Kisah sebuah puskesmas di Yogyakarta yang tak henti melayani di tengah pandemi

Protokol kesehatan yang diterapkan dengan ketat telah memungkinkan petugas Puskesmas Tegalrejo tetap memberikan layanan penting bagi anak dan ibu hamil sekaligus menurunkan risiko penularan COVID-19

UNICEF
A mother waits for her child to be vaccinated
UNICEF/UNI350155/Ijazah
31 Agustus 2020

Ketika COVID-19 melemahkan sistem kesehatan dan menghentikan pelayanan kesehatan rutin di seluruh dunia, jutaan anak berisiko tidak mendapatkan imunisasi yang justru berpotensi menyelamatkan nyawa serta intervensi kesehatan penting lainnya. Di Indonesia, aturan pembatasan sosial telah berujung pada penutupan dan penghentian layanan sementara di puskesmas dan posyandu di berbagai tempat. Padahal, kedua fasilitas kesehatan ini adalah tulang punggung layanan kesehatan rutin untuk ibu, bayi baru lahir, dan anak-anak.

Untuk merespons situasi di atas, pemerintah Indonesia dengan dukungan UNICEF dan mitra-mitra lain telah menyusun panduan teknis dan membagikan perlengkapan agar tenaga kesehatan bisa tetap melaksanakan tugasnya dengan aman dan efektif pada masa pandemi. Di Yogyakarta, Puskesmas Tegalrejo yang menerapkan langkah-langkah kesehatan sesuai petunjuk pemerintah dapat mempertahankan pelayanan kesehatannya kepada masyarakat.

Gambar di atas, seorang ibu menggendong bayi lelakinya saat berkunjung ke Puskesmas Tegalrejo untuk pemeriksaan rutin.

Midwife Yuliani cleans her face shield
UNICEF/UNI350147/Ijazah
Setelah menemui pasien, bidan Yuliani membersihkan pelindung wajah yang ia kenakan.

Pada awal masa pandemi di bulan Maret, petugas puskesmas pun cemas mereka akan tertular COVID-19. Hal ini turut menghambat kemampuan tenaga kesehatan melaksanakan pelayanan.

Untuk mengurangi risiko penularan, puskesmas kemudian mewajibkan semua petugasnya mengenakan APD dan masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak aman. Selain itu, kondisi sirkulasi udara diperbaiki dan waktu tunggu dipersingkat.

A mother washes her hands
UNICEF/UNI350077/Ijazah
Sambil menggendong bayi lelakinya, seorang ibu mencuci tangan sebelum memasuki puskesmas
A mother registers her baby for vaccination
UNICEF/UNI350152/Ijazah
Seorang ibu mendaftarkan anaknya untuk diimunisasi di sebuah puskesmas di Tegalrejo, Jawa Tengah, Indonesia.

Para pengunjung puskesmas juga diharuskan mengikuti protokol kesehatan, termasuk mencuci tangan dengan sabun, mengenakan masker, dan mengikuti skrining suhu tubuh.

A mother waits for her child to be vaccinated
UNICEF/UNI350106/Ijazah
Seorang ibu duduk di lorong puskesmas, menunggu hingga anaknya dapat diperiksa oleh petugas.

Puskesmas juga merekatkan lakban di atas bangku-bangku tertentu untuk memastikan jarak fisik selalu terjaga dan pengunjung tidak duduk terlalu rapat dengan satu sama lain. Sebelum dipanggil masuk ke ruang satu per satu ke ruang periksa, pasien diminta menunggu di lorong puskesmas.

A child is checked by nutritionist before being vaccinated
UNICEF/UNI350165/Ijazah
Seorang anak sedang diperiksa oleh ahli gizi Reana Marliza sebelum diimunisasi.

Untuk memahami dampak COVID-19 terhadap layanan imunisasi, Kementerian Kesehatan, dengan dukungan UNICEF, melaksanakan survei cepat terhadap sistem kesehatan.

Survei tersebut menemukan bahwa, di hampir 84 persen fasilitas kesehatan yang melapor, wabah COVID-19 dan pembatasan fisik telah secara signifikan menyebabkan gangguan layanan imunisasi. Sebanyak lebih dari 56 persen responden melaporkan bahwa gangguan layanan imunisasi terjadi baik pada tingkat puskesmas maupun posyandu di wilayahya.

Midwife Yuliani prepares a vaccine in a syringe for injection.
UNICEF/UNI350141/Ijazah
Bidan Yuliani menyiapkan vaksin dan jarum suntik.

Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa cakupan imunisasi secara umum turun akibat gangguan tersebut. Di antara bulan Maret dan Mei 2020, tingkat cakupan imunisasi wajib turun sebesar hingga 35 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Akibatnya, ribuan anak berpotensi rentan mengalami penyakit dan kematian yang bisa dicegah oleh vaksin.

Children are vaccinated by staff.
UNICEF/UNI350142/Ijazah
Children are vaccinated by staff.
UNICEF/UNI350133/Ijazah
Anak-anak sedang menerima vaksin dari petugas kesehatan.

Meskipun angka imunisasi turun, sebuah survei baru-baru ini, yang dilaksanakan terhadap hampir 7.000 orang tua dan pengasuh, menunjukkan permintaan yang tinggi terhadap layanan imunisasi yang aman dan tepat waktu.

Menurut hasil survei, mayoritas orang tua dan pengasuh (lebih dari 50 persen), tetap membawa anak mereka untuk diimunisasi selama dua bulan terakhir, sedangkan sisanya tidak diimunisasi, baik karena kondisi yang disebabkan pandemi COVID-19, atau karena bukan jadwal anak mereka untuk diimunisasi. Para responden menyatakan sangat mendukung kebijakan pemerintah untuk melanjutkan imunisasi yang diiringi protokol kesehatan.

A doctor consults a mother after her child was vaccinated.
UNICEF/UNI350139/Ijazah
Seorang dokter memberikan konsultasi kepada ibu yang anaknya baru saja menerima imunisasi.

Di puskesmas, karena anggota masyarakat takut tertular virus corona, jumlah pengunjung sempat turun drastis. Namun, sejak langkah-langkah pengamanan kesehatan diterapkan, para pasien perlahan mulai kembali.

Yunida measures her daughter Sharon’s height at home
UNICEF/UNI350120/Ijazah
Yunida sedang mengukur tinggi badan anaknya, Sharon, di rumah. Hasil pengukuran ia kirimkan melalui aplikasi ponsel kepada ahli gizi, Reana Marliza.
After receiving the results, Reana inputs them into an online database.
UNICEF/UNI350144/Ijazah
Reana kemudian memasukkan data tinggi badan ke dalam basis data daring.

Ponsel turut membantu tenaga kesehatan memberikan layanan pada masa adaptasi kebiasaan baru sekarang ini. Menggunakan ponsel, tenaga kesehatan dapat berkomunikasi untuk mengatur jadwal kunjungan dan memberikan konsultasi awal kepada calon pasien. Dengan cara ini, jarak fisik tetap terjaga.

Pregnant mothers have their vital measurements
UNICEF/UNI350161/Ijazah
Pregnant mothers have their vital measurements
UNICEF/UNI350149/Ijazah
Pemantauan tanda vital terhadap seorang ibu hamil—tekanan darah, suhu tubuh, dan status kehamilan—oleh perawat dan bidan.

“Anak dan ibu hamil perlu tetap datang ke Puskesmas Tegalrejo,” kata Yuliani, bidan puskesmas. “Ada banyak alasannya, antara lain anak perlu diimunisasi dan ibu hamil perlu mendapatkan pemeriksaan kehamilan.”

UNICEF Indonesia menyampaikan terima kasih untuk dukungan berbagai mitra, termasuk Pemerintah Australia, Pemerintah Kanada, dan Pemerintah Selandia Baru.