Belajar dari rumah selama pandemi COVID-19

Meskipun sekolah ditutup, Moreyna, 6 tahun, tetap semangat untuk terus belajar di rumah

David Sikirit, Education Officer
Moreyna follows an educational TV programme at home
UNICEF Indonesia/2020/Firdaus Syahril
03 Juni 2020

Caption: Moreyna, 6 tahun, mengikuti program TV edukasi di rumahnya, Jayapura, Papua, setelah sekolahnya ditutup pada bulan Maret karena pandemi COVID-19. 

 

JAYAPURA, Indonesia –  Pagi ini, Moreyna, 6 tahun, bangun pada pukul 7 pagi seperti biasanya. Setelah mandi dan sarapan, ia mengenakan seragam sekolahnya dan meminta ibunya untuk mengantarkannya ke sekolah dengan harapan semuanya sudah kembali normal.

Akan tetapi, Moreyna langsung kecewa begitu mengetahui bahwa sekolahnya masih ditutup karena pandemi.

Moreyna adalah murid di PAUD Kuncup Mekar di Jayapura. Sejak Pemerintah Papua memutuskan untuk menutup semua sekolah di provinsi ini pada bulan Maret 2020, ia belajar dari rumah bersama ibunya, Maria Morin.

Lebih dari 60 juta murid di Indonesia untuk sementara waktu tidak masuk sekolah karena COVID-19. Hal ini menimbulkan dampak yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap keberlangsungan pendidikan mereka.

 

Kezia works on an assignment
UNICEF Indonesia/2020/Daud
Kezia, 10 tahun, mengerjakan tugas yang diberikan gurunya. Kezia belajar dari rumah karena sekolahnya ditutup akibat COVID-19.

"Berdasarkan survei dari orang tua dan murid, hambatan terbesar yang dihadapi murid saat belajar dari rumah adalah kurangnya akses internet dan perangkat elektronik yang mendukung," kata Spesialis Pendidikan UNICEF Nugroho Warman. “Orang tua juga harus fokus pada kewajiban lain untuk menghidupi keluarga mereka, yang akhirnya membuat mereka kurang memiliki waktu untuk membantu anak-anak mereka.”

Untuk mengatasi hal ini, Pemerintah Indonesia menyiarkan program TV edukasi “Belajar dari Rumah” lewat TVRI untuk membantu anak-anak belajar dari rumah. Program tersebut, yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, menyiarkan acara dari Senin hingga Jumat untuk anak-anak usia sekolah dari prasekolah hingga Sekolah Menengah Atas yang mencakup berbagai bidang, termasuk program pengasuhan anak.

Ditutupnya sekolah bukan berarti kegiatan pembelajaran juga berhenti.

Untuk membantu menilai efektivitas program, UNICEF telah mendukung otoritas pendidikan untuk melakukan survei rutin yang melibatkan guru, orang tua dan anak-anak. Survei yang dikirim melalui SMS ini, dilakukan untuk menjangkau daerah-daerah yang tidak memiliki akses internet, mengumpulkan umpan balik tentang kegiatan pembelajaran di rumah untuk memastikan setiap murid menerima dukungan yang mereka butuhkan.

UNICEF juga membantu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengembangkan materi pembelajaran offline dan menyusun pedoman untuk mencegah dan merespons COVID-19 di sektor pendidikan di tingkat provinsi dan kabupaten.

 Joaquin participates in an online learning activity at home.
UNICEF Indonesia/2020/Sumule
Joaquin, 8 tahun, mengikuti sesi pembelajaran online di rumahnya. "Saya tetap dapat terhubung dengan guru-guru saya ketika belajar di rumah. Jika saya mengalami kesulitan dalam mengerjakan tugas, saya tetap dapat menghubungi mereka untuk meminta bantuan."

Ditutupnya sekolah bukan berarti kegiatan pembelajaran juga berhenti. Moreyna, yang akan segera masuk Sekolah Dasar, masih senang belajar di rumah. Dengan pendampingan ibunya, ia secara rutin menonton program “Belajar dari Rumah” di TV dan mengikuti pembelajaran online ketika diperlukan.

Selama ia berada di rumah, Moreyna juga melakukan berbagai aktivitas lain di dalam rumah. Ia suka membantu ibunya membuat kue, ia juga suka menari, hobi baru yang mulai sering ia lakukan bersama kakaknya. 

Sama seperti anak-anak lain seusianya, tinggal di rumah tidak mudah bagi Moreyna. Dua bulan terakhir terasa seperti waktu yang lama bagi gadis kecil itu.

"Saya tidak suka karena saya tidak bisa bertemu teman-teman dan guru saya," katanya. Ibunya juga memperhatikan bahwa Moreyna tampak bosan di waktu-waktu tertentu dan sangat ingin kembali ke sekolah.

"Saya berharap virus ini akan segera hilang sehingga semua kegiatan dan yang lainnya dapat kembali normal lagi," kata Maria.