Mitos atau fakta? 7 pernyataan umum tentang imunisasi

Kami berusaha menyajikan dan mengklarifikasi 7 pernyataan yang umum beredar di masyarakat tentang imunisasi.

UNICEF
 A child is vaccinated
UNICEF/UNI350142/Ijazah
23 Oktober 2020

Imunisasi menyelamatkan jutaan nyawa per tahun dan secara luas diakui sebagai salah satu intervensi kesehatan yang paling berhasil serta terjangkau secara biaya.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), saat ini masih terdapat sekitar 20 juta anak di seluruh dunia yang tidak mendapatkan imunisasi dan yang mendapatkan imunisasi tidak lengkap. Akibatnya, beberapa penyakit yang dapat menyebabkan kelumpuhan bahkan kematian, dan seharusnya dapat dicegah oleh vaksin, kembali muncul di negara maju dan berkembang. Penyakit itu termasuk campak, pertusis, difteri, dan polio. Antara tahun 1990 dan 2015, angka kematian anak di Indonesia dan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara turun sebesar 64%.

Informasi yang andal diharapkan dapat meningkatkan pemahaman tentang manfaat imunisasi dan jumlah orang tua yang bersedia membawa anaknya untuk diimunisasi. Untuk itu, artikel ini menyajikan dan mengklarifikasi 7 pernyataan yang umum beredar di masyarakat tentang imunisasi.

1. Bayi atau anak selalu mengalami demam setelah diimunisasi

Tidak benar. Demam adalah reaksi pertahanan tubuh terhadap imunisasi yang diterima anak. Bergantung pada kondisi tubuh, anak dapat mengalami demam ringan dan dapat disimpulkan bahwa tubuhnya memiliki reaksi yang baik. Artinya, vaksin yang diberikan bekerja sesuai harapan.

2. Vaksin menyebabkan autisme

Tidak benar. Vaksin yang digunakan dalam program imunisasi nasional telah mendapat rekomendasi NITAG, lulus prakualifikasi WHO, dan lulus uji Badan Pengawas Obat dan Makanan. Hingga saat ini, belum ada bukti yang menunjukkan kaitan imunisasi jenis apa pun dengan autisme.

Routine immunization during pandemic.

3. Kandungan vaksin membahayakan kesehatan

Tidak benar. Vaksin mengandung beberapa bahan yang dapat diperinci menjadi dua kategori berikut.

Komponen utama vaksin adalah antigen. Antigen merangsang pembentukan kekebalan tubuh tanpa membuat tubuh terpapar penyakit.

Antigen yang biasanya digunakan adalah kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan membangun antibodi. Antibodi menghasilkan sel-sel yang akan mengingat cara melawan suatu penyakit, sehingga tubuh pun terlindung dari penyakit itu di kemudian hari.

Komponen tambahan, dalam kadar rendah/aman, termasuk:

- Zat penstabil, berperan menjaga stabilitas vaksin saat disimpan menggunakan sistem rantai dingin. Contohnya adalah sukrosa dan albumin.

- Antibiotik, yang berperan mencegah kontaminasi bakteri saat produksi vaksin. Antibiotik digunakan dalam kadar yang sangat rendah, contohnya neomycin.

- Bahan pengawet, ditambahkan ke dalam vaksin dengan kemasan multidosis untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur. Thimerosal adalah salah satu contoh bahan pengawet.

- Ajuvan, ditambahkan ke beberapa jenis vaksin untuk meningkatkan respons imunitas yang spesifik pada individu penerima. Contoh: garam aluminium.

4. ASI bisa menggantikan vaksin.

Tidak benar. ASI dan vaksin saling melengkapi dalam membangun kekebalan tubuh bayi dan anak.

Pemberian ASI secara eksklusif, disertai gizi yang cukup dan berimbang, memberikan anak perlindungan terhadap penyakit secara umum. Sementara itu, perlindungan terhadap penyakit yang bisa dicegah oleh vaksin didapatkan secara spesifik melalui pemberian imunisasi lengkap.

5. Imunitas alami—kekebalan tubuh yang didapatkan dari penyakit itu sendiri—adalah lebih baik dibandingkan kekebalan yang dibangun oleh vaksin.

Tidak benar. Infeksi alami bisa menyebabkan komplikasi berat, bahkan mematikan. Hal ini berlaku untuk banyak jenis penyakit, termasuk penyakit yang sering kali dianggap ringan, seperti campak. Selain itu, infeksi alami tidak selalu memberikan kekebalan berjangka panjang, contohnya dalam hal penyakit pertusis (batuk rejan).

A child is vaccinated

6. Suntikan ganda aman bagi bayi atau anak.

Benar. Jika diperlukan, tenaga kesehatan akan menyarankan agar anak mendapatkan lebih dari satu kali suntikan vaksin. Hal ini dapat dilakukan karena vaksin sudah terbukti aman, efektif, tidak mengganggu vaksin lain, dan tidak meningkatkan risiko sakit pada anak.

Menerima suntikan lebih dari satu kali mungkin terasa tidak nyaman, namun hal ini tidak akan berlangsung lama.

Penyedia layanan imunisasi akan senantiasa mematuhi prinsip-prinsip pemberian suntikan yang aman, aturan penyimpanan vaksin sesuai prosedur, dan memerhatikan kontraindikasi imunisasi.

7. Kekebalan kelompok dapat dicapai melalui vaksinasi

Benar. Program imunisasi mengenal konsep “kekebalan kelompok” yang hanya dapat dicapai apabila cakupan imunisasi cukup tinggi dan merata di masyarakat. Pengertian bahwa kekebalan kelompok dihasilkan dari paparan langsung individu yang sehat terhadap penyakit adalah keliru. Jika proporsi populasi yang diimunisasi cukup tinggi, individu lain dari berbagai kelompok usia turut terlindungi secara tidak langsung. Dengan demikian, laju persebaran penyakit turun dan wabah dapat dicegah. Prinsip mendasar dari konsep ini menyatakan bahwa memastikan tercapainya cakupan imunisasi secara merata pada populasi target adalah prasyarat bagi terlindungnya seluruh masyarakat.


Rujukan:

Success of Vaccines Worldwide:  https://www.who.int/news-room/feature-stories/detail/the-vaccines-success-story-gives-us-hope-for-the-future

List of WHO Approved Vaccines:  https://extranet.who.int/pqvdata/