Child Centre – tempat berkumpul bagi para ibu & anaknya
Seorang guru menjelaskan bagaimana seekor ulat bulu akan menjadi kupu-kupu dan setiap anak dari sekitar 40 dibawah umur 6 tahun yang ada disitu berusaha untuk menggambar seekor kupu-kupu. Pensil warna bertebaran, khayalan berjalan dan beberapa anak mulai menggerakan lengan mereka seperti sayap. Ibu-ibu mereka duduk tersenyum dibelakan ruangan sambil memperhatikan anak-anak mereka menikmati sesi ini. Prosesi terjadi selama 2 jam sehari bagi mereka yang dibawah umur 6 tahun di UNICEF Child Centre, Lapang Dua. Ada sesi menari, menyanyi, menggambar, menghitung dan bermain dengan huruf, enam hari seminggu. Kebanyakan anak-anak yang hadir adalah mereka yang tinggal dalam pemukiman sementara diseberang jalan, namun, setiap anak dibawah 6 tahun diterima untuk turut serta dan tanpa biaya. UNICEF mendirikan fasilitas Child Centre seperti yang di Lapang Dua ini seminggu setelah tsunami menerjang Aceh pada Desember 2004. Pada awalnya 21 Child Centre yang didirikan di Aceh juga mencakup pelayanan reunifikasi keluarga, pencatatan anggota keluarga yang hilang dan pencariannya, mengeluarkan informasi tentang kekerasan terhadap anak dan perdagangan anak, serta aktifitas terapi psikososial bagi anak-anak. Child Centre tersebut sekarang juga melibatkan kelompok ibu-ibu, anak muda dan siapapun dari masyarakat yang ingin menggunakan fasilitas yang ada. Aktifitas lain yang diadakan juga termasuk pemberian makan anak-anak serta kelas pendidikan gizi bagi orang tua. “Semua Child Centre yang ada kini menjadi sangat penting bagi masyarakat,” ujar Hadi, staf unit Perlindungan Anak, Aceh. “Fasilitas tersebut menjadi pusat untuk menyebarluaskan informasi diantara masyarakat sendiri. Fasilitas tersebut juga menjadi pusat sosialisasi dan pertemuan, terutama bagi para perempuan yang umumnya tidak memiliki kebebasan yang sama seperti para laki-laki.”
Riska, ibu dari Iwan, seorang anak laki-laki yang berumur 5 tahun dan menggunakan fasilitas Child Centre Lapang Dua mengatakan bahwa sesi-sesi kelas telah membantu anaknya untuk menjadi lebih bermotivasi. “Dia tidak mau ketinggalan satu haripun,” jelasnya. ”Iwan paling suka aktifitas menghitung dan melukis. Saya senang dengan aktifitas tersebut karena anak saya menjadi lebih cakap dalam melakukannya.” Iwan dengan malu-malu setuju bahwa ia suka “huruf dan angka” dan ingin bermain “setiap hari.” Setelah mengantarkan Iwan ke Child Centre tersebut, Riska pulang kembali ke pemukiman sementaranya di seberang jalan untuk menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. “Jika Iwan tidak berada disana, ia hanya berputar-putar tanpa tujuan di sekitar pemukiman kami,” ujarnya. “Kelas-kelas disini memberikannya kesibukan dan Iwan tidur nyenyak setiap malam.” UNICEF mengharapkan bahwa Child Centre tersebut bisa menjadi mandiri tanpa dukungan dari luar, ujar Zubedy Koteng, staf unit Perlindungan Anak di Banda Aceh. Ia ingin agar anak-anak dan orang muda memiliki peran dalam pengelolaan Child Centre yang ada. “Anak-anak harus diberikan kesempatan untuk mengutarakan apa yang mereka inginkan dan bagaimana melalukannya,” kata Zubedy. “Penting sekali bahwa anak-anak dapat mencari solusi dan memecahkan mereka sendiri.” Tanggung jawab seperti itu masih jauh bagi Iwan yang berumur 5 tahun. Hari ini ia menyelesaikan sesinya dengan menari dan menyanyi bersama kelas. Setelah itu para guru mengingatkan Iwan untuk mencuci tangannya, makan sebentar dan akhirnya pulang untuk tidur siang.
|