Kisah Nyata

Kisah nyata dari penjuru Indonesia

 

Mencegah Penularan HIV dari Ibu ke Anak

Kaibena Kulua adalah seorang ibu berusia 23 tahun dari Jayapura, provinsi Papua. Pada tahun 2005, ketika ia masih duduk di bangku kelas 3 SMA, ia mendapat sebuah berita yang mengejutkan: bahwa dirinya positif HIV. Selain menghadapi rasa takutnya sendiri, Kaibena juga harus menghadapi stigma dan diskriminasi dari keluarganya di rumah dan lingkungannya.

Melalui seorang dokter di rumah sakit setempat, ia pun belajar tentang program pencegahan transmisi HIV dari orang tua ke anak, yang bertujuan untuk mencegah penyebaran virus dari seorang ibu kepada anaknya melalui obat anti-retroviral (ARV) dan konseling.

Anak pertamanya lahir pada tahun 2006 melalui operasi caesar di sebuah rumah sakit di Jayapura. Kaibena menerima kotrimoksazol, dan hasil tes HIV anaknya adalah negatif. Kaibena telah mengonsumsi ARV sejak saat itu. Ia dianjurkan untuk tidak menyusui dan memberi susu formula untuk bayinya. Meskipun dia tidak tahu status anaknya selama 18 bulan lagi, ia yakin bahwa ia telah menurunkan kemungkinan transmisi virus secara drastis. Suhartono kini berusia enam tahun dan hidup sehat tanpa HIV.

Ia memutuskan untuk bersikap terbuka tentang kondisinya kepada komunitasnya yang terus bertanya-tanya mengapa ia menolak untuk menyusui. Dan sekali lagi, meskipun ia telah berani untuk mengungkapkan statusnya, ia harus menghadapi stigma dan diskriminasi.

Seperti banyak wanita hamil lainnya yang telah memperoleh manfaat dari program pencegahan transmisi dari ibu ke anak, ia mendapatkan sesi konseling bulanan di Puskesmas setempat dengan konselor yang telah dilatih secara khusus. Sesi ini antara lain memberikan informasi tentang kehamilan, diet, olahraga, menyusui dan HIV/AIDS. Sebuah support group yang terdiri atas orang-orang dengan HIV/AIDS di Jayapura senantiasa membantunya sehingga ia dapat merawat ketiga anaknya, membeli beras, serta susu formula.

Ia telah dua kali menikah kembali, dan kedua suaminya HIV-negatif.

Kaibena termasuk salah satu dari mereka yang beruntung. Ia menerima pengobatan dan anak-anaknya yang lain (berusia 4 dan 1 tahun) dari pernikahannya yang kedua dan ketiga, juga mendapatkan hasil tes negatif.

Papua dan Papua Barat (bersama-sama disebut sebagai Tanah Papua) terus menanggung beban epidemi AIDS yang terbesar di Indonesia.

Meskipun hanya terdiri dari 1,2% total penduduk Indonesia, sekitar 20% populasi orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) di Indonesia juga terdapat di kedua provinsi ini.

 

 
Search:

 Kirimkan artikel ini

unite for children