Kisah Nyata

Esai foto

Kisah nyata dari penjuru Indonesia

 

Polio: kisah dari Jawa Barat

© UNICEF/IDSA/037/Estey
Pola cetakan sedang dibuat untuk kaki kiri Ramdhan yang lumpuh. Dengan cara itu seorang teknisi dari RSCM di Jakarta akan membantu meluruskan kembali kaki lumpuh dan membantu anak berjalan.

Anak-anak balita di Indonesia telah diimunisasi polio yang ketiga kalinya dalam empat bulan. Wabah polio ini bermula dari Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Lalu wabah ini menyebar ke 10 propinsi Indonesia, terutama beberapa kabupaten di pulau Jawa dan Sumatra. Setidaknya 302 anak-anak yang belum pernah diimunisasi dibuat lumpuh oleh wabah ini. Polio tidak ada obatnya. Satu-satunya cara melindungi anak-anak adalah terus memberi mereka vaksin sekalipun virus tetap menyebar. Kampanye imunisasi telah menelan biaya US$39 milyar semenjak wabah itu muncul pada Maret 2005. Pendanaan diberikan oleh UNICEF, Pemerintah Indonesia dan komunitas internasional. Pekan Imunisasi Nasional akan kembali dilaksanakan pada akhir bulan Februari 2006, disusul dengan beberapa kampanye imunisasi di daerah-daerah yang masih berisiko penularan tinggi ditahun ini.

Pagi masih menyelimuti kampung Cidahu, dataran tinggi di Jawa Barat yang dikelilingi oleh padi dan pohon pisang. Tampak para ibu dan anak-anak mereka mengantre di luar sebuah puskesmas. Dari sebuah mobil jip di dekatnya, orang membongkar tikar warna-warni, mainan anak-anak dan tas-tas beraneka corak. Yang jelas itu bukan pesta. Kalau diamati lebih dekat, anak-anak itu mengenakan sepatu berat atau penyangga dari plastik. Bahkan anak-anak yang lebih besar pun harus dipapah, karena mereka tidak bisa berdiri lama.

Itulah anak-anak Indonesia yang terserang virus polio pertama kali dalam kurun 10 tahun terakhir. Tak seorang pun tahu secara pasti bagaimana virus itu masuk, meski penulusuran mengarah dari bagian utara Nigeria. Orang-orang yang membongkar muatan jip itu adalah para dokter, ahli fisioterapi and teknisi prostetik dari rumah sakit-rumah sakit di Jakarta. Mereka semua adalah relawan. Mereka menggalang dana pribadinya untuk membiayai rehabilitasi anak-anak tersebut.

© UNICEF/IDSA/038/Estey
kirinya sudah pulih, tapi kaki kanannya masih bengkok. Alfian tahu bahwa penyangga kaki itu hampir tidak pernah dipakai. “Memang sulit, tapi tanpa penyangga kakinya tidak akan membaik,” katanya.

Dr. Marianna terlebih dulu memeriksa anak-anak, apakah ada tanda-tanda kaki anak-anak itu menjadi pulih, atau sebaliknya, justru menjadi lebih melengkung. “Semua tergantung orang tuanya dan bagaimana mereka mengusahakan anak-anak mereka. Kalau anak-anak tidak mengenakan penyangga kaki dari plastik atau tidak dilatih dengan benar, kelumpuhan mereka akan parah,” katanya.

Dokter itu senang ketika melihat Meli, 3, yang bisa menekuk lututnya dan berdiri berjinjit. “Padahal tiga bulan lalu, Meli tidak dapat berjalan sama sekali,” kata Marianna. “Ibunya sudah bekerja keras dan bahkan bermain bola dengan anaknya itu tiap hari,” imbuhnya.

Alfian adalah sang pembuat penyangga kaki itu. Ia bekerja di RSCM, Jakarta tempat ia biasa membuat anggota tubuh palsu bagi orang-orang yang mengalami kecelakaan. Saat ia bertemu anak penderita polio pertama, ia harus membuat cetakan untuk anggota tubuh yang lumpuh. Tugas itu secara mental melelahkan. Saat itu ia membuat pola cetakan untuk Ramdhan yang baru sehari merayakan ulang tahun pertamanya. Anak itu menangis dan tak mau lepas dari gendongan neneknya, Cia.

“Anak memang selalu menangis dan itu menyusahkan  saya,” aku Alfian. Sementara nenek Ramdhan mencoba menenangkan cucunya. “Saya yang membawanya ke sini, karena ibunya tidak kuat,” katanya berbisik.

Kemudian anak-anak itu pindah ke ruangan di dekatnya. Di ruangan tersebut ada lebih dari dua ahli fisioterapi yang berdiri menunggu. Mereka memeragakan cara bagaimana ibu-ibu itu harus memijat anaknya dan menggerakkan bagian tubuh anak mereka yang lumpuh. Jelas, anak-anak itu tidak senang dengan hal itu.

“Sulit melatih mereka saat menangis. Tapi kita harus mengajari mereka latihan penguatan. Misalnya bagaimana berdiri dari posisi duduk. Mereka harus disuruh latihan,” kata Budi, salah seorang ahli fisioterapi. “Anda harus punya strategi sendiri untuk menghadapi kesulitan mereka. Anda harus terbiasa dengan pekerjaan tersebut.”

 

 
unite for children