Bersyukur untuk Setiap Rupiah: Kisah Marlina

Program perlindungan sosial lokal indonesia pertama yang didanai untuk anak-anak guna membantu keluarga di Sabang memenuhi kebutuhan kesehatan dan gizi mereka selama pandemi

Pinka Satria Aqsa
Marlina and her children
UNICEF/2020/Isra
22 Desember 2020

Marlina pernah menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Seorang ibu dari tiga anak, dia bekerja serabutan untuk memenuhi kebutuhan hidup, seperti membuat kue dan mencuci pakaian untuk tetangganya di Sabang, Aceh.

Tetapi semuanya berubah ketika pandemi COVID-19 melanda. Pembatasan sosial yang diberlakukan untuk mengendalikan virus membuatnya kesulitan mendapatkan pekerjaan. Suaminya, seorang nelayan, menderita luka serius dalam kecelakaan lalu lintas dan tidak dapat meninggalkan rumah selama sebulan. Ketidakpastian yang mereka alami sangat membebani pikirannya dan sering membuatnya terjaga di malam hari.

“Suami saya tidak bisa melaut lagi, saya juga hanya menerima pesanan kue yang lebih sedikit dari biasanya,” kata Marlina. “COVID-19 menjadikan keadaan kami semakin susah. Saya dan keluarga harus lebih sabar dan bersyukur sekarang. "

Di seluruh dunia, pandemi menyebabkan ketidakpastian pendapatan untuk setiap keluarga. Meskipun Indonesia telah mencapai kemajuan signifikan dalam mengurangi kemiskinan ekstrem, hanya 52 juta yang dianggap aman secara ekonomi, dengan perkiraan 60 persen dari total angkatan kerja terlibat dalam kegiatan ekonomi informal. Banyak pendapatan kehidupan mereka menurun dan tidak tercakup oleh program perlindungan sosial, yang sebagian besar menargetkan masyarakat yang sangat miskin.

Children walk on the beach in Sabang
UNICEF/2020/Isra
Anak-anak berjalan di pantai di daerah Sabang. Banyak keluarga merasakan dampak luar biasa dari pandemi.

Sementara Marlina mencari cara untuk menghasilkan uang, dia merasa lega karena tahu bahwa anak-anaknya tidak akan kelaparan. Sejak tahun lalu, ia menerima bantuan untuk memenuhi kebutuhan pokok anak-anaknya melalui GEUNASEH, skema bantuan anak lokal yang dikelola oleh Pemerintah Sabang.

Diluncurkan pada tahun 2019, program GEUNASEH memberikan transfer tunai tanpa syarat sebesar 150 ribu rupiah ($10) setiap bulan setiap keluarga dengan anak di bawah usia enam tahun untuk membiayai makanan, transportasi dalam mengakses layanan kesehatan serta kebutuhan penting lainnya untuk anak-anak mereka. Penerima manfaat juga menerima penyuluhan tentang pemberian makanan bayi dan anak-anak, konsultasi parenting dan layanan pemantauan pertumbuhan di posyandu (pos pelayanan terpadu).

Meskipun GEUNASEH bertujuan untuk memberikan setiap anak di Sabang bantuan yang mereka butuhkan untuk memulai hidup yang sehat, namun bantuan ini ditargetkan untuk menjangkau anak-anak yang paling rentan yang terus menerus menderita kerawanan pangan dan kekurangan gizi. Saat ini, program ini mencakup sekitar 5.000 anak di seluruh kota, menjadikannya salah satu program perlindungan sosial pertama yang didanai secara lokal untuk anak di Indonesia.

UNICEF memulai advokasi program untuk membantu mengurangi kemiskinan anak dan kekurangan gizi di antara populasi anak yang semakin besar di kota dan telah mendukung Pemerintah dengan memberikan dukungan teknis, pedoman kebijakan dan program, komunikasi perubahan perilaku, dan sistem informasi manajemen penerima manfaat.

Marlina adalah salah satu dari banyak ibu yang merasakan manfaat langsung dari bantuan ini. Meski kehilangan penghasilan tetap sejak Maret, dia bersyukur bisa membelikan anak-anaknya makanan bergizi.

“Dulu, saya tidak pernah menyangka bisa rutin menyediakan makanan sehat seperti telur, ikan, dan sayur-mayur untuk anak-anak saya karena saya tidak punya cukup uang,” katanya. “Tapi sekarang saya bisa membeli makanan pendamping untuk mereka karena GEUNASEH. Alhamdulillah anak saya sehat.”

Marlina holds her newborn baby
UNICEF/2020/Isra
Marlina menggendong bayinya yang baru lahir di kediamannya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Sabang, Faisal Azwar menjelaskan, meski GEUNASEH dimulai untuk mendukung bayi dan balita, kini telah menjadi program perlindungan sosial menyeluruh untuk rumah tangga yang terkena dampak pandemi.

“Selama pandemi COVID-19, dana GEUNASEH memberikan dampak yang sangat positif bagi kehidupan anak-anak dan keluarganya di Sabang,” kata Faisal. “Banyak keluarga yang terkena dampak finansial, dan program GEUNASEH sangat efektif dalam membantu mereka memenuhi kebutuhan gizi dan kesehatan anak-anak mereka.”

Dengan dampak merugikan dari pandemi yang kemungkinan akan berlanjut hingga 2021, Pemerintah Sabang telah berkomitmen untuk memperpanjang program hingga tahun depan. GEUNASEH juga melengkapi program beasiswa pendidikan kota untuk siswa berusia antara 7-18 tahun, yang berarti anak-anak dari segala usia di Sabang sekarang dilindungi oleh program perlindungan sosial.

Selain dari peningkatan gizi, terdapat bukti bahwa angka pencatatan kelahiran dan kunjungan untuk mendapat pelayanan di posyandu juga meningkat secara bertahap, menunjukkan bagaimana perlindungan sosial mendukung keluarga selama pandemi dan setelahnya.