Membangun Anak Negeri: kumpulan khotbah Jum'at Peduli Anak
Sekalipun setiap orang dewasa pernah mengalami menjadi anak-anak, manakala mereka menjadi dewasa mereka lupa akan hal-hal yang tidak diinginkannya pada waktu kanak-kanak. Bahkan kemudian banyak orang dewasa memperlakukan anak-anak pada sesuatu yang dulu tidak disukai untuk dikenakan padanya. Kita tentu tidak dapat menyatakan sebagai suatu balas dendam, tetapi ini hanyalah soal suatu kepekaan dan kepedulian. Jika benar demikian, bagaimana kita mengembangkan kepekaan dan kepedulian orang dewasa agar mereka tidak melakukan hal-hal yang kurang menyenangkan bagi anak-anak dan memberikan kepada anak-anak pendidikan yang bertanggung jawab? Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan adalah melalui jalur keagamaan. Kata kunci dalam agama apapun ialah keyakinan bahwa anak adalah amanah dan bukan beban bagi orangtua, masyarakat, dan negara. Kita bersepakat bahwa anak adalah harapan orangtua dan bangsa. Tetapi pada sisi lain, berapa besar investasi diberikan kepada anak-anak? Anak-anak harus dibantu mencapai hari esoknya yang lebih baik dengan mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Hak-hak anak harus dipenuhi dalam segala keadaan. Dengan demikian, tidak ada alasan kemiskinan dan kurang pengetahuan orang dewasa yang menyebabkan anak-anak menderita kekerasan, penelantaran, dan eksploitasi. Pendekatan keagamaan tidak dapat dipisahkan dari berbagai forum keagamaan yang ada dalam masyarakat. Salah satu “forum” tersebut adalah Khotbah Jum’at. Kesulitan yang dihadapi oleh para penyampai Khotbah Jum’at adalah materi yang tepat untuk disajikan kepada masyarakat. Buku ini dapat membantu para Khotib untuk menyampaikan pesan agar orang dewasa dapat kembali peka dan peduli terhadap anak yang diamanahkan kepadanya. UNICEF menyambut gembira kerja sama dengan LPA-NTB untuk menerbitkan buku ini. Harapan besar yang ada di depan kami adalah tiada lagi tangisan anak-anak karena tindak kekerasan orang dewasa kepadanya. Tiada lagi anak-anak yang harus mendukung ekonomi keluarganya dengan keluar dari sekolah. Tiada lagi anak-anak perempuan yang dinikahkan dini. Semua itu akan menghilangkan pameo: “Tiada hari tanpa kekerasan terhadap anak dan tidak ada seorang anakpun yang belum pernah menjadi korban kekerasan orang dewasa” ataupun pameo lain: “anak itu ada, tapi tak terdengar”. Marilah kita serukan suara anak-anak dalam Khotbah Jum’at, supaya orang dewasa dapat memahami kembali hakekat amanah itu. Sinung D. Kristanto UNICEF Chief of Field Office, East Java & NTB Membangun Anak Negeri: Kumpulan Khotbah Jum'at Peduli Anak
|