Pasca 5 tahun: Menjaga kesehatan pasca tsunami Banda Aceh
Oleh : Rob McBride BANDA ACEH, 24 Desember 2009 — Dengan nyanyian nyaringnya orang bisa mengenali suara Misrina dan Bunga di antara keramaian anak-anak yang mengunjungi pusat kesehatan. Kini keduanya akan berulang tahun yang kelima. Mereka lahir beberapa minggu setelah tsunami. Misrina lahir di tenda rumah sakit dengan bantuan seorang dokter dari Rusia. “Ini Misrina Huwaida,” kata Salliati, perawat di puskesmas. “Ia lahir tanggal 13 Maret 2005. Temannya, Bunga Mafirah, lahir tanggal 15 April 2005.” Posyandu yang mereka datangi dikenal sebagai Posyandu Plus – sebuah pusat kesehatan dan pendidikan anak usia dini terpadu yang merupakan salah satu di antara sekian banyak pusat kesehatan yang didukung oleh UNICEF di daerah yang terkena bencana tsunami di Indonesia. Selain ditimbang berat badan dan diukur tinggi badannya, Posyandu Plus juga memberikan pelayanan vaksinasi. Di ruangan terpisah ibu-ibu yang sedang hamil mendapatkan pelayanan pemeriksaan kandungan dan konseling tentang ASI. Bagi Ainul Mariah pelayanan tersebut sangat bermanfaat. Lahir tanpa lengan ia mampu mengatasi kekurangannya dan menjadi ibu bagi Zaidah, bayi perempuan berumur 18 bulan yang sehat dan lincah.
Sementara Ainul bercakap-cakap, Zaidah bermain dengan bonekanya dan menggambar dengan kertas dan krayon di pangkuan ibunya. Sebelum tempat ini dibangun saya tidak mungkin dapat melahirkan dan merawat bayi yang sehat,” kata Ainul. Sekolah-sekolah yang dihadiri generasi anak-anak pasca tsunami menjadi tempat yang lebih sehat. Banyak perhatian dilimpahkan pada penyediaan air bersih dan fasilitas kebersihan di sekolah-sekolah ini. Di SD Mata Ie, para kontraktor yang bekerja dengan UNICEF menyelesaikan sumur bor dan menyebabkan keceriaan anak-anak yang bermain dengan air.
Menurut staf UNICEF, Teuku Reza, keceriaan anak-anak sangat dapat dimengerti. Untuk memperbaiki perilaku ini di tingkat masyarakat, UNICEF telah mendukung banyak inisiatif termasuk fasilitas pengolahan limbah besar di Jawa di Banda Aceh. Dengan bimbingan Teuku Reza dan insyinyur air lokal, tim ini dapat memperlihatkan seluruh proses pengolahan limbah. Puncaknya adalah sisa olahan yang cukup bersih untuk dikembalikan kepada lingkungan dan memupuk daerah sekitarnya. Nun jauh di sana, terlihat kilauan air laut dari arah pantai, arah tsunami datang . Bagi anak-anak yang lahir sejak bencana bersejarah itu, perbaikan ini berarti mereka dibekali awal hidup yang paling baik.
|