Kisah Nyata

Esai foto

Kisah nyata dari penjuru Indonesia

 

Farida

© UNICEF/IDSA/029/Estey

Sikapnya simpatik dan gaya bicaranya lunak. Farida tampak jauh lebih dewasa dari umurnya yang baru 12 tahun. Pembawaannya yang tenang tidak menunjukkan bahwa dia baru saja kehilangan ibunya dan dua kakak perempuan dalam bencana tsunami.

“Segalanya berubah bagi saya. Rumah saya sudah beda tempatnya. Begitu pula sekolah saya. Keluarga saya sudah hilang kecuali kakak laki-laki saya yang bekerja di kota lain. Saya masih sering bertemu dia seminggu sekali,” kata gadis itu sendu.

Farida sekarang kembali ke sekolah di Sekolah Menengah Pertama Muhammadiyah di Banda Aceh dan gratis. Ini salah satu dari 200 sekolah yang dibangun UNICEF di seluruh daerah yang terkena bencana di Aceh. Selain itu, UNICEF juga membangun 500 sekolah permanen di propinsi Aceh.

Ia juga mendapatkan tas sekolah baru, buku tulis, dan majalah dari UNICEF  sebagai bagian dari kampanye kembali ke sekolah yang dimotori UNICEF di Aceh awal tahun ini.

“Saya senang di sini sekarang. Ada banyak anak lain di sekolah yang juga kehilangan keluarganya saat tsunami seperti saya. Sering kami saling berdiskusi dan berbagi cerita tentang apa yang kami alami,” kata Farida.

Sayangnya letak sekolah sekarang jauh dari tempat tinggalnya. “Seringkali saya harus jalan kaki satu jam untuk berangkat sekolah. Angkutan umum mahal dan lama sekali. Makanya saya ingin punya sepeda,” kata Farida tersenyum malu. 

© UNICEF/IDSA/030/Estey

Farida beruntung. Saat bencana memporakporandakan kampung keluarganya di Lampulo, Farida sedang belajar di rumah temannya. Sejak itu, dari Januari sampai Mei, ia tinggal dengan sanak familinya di Aceh Selatan. Baru kemudian pindah lagi di barak pengungsian di Bakoy, Aceh Besar. Di sana ia bergabung dengan Children Center milik UNICEF dan diadopsi oleh Saiful, salah satu konselor di situ, sampai sekarang.

Farida masih aktif ikut kegiatan di Children Center setiap Minggu. “Saya ikut pertemuan remaja, baca Al Quran, kesenian dan kerajinan dan bahkan latihan pidato,” kata gadis yang bercita-cita menjadi perawat itu bersemangat.

Sekalipun hidupnya terasa sebagai rutinitas belaka, Farida mengaku masih sedih sekali setiap hari. “Seringkali saya menangis. Saya ingat keluarga saya, ibu saya. Apalagi sekarang, saat kita mulai masuk bulan suci Ramadhan. Itulah saat indah bagi keluarga kami kala itu…”

 

 
Search:

 Kirimkan artikel ini

unite for children