Mendidik Para Ibu dan Bidan Dalam Rangka Pekan ASI Dunia
Oleh Suzanna Dayne LOMBOK, Indonesia, 29 Juli 2008 – Hari masih sangat pagi ketika Dwinta Dyah Larasanti, seorang bidan, berangkat menuju Puskesmas dan bersiap untuk berjuang melawan buruknya pemberian asupan gizi untuk bayi-bayi. Senjata Dwinta untuk perangnya ini sederhana: informasi yang akurat. Dwinta adalah satu dari banyak bidan-bidan baru yang mendapat pelatihan dari program dukungan UNICEF untuk pemberian asupan gizi bayi. Sekarang dia meneruskan pengetahuan yang dia dapat kepada para ibu. Di Puskesmas dia menggunakan perangkat yang sederhana seperti kertas balik (flip charts) dan panduan-panduan bergambar untuk menjelaskan pentingnya pemberian ASI bagi bayi. “Ibu-ibu harus memberikan hanya ASI kepada bayi dari sejak lahir hingga umur 6 bulan. Tidak boleh ada susu formula, tidak ada makanan keras. Tidak boleh ada apapun kecuali air susu ibu,” katanya kepada para ibu yang datang ke kelasnya. “Bahkan ketika ibu-ibu mulai menyapih bayi-bayi, susu ibu dapat dihentikan setelah umur dua tahun ke atas.” Negara Berkembang Menderita Aliansi Dunia untuk Menyusui (World Alliance for Breastfeeding Action) menetapkan “standar emas” untuk menyusui – yang termasuk memberikan ASI segera satu jam setelah melahirkan dan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan, dan pemberian ASI secara terus-menerus sampai anak berumur dua tahun. Di Indonesia, kebanyakan ibu tidak memberikan ASI secara eksklusif pada bayi-bayi mereka selama enam bulan. Tren ini juga dapat dilihat di berbagai negara berkembang dan praktek ini bisa menimbulkan akibat-akibat yang fatal serta mematikan. “Air susu ibu adalah vaksin pertama dari kehidupan seorang anak. Air susu ibu dapat melindungi bayi dari ancaman diare, kuranga gizi dan penyakit-penyakit lain yang mematikan,” kata Kepala Unit Kesehatan dan Pangan dari UNICEF Indonesia, Anne Vincent. “UNICEF bekerja di wilayah-wilayah kunci untuk meningkatkan kesadaran para bidan serta para ibu. Program ini sangat dibutuhkan lebih dari sebelumnya,”
Dampak yang Nyata Di Rumah Sakit Praya di Lombok, dampak dari buruknya pemberian asupan gizi untuk anak-anak dapat dilihat dengan jelas dari pancaran wajah anak-anak yang menderita gizi buruk. Arya, misalnya, umurnya hampir tiga tahun dan berat badannya kurang dari 6.5 kilogram menderita gizi buruk akut. Kakak laki-lakinya meninggal ketika kurang lebih seumur Arya. Ibunya, Samsuarah mengakui bahwa dia tidak memberikan ASI secukupnya dan bahkan memberi makan bayi-bayinya dengan air gula dan nasi. Kasus ini adalah hal yang langka untuk rumah sakit yang sering mendapatkan penghargaan ini tetapi itu semua menunjukkan adanya kebutuhan untuk terus-menerus memberikan dukungan kepada semua ibu dan para bidan. Dukungan Masyarakat Untuk menjawab tantangan-tantangan tersebut dan memastikan informasi mengenai pemberian ASI yang tepat sampai kepada semakin banyak ibu, keompok-kelompok dukungan di tingkat desa pun telah dibentuk di pulau tersebut. Nur Hasamin adalah salah satu sukarelawan yang ikut menghadiri kelas-kelas untuk pemberian ASI di Puskesmas di desanya. Dia juga mengandung dan sangat bersemangat untuk menyebarkan pengetahuannya mengenani pemberian ASI kepada para tetangga. “Banyak ibu menyapih anaknya terlalu dini dan berpendapat bahwa memberi susu dalam botol adalah yang terbaik,” kata bidan Imansuri Hartini, yang juga memperhatikan banyak produsen susu formula dan makanan-makanan bayi rajin membagi bonus bagi para bidan untuk membantu mereka mempromosikan produk-produk mereka. “Saya tahun bagaimana pentingnya pemberian ASI jadi saya tidak mau melakukan itu semua,” tambah Imansuri.. “Saya sendiri tidak memberikan ASI untuk anak pertama saya dengan benar. Akan tetapi saya tahu apa yang harus saya lakukan. Saya hanya mau meyakinkan bahwa bayi saya yang akan lahir dan semua bayi-bayi di desa ini sehat dan terlindungi.”
Kegiatan Utama UNICEF Baca tentang kegiatan program UNICEF lainnya di Indonesia:
Juga baca bagian khusus tentang: |