Kisah Nyata

Esai foto

Kisah nyata dari penjuru Indonesia

 

Hendri & Hendra

© UNICEF/IDSA/031/Estey
Hendri (memakai Bandana) & Hendra

Kalau bukan karena bandana yang terikat di kepala Hendri dan senyum nakal dari muka Hendra, tak mungkin cerita tentang anak kembar ini bisa diangkat. Sulit mencari anak kembar berusia 13 tahun itu kalau mereka sudah bermain di sekitar Children Center milik UNICEF di Neuhen. Ironisnya, meski kembar Hendri ingin menjadi guru dan Hendra menjadi polisi suatu hari nanti.

Melihat kenakalan dan tingkahnya, orang tidak akan menyangka mereka pernah mengalami peristiwa tragis dan aneh. Ketika gempa bumi dan tsunami menghantam kampung di tepi laut  di Alue Naga, di luar Banda Aceh pada hari kelabu 26 Desember 2004, ibu dan empat saudara mereka hilang ditelan gelombang dan tak pernah kembali. Ajaibnya, si kembar Hendri dan Hendra selamat dari amukan gelombang. Selama beberapa hari mereka berjalan tanpa tahu tujuan. Dua minggu kemudian seorang saudara menemukan mereka di sebuah kamp pengungsian. Mereka dipersatukan kembali dengan ayah mereka yang juga selamat. Selama tiga bulan berikutnya ayah dan anak kembar itu tinggal di kota Sigli, tiga jam ke arah timur laut Banda Aceh.

Sekarang si kembar dan ayahnya tinggal di barak pengungsi yang dibangun pemerintah di Neuhen. Mereka tinggal di satu ruangan besar yang dibagi menjadi ruang tidur dan dapur. Sayang tidak banyak cahaya matahari masuk. Tempat itu cukup lumayan bagi keluarga Hendri. Setidaknya rumah itu dapat menjadi tempat berteduh di kala hujan. Lebih daripada itu, tempat tersebut akan menjadi dasar untuk membangun kembali kehidupan keluarga mereka.

© UNICEF/IDSA/032/Estey
Si Kembar sedang pergi ke sekolah.

Sekilas, kehidupan di barak tampak lamban dan membosankan. Tapi ketika masuk di sana, ada roh dalam kehidupan bermasyarakat. Ada yang nongkrong dan menggosip, makan bersama yang disiapkan di belakang rumah-rumah yang terbuat dari kayu, interaksi antar tetangga. Namun, Children Center yang terletak di dekat pintu masuk kompleks pemukiman itu masih tetap menjadi pusat kegiatan sosial. Fasilitas barak, yang terbuat dari papan kayu dengan atap sepadan, sudah cukup melindungi segala aktifitas keseharian mereka. Anak-anak pun punya tempat bermain. Ada yang bermain kejar-kejaran, atau main bola. Sementara yang lain ikut kegiatan yang diadakan oleh para konselor terlatih di Children Center. Kegiatannya bervariasi dari pelajaran tari tradisional Aceh dan kerajinan sampai lomba olah raga dan pembacaan Al Quran. Tergantung hari. Yang pasti, anak-anak punya banyak kegiatan saat mereka tidak ke sekolah.

Sekolah menjadi satu masalah dan tantangan tersendiri bagi para konselor untuk ditangani secara bijak. Misalnya, Hendri dan Hendra merasa tidak senang pergi ke sekolah menengah pertama tiga hari sebelumnya. “Saya malas lagi hari ini. Sekolahnya jauh. Kita harus bayar Rp2.000 (20 cents) untuk angkutan umum. Lalu kami tidak punya uang jajan lagi sesampai di sekolah,” aku Hendri.

Amina, 24, salah satu konselor, hanya menggoyangkan bahunya tanda frustasi. “Itulah masalah yang selalu terjadi. Karena banyak orang tua dan saudara-saudara yang lebih tua hilang karena tsunami, maka tokoh pemimpin dalam keluarga juga hilang. Akibatnya tidak ada orang yang bisa mendorong anak-anak itu untuk pergi ke sekolah tiap hari. Mereka lalu bisa membolos seenaknya,” jelas Amina. Ia menambahkan bahwa hanya 20 anak saja yang mau pergi ke sekolah secara teratur. “Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk melakukan sesuatu. Itu bukan tugas kita. Kita disini untuk mendorong dan menyemangati mereka. Tapi masalah kedisiplinan tetap menjadi tanggung jawab kepala keluarga mereka,” katanya.

Mendengar itu, Husaini, 50, ayah si kembar Hendra dan Hendri, menyela pembicaraan, katanya, “Sekarang susah mengatur semuanya. Seharian saya keluar dari barak untuk mencari pekerjaan. Saya tidak tahu apa yang terjadi di rumah termasuk apakah anak saya membolos atau tidak.”

Husaini dulu bekerja di industri perikanan. Tapi sejak tsunami ia belum mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Keluarga itu bertahan hidup hanya dari jatah 36 kilogram beras tiap bulannya dari pemerintah. “Kita tidak makan sebanyak itu. Sebagian kami jual agar dapat uang tunai. Kami hidup dari sana sekarang,” akunya. Mengenai anak kembarnya Husaini mengatakan bahwa anak mereka sebetulnya baik. “Merekalah yang biasanya memasak di rumah, meski hanya nasi goreng, telur dadar atau mi instant. Mereka juga membantu saya untuk pekerjaan rumah yang berat,” imbuh Husaini. 

Ia juga menambahkan bahwa ia banyak menerima janji dari LSM yang mengunjunginya. Misalnya, para penghuni barak akan menerima dana untuk menyekolahkan anak mereka. “Tapi janji itu hampir tidak pernah dipenuhi,” katanya

 

 
unite for children