Hujan sebagai sumber air minum di Nusa Tenggara Timur
ALOR, Indonesia, 14 Desember 2007 – Walau dapat dijangkau dengan mudah jika terbang dari pulau Bali, namun kondisi pulau Alor menjadi jauh sekali bedanya jika dilihat dari sudut kebutuhan manusia yang paling dasar: pengadaan air bersih. Para pakar perubahan iklim memperingatkan bahwa masalah ini bisa menjadi lebih parah. Disini hujan hanya turun selama empat bulan dan seringkali masyarakat harus mengambil air yang kurang bersih dari kali kecil yang jauh dari tempat tinggal mereka. Selain itu, pilihan mereka hanyalah membeli air dari truk tangki yang keliling pulau tersebut. Jika musim kering, kami harus berjalan sejauh lima kilometer dari subuh dan kadangkala, kita belum pulang hingga siang hari,” ujar Juliana, seorang ibu rumah tangga. “Saya harus membawa jerigen 20 liter ini. Kadang-kadang, inipun tidak cukup.” Para guru SD di wilayah tersebut juga mengatakan bahwa anak-anak juga sering membantu mengambil air hingga merekapun menjadi terlalu letih untuk belajar. “Kita sering turun kesungai saat pagi sebelum sekolah,” ujar Lahal Ayub Bain, seorang murid SMP. “Kemudian kita mandi buru-buru disungai sebelum jalan balik untuk ke sekolah.” Gotong royong UNCEF bekerja di pulau Alor untuk membantu para keluarga dan anak-anak mereka seperti Lahal melalui program Penampungan Air Hujan.
Penampungan tersebut adalah sebuah upaya gotong royong masyarakat. Pertama, masyarakat diberikan pengetahuan tentang cara pembuatan bak yang menampung air hujan dari atap rumah-rumah masyarakat. Kemudian masyarakat tersebut membagi pengetahuan mereka kepada masyarakat sekitar dan dari desa seberang dengan membantu membuat bak-bak penampungan air hujan. Satu bak penampungan air hujan untuk satu rumah tangga membutuhkan sekitar dua hari untuk dibangun. Sistem ini bisa memberikan cukup air bersih untuk minum dan memasak selama hampir satu tahun. Setiap rumah punya “Nenek moyang kita dulu tinggal di gunung tapi sejak mereka turun gunung dan populasi bertambah, kami harus menggali sumur-sumur lainnya. Tapi sumur-sumur itu sering asin,” ujarnya. “Sejak ada bantuan bak penampungan air hujan dari UNICEF, kini masyarakat menjadi sangat senang karena setiap rumah punya bak itu.” Awan mendung hari itu tiba-tiba menjadi hujan. Anak-anak berlarian keluar rumah dan bermain hujan. Disini, waktu hujan bukan waktu untuk diam didalam rumah.
Video November 2007: UNICEF's Suzanna Dayne reports on the use of rainwater harvesting to help islanders in Indonesia cope with the lack of water resources. Broadcast-quality video on demand from the Newsmarket |