Kisah Nyata

Esai foto

Kisah nyata dari penjuru Indonesia

 

UNICEF dan Bidan-Bidan Papua Melawan Malaria

© UNICEF Indonesia/2008
Erna, 25, bersama anak perempuannya menunggu di Puskesmas di Waiya, Papua untuk test malaria.

Waiya, Papua- 23 September 2008 - Malaria adalah salah satu penyebab komplikasi kandungan untuk para wanita Indonesia sekarang. Ibu-ibu hamil yang terjangkit penyakit ini bisa mengalami keguguran, anemia serta pendarahan dan para ibu yang tinggal di daerah pedesaan memiliki resiko yang paling besar terkena malaria.

Namun di Kecamatan Depapre, satu jam dari ibukota Papua, UNICEF bekerja untuk mengurangi resiko tersebut dengan cara menjadikan pemeriksaan dan perawatan bagian rutin dari perawatan pasca melahirkan.

Peduli Ibu-Ibu dan Bayi Mereka

Hari Senin itu masih pagi tetapi sudah ada antrian panjang di luar puskesmas di Waiya, desa yang terletak agak tinggi di wilayah Depapre yang dikelilingi oleh bukit-bukit yang berhutan lebat. Para ibu muda menenangkan bayi-bayi mereka sementara para orang tua laki-laki duduk dengan sabar di tempat yang teduh, memakai daun-daun palem untuk melindungi dari terik matahari.

Di ujung antrian, Erna, 25 tahun, berusaha menenangkan anaknya yang meronta-ronta sambil mengisi formulir. Dia datang  ke Waiya dengan perahu dari desanya di Kendate untuk memeriksa apakah Jennifer terkena malaria. Anak satu tahun itu demam tinggi lebih dari seminggu.

“Awalnya saya pikir itu flu jadi saya kasih dia paracetamol tetapi keadaannya tidak juga membaik,” kata Erna, “Jadi saya bawa dia menemui bidan di desa saya dan dia memeriksa apakah Jennifer terkena malaria atau tidak. Tetapi pemeriksaannya tidak menyeluruh jadi dia menyuruh saya ke sini untuk pemeriksaan darah.”
“Saya khawatir karena dia masih sangat kecil dan saya tidak mau dia sakit.”
Pemeriksaan yang dilakukan bidan di desa tersebut adalah salah satu alat yang disediakan oleh UNICEF untuk memerangi malaria. Alat tersebut disebut Rapid Diagnostic Test (RDT) yang bekerja hampir sama dengan tes kehamilan hanya saja yang digunakan setetes darah dan bukan urin.

Pemeriksaan tersebut merupakan alat yang penting untuk para bidan desa karena semua itu mereka dapat dengan cepat mengetahui apa yang harus dilakukan. Pilihan lainnya adalah pergi ke puskesmas terdekat untuk mendapat pemeriksaan darah yang menyeluruh dan yang memakan waktu berhari-hari buat mereka yang tinggal di desa-desa terpencil.

© UNICEF Indonesia /2008
Lea adalah satu-satunya bidan di Waiya yang memberikan segala pelayanan kesehatan.

Para Bidan di Garis Depan

Tentu saja, pemeriksaan-pemeriksaan tersebut tidak akan berhasil baik jika orang yang menggunakan tidak tahu bagaimana caranya. Itulah sebabnya UNICEF bekerjasama dengan dinas-dinas kesehatan untuk melatih para bidan desa untuk meneliti, memberikan perawatan dan pencegahan. Bidan desa di tempat Erna tinggal, Lea, menerima pelatihan pada tahun 2007, sehingga dia mengerti kenapa harus meminta Erna untuk cepat membawa Jennifer untuk mendapat pemeriksaan lebih lanjut.
“Ketika para ibu datang ke saya pada saat tiga semester pertama kehamilan atau ketika bayi dibawa kesini dengan demam tinggi, yang saya lakukan pertama kali adalah mengetest mereka dengan RDT,” kata Lea.

Jika RDT menunjukkan seorang ibu terkena malaria, Lea akan memberikan perawatan. Petunjuknya jelas tertulis di poster UNICEF yang tertempel di dinding kliniknya dan menunjukkan obat-obatan apa yang diberikan tergantung dari umur kehamilan dan jenis malarianya.

“Ini semua sangat membantu saya untuk menjadi petunjuk karena saya tahu sekarang kalau saya memberikan perawatan yang benar,” kata Lea. “Dulu saya sering takut memberi obat untuk ibu hamil karena khawatir obat-obatan itu akan berpengaruh ke bayi yang dalam kandungan. Kadang-kadang saya tidak memberikan obat apapun karena takut salah.” Bila hasil test nya negative, Lea memusatkan perhatiannya pada pencegahan malaria, meyakinkan si ibu hamil tidak terkena malaria selama masa kehamilannya.  Dalam program ini, setiap ibu hamil mendapat satu kelambu berinsektisida gratis serta petunjuk cara penggunaan dan perawatannya. “Kelambu berinsektisida tersebut sangat berguna karena ini merupakan cara terbaik untuk perlindungan ibu hamil dari malaria. Program ini juga menarik banyak ibu-ibu hamil untuk datang ke klinik tidak hanya untuk kelambu tetapi saya juga bisa memeriksa kehamilannya,” katanya.

Menjangkau Masyarakat

Sebagai satu dari 7 bidan yang bekerja di kecamatan Depapre, pengetahuan Lea dan keahliannya untuk memerangi malaria sangat diperlukan. Depapre adalah wilayah yang berpenduduk lebih dari 5,000 orang, yang tersebar di 11 desa terpencil dan bagi banyak warga desa, pelayanan dari Lea merupakan satu-satunya pelayanan kesehatan yang dapat mereka jangkau. Dengan melatih para bidan desa seperti Lea untuk bisa mendiagnosa, merawat dan mencegah malaria, UNICEF membantu mengurangi angka kejadian malaria di daerah-daerah tersebut dimana layanan kesehatan lain tidak dapat mereka jangkau. 

UNICEF Indonesia/2008
Mengurangi angka kejadian malaria adalah membuat kehamilan aman buat ibu-ibu di Papua dan anak-anak mereka.

Kembali ke puskesmas, sample darah Jennifer sudah diambil dan Erna harus menunggu hasilnya. Walaupun jika hasil testnya positif malariapun, paling tidak ibu muda tersebut bisa tetap tenang karena anaknya akan mendapat perawatan kesehatan yang berkualias, di desanya sendiri.

 

 

 
unite for children