Imunisasi Tetanus Melindungi Remaja Kini dan Nanti
 |
|
© UNICEF Indonesia/2008/Edy Purnomo |
|
Petugas kesehatan memberi penjelasan pada para siswa sebelum mendapatkan vaksinasi tetanus. |
Oleh Jennifer Butterfield
21 November 2008
Kepahiang, Bengkulu – Lebih dari 100 murid-murid perempuan berseragam hijau dan putih di SMU Kepahiang memenuhi aula sekolah dengan segala keributan yang hanya bisa dilakukan oleh anak-anak berumur 15 tahun. Di antara suara riuh anak-anak remaja tersebut, seorang petugas kesehatan memberi perintah melalui pengeras suara, meminta para siswa untuk menggulung lengan bajunya dan membentuk satu barisan. Hari ini mereka semua akan mendapat vaksin tetanus, bagian dari kampanye UNICEF untuk melindungi setiap perempuan usia produktif dari penyakit yang mematikan ini.
Imunisasi hari ini adalah yang pertama kali untuk para remaja putri ini sejak dan mereka sepertinya tidak mengharapkan untuk menjadi yang pertama. Sesaat sepertinya tidak seorangpun akan menjadi yang pertama untuk mendapat vaksin tetapi kemudian Nys Pracella maju ke depan. Teman-temannya bertepuk tangan dan menyorakinya ketika dia mendapatkan suntikan, bahkan berpose dengan menyeringai ketika jarum suntik menembus kulitnya. Seolah mengikuti langkahnya gadis-gadis lainnya pun kemudian berbaris untuk mendapatkan suntikan.
Memberi dorongan kesehatan
Di sekolah-sekolah di Kepahiang dan di puluhan kabupaten di seluruh pelosok Indonesia, ribuan remaja-remaja putrid mendapatkan vaksin tetanus dengan harapan ini akan melindungi mereka ketika mereka memasuki jenjang lebih lanjut dalam hidup mereka – hamil dan melahirkan anak. UNICEF sudah menyediakan ribuan dosis vaksin, jarum dan kotak perlengkapan, serta membantu pemerintah merencanakan kampanye imunisasi yang menyeluruh untuk memastikan tidak ada satupun yang terlewati.
Mungkin masih terlalu dini untuk mengkhawatirkan soal kehamilan yang sehat untuk para remaja putrid namun kenyataan berkata lain, banyak anak-anak muda yang menjadi ibu sebelum ulang tahun ke 18 mereka. Di SMA Kepahiang, dua murid sudah menikah dan paling tidak ada 20 murid yang hamil sebelum mereka lulus.
Sementara para perempuan dapat terkena tetanus setiap saat, mereka terutama beresiko waktu melahirkan jika mereka melahirkan di lingkungan rumah dengan alat-alat yang tidak steril atau proses kelahiran dibantu oleh dukun melahirkan. Bayi-bayi yang mereka lahirkan pun juga beresiko untuk terkena tetanus kalau alat-alat yang tidak steril dipakai untuk memotong tali pusar atau kalau ramuan-ramuan atau abu dipakai untuk menutup luka potongan tali pusar, seperti kebanyakan praktek-praktek tradisi di beberapa tempat di Indonesia.
Memberikan vaksin tetanus kepada gadis=gadis remaja sebelum mereka hamil dapat menambah perlindungan mereka terhadap tetanus ketika mereka harus melahirkan, namun mereka masih tetap membutuhkan vaksin yang diberikan selama masa kehamilan.
“Dua dosis vaksin memberi perlindungan selama tiga tahun tetapi jika seseorang mendapat lima dosis, dia akan terlindungi selama lebih dari 30 tahun, itu sama dengan masa-masa membesarkan anak,” kata Dr Kenny Peetosutan, staff UNICEF dari Unit Kesehatan.
“Jadi jika kita bisa memberikan vaksin ke anak-anak sekolah dan kemudian setelah mereka dewasa, kita memberi mereka perlindungan untuk kesehatan mereka.”
 |
|
© UNICEF Indonesia/2008/Edy Purnomo |
|
Nys Pracella, 15, dengan berani mendapat vaksinasi. |
Ibu-ibu masa depan
Keluarga Nys Pracella sangat sadar akan pentingnya vaksinasi karena vaksinasi kali ini adalah yang ketiga kali untuk nya. Dua kali lagi vaksinasi, dia akan terlindungi seumur hidup, namun menurut Nys semua itu masih diluar rencananya dalam waktu dekat.
“Saya belum berfikir untuk cepat-cepat punya anak, saya ingin jadi peneliti atau dokter anak kalau lulus dari SMA.”
Cita-cita Nys sesuai dengan bagaimana dia bereaksi terhadap program vaksinasi ini: Saya tidak takut jarum suntik, tidak ada yang harus ditakuti. Itulah sebabnya saya maju duluan – memberi contoh untuk murid-murid yang lain.
“Jika vaksin tersedia, tentu saja kita harus mendapatnya. Ini semua kan untuk kesehatan kita.”
Salah satu guru, Melka, 23, juga mendapat vaksinasi hari ini tetapi dia lebih gugup dari Nys. “Saya takut jarum suntik tetapi saya sudah mengatakan pada murid-murid pentingnya vaksinasi jadi saya tidak bisa mundur.”

UNICEF Indonesia/2008/Edy Purnomo
Para siswa mungkin tidak menyukainya tetapi mereka harus mendapat vaksinasi untuk melindungi diri dan bayi-bayi mereka.
“Anak-anak ini kan ibu-ibu di masa depan jadi penting buat mereka untuk tetap sehat dan terlindungi dari segala penyakit yang membahayakan mereka atau bayi-bayi mereka.”
Hal itulah yang hendak dicapai oleh UNICEF dan pemerintah. Dengan memberikan perlindungan tetanus pada setiap siswa putri di SMA hari ini, kita dapat mengurangi resiko tetanus pada ibu dan bayi di masa datang.