Sri
Sri Handayani, 16, tampak riang melangkah di sekitar rumahnya yang kecil. Ia harus merawat ayah dan dua adik laki-lakinya di desa Sengkomulat. Dua bulan silam ia masih tinggal di Meulaboh bersama sanak familinya. Ia tidak tahu nasib keluarganya sendiri kala itu. Baru pada Juni 2005, UNICEF membantu melacak keberadaan keluarganya. Saat ia hampir putus asa, Sri mendapat kabar keluarganya masih hidup. Tak lama kemudian keluarga itu dipersatukan kembali dan memulai hidup baru.
Saat terjadi tsunami, Sri berada di rumah sepupunya di Meulaboh. Saat itu ia lari menghindari ombak ganas tapi justru ia terjebak dalam banjir bandang. “Saya masih ingat betapa banyak air yang terminum,” kenangnya. Sepupunya mempunyai bayi 4 bulan tapi akhirnya meninggal setelah pegangannya lepas. Sepupu dan keponakan Sri selamat tapi mengalami patah kaki. Malam berikutnya mereka dipertemukan dan kemudian tinggal bersama di kamp pengungsi di belakang barak militer selama dua bulan. Akhirnya mereka lalu pindah ke desa terdekat. Empat bulan kemudian, Mohamad Ali, 49, mendengar bahwa anaknya, Sri, selamat. Sedangkan Sri tidak tahu nasib keluarganya di Sengkomulat. “Terus terang saya mengira mereka sudah meninggal. Saya masih menangis tiap malam atau saat sendirian,” katanya. Ternyata, keluarganya selamat kecuali ibu dan kakak perempuannya.
Pada 22 Juni 2005 keluarga itu dipersatukan kembali di Banda Aceh. Sri naik minibus sehari sebelumnya bersama dua orang dari UNICEF yang menangani kasusnya. Pada jam 10 pagi, Sri dibawa ke kantor Dinas Sosial di Banda Aceh untuk dipertemukan dengan ayahnya. “Saya terharu melihat ayah, meski ia tampak lebih kurus dari sebleumnya,” ungkap Sri. Lalu sore harinya mereka pulang ke kampungnya dan bertemu dengan dua adiknya, Wahyudi, 12, dan Sukran, 7. “Saya pergi hanya selama tujuh bulan. Tapi mereka sudah besar. Saya kaget. Tapi saya terharu karena adik saya yang kecil masih ingat saya…,” kenang Sri. Sementara Mohamad Ali juga tak kuasa menahan haru melihat putrinya. “Saya bahagia sekali. Saya juga menangis. Banyak hal yang telah terjadi pada kami,” tuturnya. Berkah berikutnya yang membahagiakan keluarga itu adalah rumah berkamar tidur dua. Rumah itu dibangun di dekat gubug tempat tinggal mereka sementara semenjak kembali ke kampung. Sri menuliskan kata “Cinta” di pintu rumah gubug mereka. “Sebagai tanda cinta atas tempat yang telah memberi kami perlindungan,” jelasnya. Mohamad Ali bekerja sebagai penebang pohon yang biasanya mendapat upah Rp50.000 (US$5) per hari di hutan di dekat rumahnya. Saat ini ia sedang sibuk membantu menyelesaikan pembangunan rumahnya. Rencananya ia akan membangun pagar kayu di sekeliling rumahnya sehingga Sri bisa leluasa berkebun. “Berkebun memang hobi saya semenjak pulang ke rumah. Rumah baru kami pasti akan lebih indah,” kata Sri. Saat diwawancarai, Sri sedang membersihkan dua ikan untuk dimasak. Sri mengerjakan semua pekerjaan rumah untuk keluarganya sehingga ia belum bisa bersekolah lagi. “Sekarang ibu sudah tiada lagi, maka saya punya tanggung jawab banyak,” katanya.
Meski perhatiannya tersita akan kehidupan baru dengan keluarganya, ia masih merasakan kehilangan ibunya tiap hari. Apalagi kalau ingat kakaknya, Sukarni, 18, yang juga telah meninggal direnggut tsunami. Sri dan Sukarni sudah seperti saudara kembar dan selalu melakukan apapun bersama-sama. Ia masih ingat kenangan terakhir Sukarni yang menelponnya ke Meulaboh sehari sebelum tsunami, katanya, “Tolong aku dicarikan cowok ganteng di Meulaboh, karena aku akan pergi ke tempatmu nanti…”
|