Di tengah “infodemi”, sukarelawan pastikan warga menerima informasi akurat seputar COVID-19

UNICEF, bermitra dengan Nahdlatul Ulama, menerjunkan sukarelawan ke tengah-tengah masyarakat untuk menyosialisasikan informasi akurat tentang perlindungan diri selama pandemi.

UNICEF
Ike, a health worker in North Jakarta, hangs a poster
UNICEF/UNI358870/Wilander
25 September 2020

Dalam setahun terakhir, wabah COVID-19 yang kian meluas diiringi oleh bentuk wabah lain yang tidak kalah besar: “infodemi”, atau peredaran informasi yang berlebihan. Sebagian informasi adalah akurat, namun sebagian lain tidak. Masyarakat pun mengalami ‘banjir’ informasi. Ada kalanya, informasi baru justru bertentangan dengan informasi terdahulu yang sudah dianggap benar. Dalam keadaan seperti ini, sulit bagi masyarakat untuk senantiasa mengikuti fakta-fakta terbaru sekaligus memastikan bahwa informasi datang dari sumber tepercaya.

“Masker hanya dibutuhkan oleh tenaga medis dan orang yang sakit.”

“Sekarang, siapa pun harus mengenakan masker, terutama jika sedang berada di tempat umum.”

Bagi Muri, ibu dari dua anak yang tinggal di permukiman padat di Jakarta Utara, berbagai versi panduan kesehatan membuatnya resah. Terlebih, pembatasan sosial sempat mulai dilonggarkan.

“Saya khawatir,” katanya. “Saya jadi takut keluar rumah karena kita tidak pernah tahu kondisi orang lain.”

A volunteer from Nahdlatul Ulama hands out a mask
UNICEF/UNI358878/Wilander
Sukarelawan Nahdlatul Ulama membagikan masker kepada seorang warga Kelurahan Warakas.

Agar masyarakat mampu melindungi diri dari COVID-19, mereka sangat membutuhkan informasi yang benar. Beberapa kelompok masyarakat pun gencar melakukan kegiatan sosialisasi agar warga lebih sadar tentang COVID-19. Namun, sebagian besar kegiatan ini berlangsung di media sosial atau melalui pesan-pesan yang disiarkan secara massal. Mengingat hoaks dan misinformasi berpotensi menyebar dengan cepat di saluran-saluran daring, mengedukasi masyarakat secara langsung boleh jadi merupakan cara yang lebih efektif.

“Secara budaya, orang Indonesia, terutama dari keluarga ekonomi menengah bawah dan perdesaan, lebih yakin dengan informasi yang disampaikan melalui komunikasi langsung sebagai sumber motivasi dan perubahan perilaku. Misalnya, melalui bidan atau tokoh agama dan masyarakat,” jelas Risang Rimbatmaja, ahli komunikasi untuk perubahan perilaku.

Merespons hal tersebut, UNICEF pun bermitra dengan Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki sayap-sayap sukarelawan dalam jumlah besar. Mereka dilibatkan dalam kegiatan sosialisasi di seluruh Indonesia untuk mendukung upaya pengubahan perilaku dan mencegah penularan COVID-19.

“Dibutuhkan kerja sama antara semua komponen bangsa untuk mengakhiri pandemi dengan angka kematian seminimal mungkin,” kata Risang. “Sebab itu, [kemitraan seperti ini] bisa menjadi sarana untuk menyatukan Indonesia.”

A van blaring COVID-19 safety messages
UNICEF/UNI358873/Wilander
Mobil informasi keliling sedang menyiarkan pesan-pesan kesehatan terkait COVID-19 di Kelurahan Warakas.

Informasi tepat untuk masyarakat sehat

Di sebuah ruangan warna-warni yang terang di Posyandu Warakas, Jakarta Utara, tenaga kesehatan dan sukarelawan NU Ike Ni’mah memimpin sekelompok warga dalam rangkaian sosialisasi COVID-19 yang diselenggarakan oleh NU.

Ike dikenal baik oleh warga. Ia telah cukup lama bekerja di Warakas untuk menangani berbagai masalah kesehatan, termasuk di posyandu dan untuk pencegahan TBC. Sepanjang sesi, Ike menyapa peserta dengan akrab dan tanpa kesulitan memfasilitasi diskusi kelompok. Ia juga selalu siap menanggapi setiap pertanyaan atau komentar.

Ike yang juga seorang ibu rumah tangga dan ibu dua anak tidak pernah segan mengingatkan orang lain untuk mengikuti protokol kesehatan. Ia menceritakan pengalamannya meminta seorang tenaga penjualan meninggalkan rumahnya pekan lalu karena orang itu tidak mengenakan masker.

“Meskipun kita perempuan dan ibu, jangan takut mempersilakan tamu yang tidak mengenakan masker untuk pulang!” kata Ike kepada semua peserta.

Ike (left), a health worker in North Jakarta,
UNICEF/UNI358872/Wilander
Ike, seorang tenaga kesehatan di Jakarta Utara, berbicara di sebuah puskesmas tentang protokol kesehatan masyarakat di masa pandemi COVID-19

Peran Ike bagi warga sangat penting, sehingga ia pun perlu dibekali dengan keterampilan yang tepat. Untuk mendukung ribuan tenaga lapangan, UNICEF, NU, dan Muhammadiyah memberikan pelatihan dengan berbagai topik, seperti pengetahuan dasar tentang COVID-19, komunikasi untuk mengubah perilaku, kesehatan jiwa, pelaporan daring, dan dokumentasi foto. Pelatihan diselenggarakan dalam format webinar, yang diikuti rata-rata 100 peserta setiap sesi, ditunjang dengan pesan-pesan melalui WhatsApp.

Setelah mengikuti pelatihan, Ike dan tenaga sukarelawan lain pun mulai melakukan kegiatan sosialisasi dan mendistribusikan masker serta pembersih tangan. Di samping berkomunikasi melalui WhatsApp, mereka juga datang ke rumah-rumah untuk menemui warga yang tidak memiliki ponsel.

“Sebagai sukarelawan, tugas utama saya adalah menyampaikan informasi,” Ike menjelaskan, “baik secara langsung ataupun daring, kepada warga dan kepada tenaga kesehatan lain.”

Kegiatan Ike telah membantu warga seperti Muri; menurutnya, ia dan keluarganya sekarang menerapkan arahan Ike untuk selalu mengenakan masker saat berada di luar rumah dan rajin mencuci tangan dengan sarana yang tersedia. Meskipun keadaan berangsur pulih, Muri juga percaya ia dan suaminya harus tetap waspada, terutama demi dua anak mereka.

“Hari-hari saya sekarang mulai kembali seperti biasa, tidak lagi seperti di awal [pandemi] dulu, ketika saya sampai menyimpan persediaan makanan, katanya. “Tapi, kita tetap harus menjaga diri, keluarga, dan lingkungan.”

A volunteer from Nahdlatul Ulama hands out a pamphlet
UNICEF/UNI358879/Wilander
Sukarelawan Nahdlatul Ulama membagikan selebaran berisi cara mencegah penularan COVID-19 kepada penjual makanan kaki lima di Kelurahan Warakas