Kembali ke sekolah di Polman!
Setelah ayahnya meninggal dunia tiga tahun lalu dan ibunya harus pergi ke pulau lain untuk mencari nafkah untuk keluarga, Ernia, umur 13-tahun tinggal di desa di Kabupaten Polman Batetangnga di Provinsi Sulawesi Barat, terpaksa putus sekolah dan mengurus adik perempuannya dan tiga saudara laki-lakinya seorang diri. Setelah menghabiskan tiga tahun membesarkan adik-adiknya, dia merindukan masa kecilnya yang menyenangkan dulu. "Saya sangat ingin bermain dan pergi ke sekolah lagi," katanya. Meskipun makanan mereka seringnya hanya nasi saja, Ernia dan adik-adiknya tidak pernah mengeluh, karena mereka memahami keadaan. "Mereka begitu sabar dan akan makan apapun yang saya berikan kepada mereka, bahkan jika hanya beras," kata Ernia yang sangat bangga dengan adik-adiknya. Dua dari saudara laki-lakinya, Asri dan Asrul, yang berada di kelas kedua dan kelas empat sekolah dasar, sering harus bekerja, terutama selama liburan sekolah, untuk membantu keluarga bertahan hidup. Mereka mengumpulkan batu dari sungai dan menjualnya, dengan hasil sekitar 10.000 IDR (sekitar 1,10 USD) per minggu. Meskipun Pemerintah Indonesia berusaha untuk menyediakan pendidikan dasar untuk semua anak laki-laki maupun perempuan, Ernia bukan satu-satunya anak yang putus sekolah. Studi Anak Diluar Sekolah yand di dukung oleh UNICEF, mempelajari besarnya kesenjangan, hambatan, kesulitan dan kebijakan yang relevan dan program tentang anak diluar sekolah, menyoroti bahwa 2,5 juta anak usia 7-15 berada di luar sekolah di 2009, dengan sebagian besar putus selama transisi dari SD ke SMP. Salah satu faktor utama yang menghambat pencapaian target pemerintah untuk pendidikan dasar universal adalah rendahnya kualitas data yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi anak-anak yang tidak memiliki akses atau tidak menyelesaikan pendidikan dasar. Saat ini, data yang digunakan oleh Pemerintah sedang dikumpulkan dari tingkat sekolah, yang hanya dapat memberikan informasi tentang anak-anak di sekolah, tanpa informasi yang mungkin berguna tentang mereka yang tidak bersekolah. Karena itu, data yang akurat dan terkiri pada pengalaman pendidikan sehari-hari anak-anak dan kendala yang dihadapi di rumah tangga atau tingkat masyarakat sangat penting untuk mendukung peningkatan akses anak mendapat pendidikan berkualitas. Upaya tersebut juga dapat membantu pemerintah yang terdesentralisasi melakukan latihan perencanaan yang lebih baik dan lebih akurat untuk meningkatkan akses pendidikan dasar berkualitas untuk semua anak. Untuk tujuan ini, UNICEF telah mengembangkan Sistem Informasi Pendidikan Berbasis Masyarakat (CBEIS) bekerjasama dengan Pusat Data dan Statistik Pendidikan. CBEIS mengatasi perbedaan data tentang status pendidikan anak di tingkat masyarakat, mengidentifikasi anak diluar sekolah dan alasan mereka tidak dapat berpartisipasi di sekolah. Berkat dukungan dana tematik untuk Pendidikan Dasar dan Kesetaraan Gender, data CBEIS pada anak putus sekolah akan diperbarui di Kabupaten Polman. Hasilnya, 271 anak dari keluarga miskin dari 530 yang diidentifikasi telah keluar ini kemudian dapat kembali ke sekolah formal dan informal. Ernia adalah salah satu dari 271 anak-anak tersebut. Berkat CBEIS dia diidentifikasi dan dibantu untuk kembali ke sekolah. Dia menerima beasiswa dari pemerintah kabupaten untuk biaya sekolahnya, dan sebuah yayasan di kabupaten tersebut mengadopsi Ernia dan empat adiknya sebagai anak asuh, memungkinkan dia untuk kembali ke sekolah. Selama Upacara Kembali ke Sekolah yang diselenggarakan oleh pemerintah kabupaten bekerjasama dengan UNICEF, Ernia menceritakan kisahnya. Wakil kepala daerah dan pejabat tinggi lainnya sangat tersentuh dan benar-benar terkesan dengan kemauan yang kuat dan semangatnya untuk kembali ke sekolah. Untuk memastikan semua anak putus sekolah mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan, pemerintah daerah saat ini sedang menjajaki kemungkinan untuk mengalokasikan lebih banyak dana untuk memperbarui CBEIS di kabupaten lain dari Provinsi Sulawesi Barat dan untuk mengembangkan kebutuhan yang lebih banyak. Cerita Ernia juga telah memicu minat para wartawan dari televisi nasional yang menyiarkannya secara nasional, meningkatkan kesadaran betapa pentingnya adalah untuk mendukung anak-anak yang putus sekolah untuk kembali ke sekolah. Namun, yang lebih penting bagi Ernia dan saudara-saudara adalah bahwa siaran juga telah mencapai ibu mereka, yang memutuskan untuk kembali ke Polman untuk mengurus kelima anaknya.
|