Keberagaman adalah Sumber Belajar: Kisah Atika

Melalui kerja sama 1in11, madrasah di Jawa Tengah mewujudkan pendidikan inklusif bagi murid dengan disabilitas.

UNICEF
Atika, her mother and her teacher
UNICEF/UNI358764/Ijazah
21 Agustus 2020

SEMARANG, Indonesia – Bangunan itu biasanya penuh dengan tawa. Atika, 12 tahun, dan teman sebayanya Nayla, Keysha, serta Farah senang bermain di ruang sumber, diawasi oleh guru mereka Ika, Nila, dan Mintarsih.

Atika biasanya bermain di ruang sumber tiga kali dalam seminggu. Dia biasa bermain dengan bola-bola yang ada di ruang sumber untuk meningkatkan keterampilan motorik halusnya. Ika dan guru-guru Atika lainnya mengembangkan permainan dan kegiatan untuk Atika dengan berkonsultasi dengan seorang psikolog anak. Sesekali mereka mengembangkan kegiatan sendiri berdasarkan pengalaman langsung mereka berinteraksi dengan anak-anak.

Sejak pandemi COVID-19 melanda awal tahun ini, Madrasah Ibtidaiyah (MI) Keji, seperti banyak sekolah lain di Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah, harus mengalihkan pengajaran di kelas ke pembelajaran jarak jauh. Atika sekarang belajar di rumah, dengan bantuan dari ibunya Endrasti dan ayahnya Azis.

Atika adalah salah satu dari 25 peserta didik penyandang disabilitas yang memperoleh manfaat dari layanan pendidikan inklusif yang disediakan oleh MI Keji. Pada tahun 2017, madrasah ini menjadi salah satu sekolah percontohan di Jawa Tengah yang memperjuangkan pendidikan inklusif di bawah kemitraan 1in11, kolaborasi antara Pemerintah Indonesia, UNICEF, dan Lembaga Pendidikan Maarif Nahdlatul Ulama (LP Maarif NU) dengan dukungan Reach Out to Asia (ROTA) dan FC Barcelona Foundation.

Di MI Keji, 17 dari 18 guru telah dilatih untuk modul pengembangan madrasah inklusif LP Maarif NU, yang mencakup adaptasi FutbolNET[1], modul berbasis olahraga inklusif yang dikembangkan oleh FC Barcelona Foundation. Program ini juga memberikan kesempatan bagi para guru untuk mengikuti berbagai pelatihan dan lokakarya terkait dengan pendidikan inklusif.

Program pendidikan inklusif telah mengubah cara Atika dan teman-temannya diperlakukan di sekolah. "Saya tidak tahu bagaimana mengungkapkan rasa terima kasih saya," aku Azis, ayah Atika. “Semua guru dan siswa sangat baik dan mendukung putri saya.”

Sebagai contoh, ia menceritakan pengalaman Atika ketika ingin buang air kecil saat istirahat sekolah. Beberapa siswa sudah langsung mencari dan memberi tahu guru atau orang dewasa lain yang dapat membantu. Beberapa temannya menuntun Atika ke toilet dan membantu membersihkan, sementara teman lainnya membawa pakaian bersih dari tas sekolahnya untuk ganti.

Atika’s teachers Ika, Nila and Mintarsih
UNICEF/UNI358763/Ijazah
Guru-guru Atika Ika, Nila, dan Mintarsih menunjukkan salah satu kegiatan yang biasa mereka lakukan di ruang sumber madrasah.

Tidak mudah bagi Atika dan orang tuanya untuk menemukan sekolah dengan lingkungan yang mendukung anak-anak dengan disabilitas. Atika pernah belajar di sekolah dasar negeri yang telah ditunjuk oleh pemerintah untuk memberikan layanan pendidikan inklusif kepada para siswanya. Namun, Atika dianggap tidak dapat berpartisipasi dalam pembelajaran dan dianggap mengganggu proses pembelajaran. Dia sering ditinggalkan sendirian di kelasnya.

“[Sekolah] memanggil saya dan membujuk saya untuk memindahkan Atika ke sekolah lain,” kenang Azis. Atika juga menerima intimidasi oleh teman-temanya. “Mereka menolak untuk bermain dengannya. Dan ketika Atika mendekati mereka, beberapa akan menyakitinya secara fisik.”

Tetapi Atika tidak pernah menyimpan dendam dalam dirinya, suatu kebiasaan yang tidak hanya teman-temannya tetapi juga gurunya telah pelajari darinya. Suatu kali, seorang anak laki-laki memukulnya dan Atika berlari pulang sambil menangis. Tetapi pada hari berikutnya, Atika rela untuk berbagi makanan ringannya dengan anak tersebut.

Ika, salah satu guru yang juga ditunjuk sebagai manajer untuk pendidikan inklusif di sekolah, mengatakan bahwa motivasinya berasal dari melihat kemajuan yang dibuat oleh anak-anak seperti Atika.

“Dulu Atika biasa lari ke selokan di luar sekolah kami setiap kali ada sesuatu yang membuatnya kesal,” kenang Ika.

Namun, lambat laun ia mampu menghadapi keadaan yang membuatnya tidak nyaman dan berinteraksi secara positif dengan teman-temannya. Nayla, Keysha, dan Farah mengatakan bahwa mereka menyukai Atika karena dia lucu, baik, pintar, dan suka berbagi makanan ringan favoritnya dengan mereka.

Azis berharap lebih banyak anak-anak seperti Atika bisa mendapat manfaat dari pembelajaran inklusif, terutama di tengah pandemi. “Saya berharap program inklusif semacam ini dapat diadopsi oleh sekolah lain. Saya percaya ada lebih banyak anak-anak seperti Atika di luar sana yang masih berjuang dengan pendidikan mereka,” kata Azis. “Saya berharap akan ada lebih banyak sekolah dengan guru yang terlatih seperti MI Keji. Kita harus memperhatikan kesejahteraan mereka.”

“Sulit dengan situasi saat ini," aku Ika dan timnya, merujuk pada pandemi. “Kami harus mengandalkan kolaborasi dengan orang tua. Terkadang kami memberikan tugas kepada anak-anak, tetapi kemudian orang tua akan melakukannya untuk mereka. Bahkan lebih sulit ketika beberapa orang tua sendiri buta huruf.”

Akan  tetapi, Ika, Nila, dan Mintarsih tidak akan menyerah; sesuatu yang telah mereka pelajari dari murid-murid mereka seperti Atika.

“Dia ingin menjadi koki yang hebat," mereka tersenyum dengan kebanggaan di mata mereka.

 

Atika with her favourite bicycle
UNICEF/UNI358727/Ijazah
Atika dengan sepeda favoritnya.

[1] Modul FutbolNET dikembangkan oleh Futbol Club Barcelona Foundation dan menggunakan olahraga sebagai alat untuk mengirimkan nilai-nilai positif dan untuk mempromosikan pengembangan sosial dan pendidikan. Pembelajaran ini mengeksplorasi lima nilai melalui olahraga: kerendahan hati, usaha, ambisi, rasa hormat, dan kerja tim. Untuk implementasinya di Indonesia, modul ini dirancang khusus untuk pengaturan Pendidikan Inklusif. Untuk informasi lebih lanjut tentang FutbolNET, silakan lihat tautan berikut: https://foundation.fcbarcelona.com/programes/fair-football