karena sudah berkomitmen, kami akan tetap berjuang.”

Bagi Evi, suka adalah ketika ia dan timnya menyaksikan seorang bayi yang lahir dari ODHA tidak tertular virus HIV. “Apabila diagnosis HIV diketahui sejak trimester pertama, maka virus bisa ditangani dengan terapi antiretroviral selama enam bulan. Saya akan sangat bersyukur jika hasil EID kemudian negatif. Saya adalah salah seorang ibu yang mendapat keistimewaan bergabung dengan program ini dan membantu memutus rantai penularan sejak dini.”

Tantangan lain yang ia hadapi biasanya bersifat budaya, sosial, dan berkaitan dengan stigma. Ada pula masalah buta aksara dan ketidakmampuan membaca waktu di kalangan warga di tempat terpencil. Hal ini menyulitkan mereka menjalani pengobatan HIV dengan benar karena obat harus diminum pada jam yang persis sama, setiap hari. Pemahaman terhadap layanan kesehatan, khususnya HIV dan PMTCT, juga terbatas. Untuk mengatasi isu-isu ini, Evi bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk membuat bahan edukasi dan informasi dalam dialek setempat.

Semangat juang Evi memang tidak pernah padam meskipun terdapat berbagai tantangan di atas. “Saya bahagia melihat anak-anak yang pernah menjalani tes EID saya tumbuh sehat dan menjadi bagian dari generasi penerus bangsa, di mana pun mereka berada,” jelas Evi.

“Di Papua Barat, khususnya di Manokwari, kami perlu terus menyosialisasikan program HIV dan kesehatan,” lanjutnya, “Dan kami membutuhkan orang-orang yang berkomitmen untuk membantu Papua melawan HIV. Mari terus tekun bekerja dan jangan sampai menjadi tinggi hati.”

Evi sits outside her home in Manokwari, West Papua.
HAKLI Papua Barat/Nusaybah Amatullah
Evi duduk di luar rumahnya di Manokwari, Papua Barat